???????

Apa yang kutahu tentang cinta? Tak ada sedikitpun gambaran di hatiku bagaimana rasa itu bisa berlabuh, bagaimana rasa itu bisa menetap di hatiku, sekeping hati yang menggantungkan harapan hanya di ujung-ujung senja yang parau. Cinta bukan benda kongkrit, dan itulah yang membuatku bingung. Sesuatu yang abstrak tak mempunyai patokan yang jelas untuk sebuah penilaian, pun untuk sebuah definisi. Setiap kepala berhak mengeluarkan penilainannya, berhak menjabarkan seperti apa cinta. Arrghh..aku malah makin bertambah pusing. Tanpa pilihan mungkin kita akan linglung, tapi terlalu banyak pilihan juga malah membuatku  bingung. Sekali lagi apa yang kutahu dari cinta, sekalian definisinya pun tak pernah bisa kujabarkan dengan tepat. Menurut siapa? dalam kondisi seperti apa cinta itu berada ketika orang-orang mulai memunculkan pendapat mereka? Tak ada yang tahu. Cinta itu relatif, segala sesuatu yang abstrak itu relatif. Sejauh mana kita bisa menjabarkan definisinya, tergantung sejauh mana kita terlibat di dalamnya. Ada satu hal yang baru kusadari, tak ada patokan untuk semua hal yang abstrak, tak ada batas untuk sesuatu yang relatif. Dan sebagai hasilnya, sampai sekarang aku tak perna menjabarkan cinta dengan seksama, bukan tak bisa, tapi aku tak yakin definisi itu bisa berlaku pada semua orang.

Cinta tak meminta izin ketika ia datang, ia pun tak pernah berpamitan ketika ia pergi. Baik atau buruk, aku tahu itu tergantung dalam kondisi seperti apa cinta datang di hati orang-orang. Sekali lagi aku bertanya, apa yang kutahu tentang cinta? mungkin hanya sedikit, dan mungkin tak ada sama sekali. Haruskah aku mendatangi semua orang hanya untuk tahu tentang seperti apa cinta? Haruskah kubaca roman-roman tebal yang penuh derai airmata karena cinta, hanya untuk tahu seperti apa ci

Leave a comment »

Jika Hawa Bukan Untuk Adam

Adam memperhatikan setumpuk tugas yang tergeletak di atas meja belajar. Tangannya meraih salah satu buku yang ada di sana, membolak-baliknya, dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur. Laki-laki berkacamata itu menghela nafas berat, membayangkan setumpuk tugas yang belum rampung dikerjakannya. Gara-gara ikut demo tempo hari, tugas-tugas kuliahnya jadi terbengkalai. Sekarang dia harus menyelesaikannya secepat mungkin, atau dosen yang terkenal galak itu akan memberinya nilai “C”, nilai yang pantang untuk Adam.

Dia menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar kostnya yang sudah mulai dipenuhi sarang laba-laba. Kesibukan membuatnya lupa untuk memperhatikan kamar kesayangannya itu. Pandangannya beralih ke salah satu sudut di kamarnya, disana ada sebuah lemari kecil. Lemari itu digunakan oleh Adam untuk menyimpan buku-buku kuliahnya dan buku-buku favoritnya. Lemari itu sudah tidak muat untuk menampung buku-buku Adam. Dia berencana untuk membeli lemari yang lebih besar, tapi rencana itu disimpannya dalam-dalam. Akan lebih bijak kalau uang itu digunakan untuk keperluan kuliahnya. Walaupun Adam berasal dari keluarga berada, dia tahu bagaimana caranya menghargai uang. Pemborosan adalah musuh bagi Adam.

Terdengar bunyi telpon dari ruang tamu, Adam hanya menggerakkan alisnya. Dia terlalu malas untuk mengangkat telpon. Dia hanya ingin beristirahat siang ini, sebelum nanti malam menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang belum rampung itu. Telpon berhenti berbunyi, Adam mendengar Fahri, teman sekamarnya yang mengangkat telpon. Adam menutup matanya, berharap rasa kantuk datang menyergap dan dia dapat tidur untuk beberapa saat. Tapi ketukan di pintu membuatnya terpaksa membuka matanya.

“Dam..Adam ada telpon tuh, dari ibu kamu.”ujar Fahri sembari terus mengetuk pintu kamar.

Adam mengucek-ngucek matanya, menghilangkan rasa kantuk yang mulai menyerang. Dia bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa.

“Syukron ya”ujar Adam pada Fahri sembari setengah berlari menuju ruang tamu. Adam cemas, tak biasanya ibunya menelpon pada jam-jam seperti ini.

“Hallo, Assalamu’alaikum..”ucap Adam

“Wa’alaikum salam, Dam”jawab ibunya di ujung telpon.

“Ada apa bu? Ada yang penting? Ibu gak kenapa-kenapa khan?”Adam menghujani ibunya dengan pertanyaan.

Ibunya tersenyum”Alhamdulillah ibu baik-baik aja kok. Kenapa kamu keliatan panik?”tanya ibunya.

“Enggak, cuma tumben-tumbenan aja. Ibu nelpon jam-jam segini. Biasanya selalu nelpon malem atau pagi.”jawab Adam.

“Oh..gitu toh. Nggak Ibu cuma mau tanya kapan kamu mau pulang ke Bogor?”tanya ibunya.

Adam mengerenyitkan keningnya, “klo gak ada halangan sekitar seminggu lagi. Minta doanya aja bu supaya urusan Adam disini cepat selesai. InsyaAllah klo semuanya sudah selesai, Adam pasti pulang ke Bogor”jawan Adam

“Janji ya kamu akan pulang secepatnya. Ibu kangen lagipula ibu punya kejutan buat kamu.”jelas ibunya.

“Adam juga rindu sama ibu. Eh, Kejutan, kejutan apa bu?”tanya Adam penasaran.

“Kamu ini, ya klo dikasih tahu sekarang namanya bukan kejutan dong. Pokoknya klo mau tahu kejutannya apa, kamu harus segera pulang ya. Ibu sudah kangen sama kamu.” Jawab ibunya sembari tersenyum.

Adam mengangguk-anggukkan kepalanya, sebenarnya dia juga sudah rindu dengan kampung halamannya. Namun tugas perkuliahan yang padat itu memaksanya menunda keinginannya sampai minggu depan.

“”InsyaAllah bu…”janji Adam.

“Ibu tunggu ya, ya udah ati-ati disana, jangan sampai lupa shalat yang lima waktu. Jaga juga kesehatan badan jangan sampai kesibukan bikin kamu sakit. Klo ada apa-apa telpon ibu ya”papar ibunya lembut.

Adam tersenyum, “Iya bu..insyaAllah.”

“Selesain urusan kamu disana dan cepet pulang. Nanti ibu masakin makanan favorit kamu”kata ibunya.

“Beres Boss, uppss,, ibuku sayang”canda Adam.

“Kamu ini ada-ada aja, ya udah Assalamu’alaikum”ujar ibunya

“Wa’alaikumsalam warahmatullah”jawab Adam menutup pembicaraan diantara mereka.

Dengan sekali gerakan Adam menghempaskan tubuh jangkungnya ke tempat tidur. Rasa kantuk yang tadi sempat menyerangnya sekarang menguap sudah. Pikirannya menerawang, membayangkan kampung halamannya yang sudah satu tahun ini tak dia kunjungi. Kesibukannya sebagai mahasiswa tingkat 2 sekaligus aktivis dakwah kampus membuatnya tak punya cukup waktu untuk sekedar melepas rindu bersama keluarganya di Bogor. Ditambah lagi dengan jarak Semarang-Bogor yang tak memungkinkannya untuk melakukan perjalanan pulang-pergi. Mengingat kampung halamannya memunculkan beragam kenangan di benak laki-laki itu. Adam kecil menghabiskan masa kecilnya yang bahagia disana. Memanen ladang sayur, mencari ikan di sungai, bermain layangan di tanah lapang belakang rumah, sampai berlomba sepeda dengan teman-temannya. Dia tidak akan pernah melupakan semua kenangan itu, apalagi di kampung itu tinggal keluarga yang selalu memberikan dukungan untuknya.

Adam beringsut dari tempat tidurnya. Membolak-balik mencari sesuatu di lemari buku kecilnya. Dia menemukan apa yang dicarinya, sebuah kertas karton yang kemudian dibentangkannya diatas lantai. “Target yang Ingin Dicapai” begitulah judul tulisan yang ada diatas karton itu. Disana Adam menuliskan semua target yang ingin diwujudkannya di masa depan. Adam membaca setiap target yang ditulisnya dengan teliti. Setiap target yang telah dicapainya dicoret dengan tinta merah. Kenapa harus merah? Karena menurut Adam, merah adalah lambang semangat yang menggebu-gebu dan tekad yang kuat. Dan tanpa dua hal diatas juga izin dari Allah, mungkin Adam tak akan pernah mencapai target yang ingin dicapainya.

Masih ada banyak target yang belum dicoret dengan tinta merah, itu artinya ada banyak target yang masih harus dia kejar dan dia capai. Lulus, cari kerja, khatam juz 22, menikah, dsbg dengan seksama Adam membaca setiap target yang belum dicapainya. Adam mengerenyitkan keningnya ketika membaca kata menikah. Entah kapan target itu akan tercapai. Kadang-kadang Adam merasa bosan dengan kesendiriannya itu. dia ingin ada seorang pendamping yang menemaninya. Tapi melihat kesibukan kuliahnya saat ini, dia mencoba menekan keinginan itu sedalam-dalamnya. Sekarang bukan saatnya untuk memikirkan pernikahan, studinya jauh lebih membutuhkan perhatiannya. Lagipula belum ada perempuan yang berkenan di hatinya. Entah selera Adam yang terlalu tinggi, atau memang Tuhan belum memperlihatkan jodoh yang tepat untuknya. Tapi untuk Adam itu bukanlah suatu masalah, karena dia yakin jodohnya sedang menunggu kedatangannya di suatu tempat.

Waktu seminggu itu digunakan Adam dengan sebaik-baiknya. Tak ada lagi waktu yang digunakannya untuk bersantai. Dia ingin segera menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya, dan pulang ke Bogor. Liburnya yang dua minggu itu dirasanya cukup untuk menumpahkan kerinduannya pada keluarganya.

Sabtu sore bis yang ditumpangi Adam tiba di Bogor. Dengan kepenatan yang masih menjalari tubuhnya Adam menyetop angkot yang akan membawanya pulang ke kampung halamannya. Jalan-jalan yang dilewatinya tidak terasa asing bagi Adam, semuanya masih tetap sama. Hanya ada beberapa bangunan yang terasa baru untuk Adam. Aroma tanah kampung halaman yang khas masuk ke dalam penciuman Adam, membelainya dengan ketenangan magis yang membuat hatinya merasa damai. Sesekali mobilnya bergoyang hingga membuat kepalanya terantuk penyangga yang ada di jendela angkot. Setelah 15 menit perjalanan, Adam melihat sebuah rumah berpagar hijau di persimpangan jalan, rumah yang begitu familiar untuknya. Rumah tempat dia dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtuanya.

“Kiri pir..”ujar Adam lantang.

Mendengar perkataan Adam supir angkot itu menghentikan mobilnya. Dengan sigap Adam turun sambil membawa barang bawaannya. Setelah menerima uang kembalian, diayunkannya langkah menuju rumah itu. Setelah tiba di depan pintu pagar, Adam memandang setiap sudut dari rumah itu. Seulas senyum terukir di wajahnya.

“Tidak ada yang berubah,,,,,semuanya tetap sama”ucapnya lirih.

Dengan langkah yang pasti, Adam melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Seorang gadis kecil berumur 7 tahunan memekik kegirangan melihat kedatangannya.

“Kak Adam…Kak Adam ya? Fitri kangen…..banget sama kakak”ujar anak itu manja sembari menarik-narik tangan Adam.

Adam tersenyum, diusapnya jilbab putih adik kesayangannya itu, kemudian dipeluknya anak itu dengan pelukan sayang seorang kakak.

“Kakak juga kangen sama Fitri, ibu sama bapa dimana? Kok sepi?”tanya Adam seraya menjawil pipi tembem adiknya itu.

Fitri mengelak sambil tertawa. Dituntunnya tangan Adam menuju halaman belakang.

“Bu….ibu… Kak Adam pulaaaaang”teriak Fitri, suaranya sampai terdengar ke seluruh sudut rumah.

Adam tersenyum,”Fitri sayang, klo mau manggil ibu sama bapa jangan teriak-teriak ya. Itu kurang sopan. Janji nanti gak akan kayak gitu lagi?”ujar Adam seraya mengangsurkan kelingking jari tangan kanannya ke hadapan Fitri.

Bocah kecil itu menutup mulutnya, dengan malu-malu dikaitkannya jari kelingkingnya di kelingking kakaknya.

“Maaf ya Kak, Fitri janji nanti gak akan kayak gitu lagi. Kakak mau maafin Fitri khan?”tanya Fitri. Matanya yang bening menatap mata Adam lekat-lekat.

Adam menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Melihat mata bening adiknya itu, airmata menggenang di mata Adam. Sudah satu tahun ini si kecil itu tidak mendapatkan kasih sayang darinya. Adam berjanji pada dirinya sendiri, waktu liburannya kali ini akan digunakannya untuk mengasuh Fitri. Adam tidak mau kedekatannya dengan adiknya menjadi renggang karena mereka tinggal berjauhan.

Mendengar suara Fitri dan Adam, seorang wanita separuh baya yang mengenakan jlbab biru tua menghampiri keduanya dengan senyum yang terkembang. Dengan tergopoh-gopoh wanita itu memeluk tubuh jangkung Adam.

“Alhamdulillah…kamu sudah pulang Dam. Dari tadi ibu khawatir kenapa kamu belum sampai, tapi sekarang…”wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya. Keharuan yang besar tengah menyelimutinya. Dirabanya wajah anaknya dengan tangis yang tak berhenti mengalir dari kedua matanya, tangis seorang ibu yang bahagia melihat putra yang diharapkannya ada di hadapannya.

“Sekarang ibu seneeeng banget liat kamu ada disini” lanjutnya diantara isak tangisnya.

“Sudah bu, Adam sudah ada disini khan. Ibu gak usah nangis lagi. Nanti cepet tua lho.”rayu Adam untuk menghibur ibunya.

Bu Fatimah, ibunya tertawa. Beliau menjawil hidung Adam dengan sayang.

“Kamu tuh ya. Bercanda terus, ibu memang sudah tua kok. Buktinya anak ibu sudah menjadi laki-laki dewasa seperti ini. Sudah bukan bayi yang masih bisa ibu gendong di pangkuan ibu lagi khan?.”ujar Bu Fatimah sembari membelai rambut Adam.

Adam menatap mata tua itu dengan rasa haru yang membuncah. Wanita yang ada di hadapannya itu adalah wanita paling menakjubkan untuk Adam. Kasih sayangnya pada Adam tak bisa terbalas dengan apa pun. Diambilnya tangan ibunya itu, diciumnya tangan yang mulai penuh dengan tanda-tanda penuaan itu dengan takzim. Kehangatannya meresap hingga ke jantung Adam, membuatnya kembali menjadi bayi kecil yang rindu akan kasih sayang ibu, kalau tak ingat umur dia ingin sekali terus-menerus dibelai oleh tangan hangat itu. Bagi Adam, kasih sayang ibunya adalah satu hal yang tidak pernah mau dia tukarkan dengan apapun, bahkan walaupun dengan dunia dan seisinya.

“Ibu masih muda kok, kalau kita jalan-jalan keluar orang-orang akan menyangka bahwa ibu adalah kakak Adam”jawab Adam.

Bu Fatimah tertawa, terlihat semburat kebahagiaan di wajah lelahnya.

“Kamu ini ada-ada aja, udah istirahat dulu sana. Kamu khan masih cape, ibu mau nyiapin makanan dulu, sekalian nyusul bapakmu”ujar ibunya sembari mencubit tangan Adam gemas.

“Lho, bapa mana bu. Pantesan Adam tadi gak liat bapa, emangnya bapa kemana?”tanya Adam.

“Bapakmu ada di kebun. Dia lagi ngontrol panen sawi hari ini. Alhamdulillah..hasilnya menguntungkan”jawab ibunya.

Adam mengangguk-anggukkan kepalanya,”Iya, Alhamdulillah ya bu.”

“Ya sudah istirahat sana, ibu mau ke dapur dulu”ujar bu Fatimah.

“Eh, bu kebun yang di deket kolam Pak Darma khan?”tanya Adam.

“Iya, memangnya kenapa?”ibunya balik bertanya.

“Biar Adam yang susul deh”jawab Adam

“Kamu ini gak cape apa, udah istirahat aja. Biar nanti ibu yang nyusul bapa, ato ibu nyuruh Fitri buat nyusul bapakmu itu”jawab ibunya

“Enggak apa-apa kok bu, biar Adam yang susul”ujar Adam, meminta izin dari ibunya.

Bu Fatimah mengerenyitkan keningnya, “ya udah klo itu mau kamu. Jangan lama-lama, bilang sama bapakmu itu cepet pulang ke rumah, ibu masak yang special hari ini” seru bu Fatimah.

Adam menganggukkan kepalanya, mengiyakan.

Fitri menarik-narik ujung kemeja Adam,

“Aku ikut ya Kak, aku juga mau maen ke kebun bapa” rajuk Fitri.

Dengan sigap Adam menggendong gadis kecil itu di bahunya,

“Ok, penumpang sudah siap? Pesawat Boeing 212 akan segera berangkat. Mohon semua penumpang mengenakan sabuk pengaman”ujar Adam seraya menirukan gerakan pesawat yang akan terbang.

Fitri tertawa cekikikan, tangan kecilnya menggelayut erat di leher Adam.

“Nama pesawatnya kok kayak di film Wiro Sableng ya kak hehe….”ujar Fitri

Adam melintangkan telunjuknya di bibir Fitri,

“Penumpang dilarang protes, pesawat sebentar lagi akan terbang. Siap?”canda Adam

Fitri mengacungkan ibu jarinya,”Siaaaaaap…..”

Adam berjalan menirukan sebuah pesawat yang sedang terbang dengan Fitri di gendongannya. Sesekali mereka berhenti untuk melihat kebun-kebun sayur yang terhampar hijau di hadapan mereka. Kebun-kebun itu terlihat seperti permadani hijau yang dibentangkan dari langit. Adam bertasbih memuji kebesaran Allah, melihat ciptaanNya yang begitu luar biasa itu membuat Adam menyadari betapa kecilnya dirinya bila dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Adam menghirup udara sore itu dalam-dalam, memasukkannya ke dalam paru-paru dan menghembuskannya dengan diakhiri ucapan tahmid.

“Kak Hawa…”seru Fitri

Teriakan Fitri sontak membuat Adam yang tengah memandang hamparan perkebunan yang ada di hadapannya berpaling pada Fitri.

“Ada apa Fit ?” tanya Adam.

Fitri mengarahkan telunjuknya ke arah seorang perempuan yang sekarang ada di hadapan mereka.

“Kak Hawa, Kak Adam udah pulang lho..”seru Fitri sembari berlari kecil menuju perempuan yang dipanggilnya dengan sebutan Kak Hawa.

Adam hanya terdiam. Dipandangnya perempuan yang ada di hadapannya itu sekilas. Dia tidak akan lupa dengan gadis itu, Hawa, teman sepermainannya sejak kecil. Usia mereka terpaut 3 tahun, sekarang Hawa duduk di kelas 3 SMA. Adam melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada Hawa setelah selama setahun mereka tidak bertemu. Hawa sekarang sudah menjadi seorang perempuan yang beranjak menjadi dewasa. Dia bukan lagi gadis kecil yang bisa diajaknya bermain dan berlari-larian diatas pematang sawah. Tapi ada satu hal yang membuat Adam terkejut, pakaian Hawa memang tertutup, dia mengenakan kaus panjang yang longgar dan rok yang menutupi kakinya, tapi Hawa membiarkan rambut indahnya tergerai di bahunya, Hawa belum berjilbab!

Seharusnya Adam memang tidak terkejut dengan hal ini, sebelum kepergiannya pun Hawa belum berjilbab, tapi dia tak mengira kalau sampai sekarang gadis itu belum memakai jilbab. Hawa menyunggingkan seulas senyum pada Adam, Adam membalasnya dengan anggukkan kepala.

“Mas Adam, kapan dateng dari Semarang?”tanya Hawa dengan muka berbinar-binar.

“Belum lama, sekitar setengah jam yang lalu kok”jawab Adam.

“Oh…..kuliahnya gimana Mas? Jadi mahasiswa asyik ya?”tanya Hawa lagi. Kali ini tatapannya menerawang memandang deretang gunung yang ada di hadapannya.

Adam mengangkat bahunya”Yahh..ada suka dukanya juga sih”ujarnya

Hawa tertawa renyah sembari mengerlingkan matanya pada Adam

“Aku juga pengen cepet-cepet jadi mahasiswa lho Mas, kayaknya asyik ya”ucapnya riang.

Adam hanya tersenyum simpul, “oh ya Wa, Mas mesti nyari bapa dulu nih. Nanti klo kamu punya waktu maen aja ke rumah Mas.”ujar Adam

“Iya, aku pasti maen kesana”jawab Hawa.

“Kak Hawa, Fitri tunggu ya. Nanti kita main boneka-bonekaan lagi!”tambah Fitri.

Hawa menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Iya, nanti ya..”

Adam kembali menggendong Fitri, kali ini dengan berpura-pura menjadi kuda balap. Fitri dan Hawa tertawa cekikikan. Setelah agak jauh, Adam menengok ke arah Hawa sembari melambaikan tangannya

“Salam buat ibu sama bapa kamu ya, bilangin Mas kangen sama pepes ibuatan ibu kamu”teriak Adam.

Hawa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tanpa Adam sadari, ada setitik airmata yang menggenang di mata Hawa. Airmata atas kalimat yang diucapkan oleh Adam.

Fitri menepuk pundak Adam.”Kakak kok bikin Kak Hawa sedih.”serunya

Adam berhenti sesaat, dia menengok ke belakang,”Lho, emangnya salah kakak apa?”tanya Adam penasaran.

“Kakak belum tahu kalau ibunya Kak Hawa sudah meninggal ya.”ujar Fitri

Adam tertegun sejenak, berita itu cukup mengejutkannya.

“Innalillahi wa innailaihi raaji’uun, kapan Fit? kakak sama sekali belum tahu kok. Jawab Adam.

“2 bulan yang lalu”jawab Fitri

“Kakak mesti minta maaf sama Kak Hawa ya, dia itu baiiiik banget. Dia juga sering maen sama Fitri kok.”tambahnya

Adam mencubit pipi tembem adiknya, “Iya adikku yang manis”.

Matahari mulai turun ke peraduannya. Dua kakak beradik itu tertawa gembira dan bergurau sepanjang jalan. Menumpahkan kerinduan yang selama ini terpisahkan oleh jarak.

Malamnya cuaca cukup dingin. Cuaca kota Bogor yang dingin dan berkabut tak terasa biasa lagi untuk Adam. Adam yang sudah mulai terbiasa dengan udara kota Semarang yang panas, lumayan merasa kedinginan malam itu. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. Seusai makan malam tadi Adam memutuskan untuk menghirup sedikit udara segar di luar, tapi menyadari malam itu begitu dingin, Adam mengurungkan niatnya. Ditutupnya pintu rumah dan jendela rapat-rapat untuk menghalau angin yang masuk.

“Dam, sini Dam ada yang mau bapa sama ibu omongin”panggil bapanya dari ruang keluarga.

“Iya, sebentar pa”ucap Adam sambil melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.

Bu Fatimah sedang menyelesaikan rajutan di kursi paling pojok, sedangkan Pak Umar, ayahnya sedang membaca koran yang tadi dibawa Adam. Melihat kedatangan Adam laki-laki itu melipat korannya.

“Duduk Dam, ada yang mau bapa dan ibu bicarakan”ujar Pak Umar

Adam menurut. Dipilihnya kursi yang berada disamping kursi ayahnya.

“Dam,,mumpung kamu ada di rumah, Bapa mau ngasih tahu sesuatu sama kamu. Bapa pikir ini waktu yang tepat untuk memberitahu kamu. Bapa tidak mau mengabarkan hal sepenting ini lewat telpon”ujar ayahnya, sekali waktu dia menghisap cerutu yang ada di atas asbak.

“Tentang apa pak?”tanya Adam penasaran.

“Kamu tahu Hawa khan? Bagaimana pendapat kamu tentang Hawa?”Pak Umar mengajukan pertanyaan yang membuat Adam terkejut.

“Sebenarnya maksudnya apa pak?”tanya Adam lagi.

“Jawab dulu pertanyaan bapak, nanti bapak akan menjawab pertanyaan kamu.”jawab Pak Umar.

“Hawa gadis yang baik, dia periang. Memangnya kenapa pak”tanya Adam makin penasaran.

“Cuma itu?”pancing Pak Umar.

“Ya..Adam akui dia juga cantik. Terus sekarang hubungannya apa?”Adam kembali bertanya.

Pak Umar menghela nafas berat, “ Dam, kamu khan sudah tahu kalau ibu sama bapa ini sudah tua. Kakakmu Nurul sudah menikah, tapi sampai sekarang dia belum punya anak, padahal bapa sama ibu udah pengen nimang cucu. Jadi, bapa pikir apa salahnya klo kamu dan Hawa yang memberikan cucu untuk kami.”paparnya

Adam terkesiap. Dia terkejut dengan penjelasan ayahnya.

“Maksud bapa, Adam harus menikah dengan Hawa?”tanya Adam tak percaya.

“Tidak ada salahnya khan, kalian sudah saling mengenal sejak kecil. Lagipula Hawa sebentar lagi lulus SMA. Kamu bisa nikah sama dia setelah dia lulus. Kamu bisa tetap ngelanjutin kuliah kamu ditambah kamu akan punya istri yang bisa ngurus semua keperluan kamu, iya khan?”bujuk Pak Umar.

Adam menggelengkan kepalanya. “Pak, Adam belum mau menikah sekarang-sekarang, Adam masih mau fokus kuliah. Adam tidak mau dipusingkan dengan masalah-masalah seperti itu.”tolak Adam

“Hawa tidak akan nyusahin kamu Dam, dia anak perempuan yang baik. Dia selalu menghibur kalau ibu ingat sama kamu. Ibu juga sudah menganggapnya seperti anak ibu sendiri, kasihan dia ibunya sudah meninggal. Dia sekarang hanya punya bapaknya saja”timpal Bu Fatimah. “Lagipula bapaknya Hawa juga sudah setuju dengan perjodohan ini.”tambahnya.

“Bu,,,,kalau ibu suka dengan Hawa, bukan berarti Adam juga harus khan? Hawa gadis yang baik, dia periang, tapi dia bukan tipe Adam bu. Lagian dia belum berjilbab”papar Adam.

Bu Fatimah menghentikan aktivitasnya,”Ibu tahu, justru itu kewajiban kamu nanti sebagai suami untuk meluruskan dia. Ibu yakin dia anak yang penurut, dia pasti mau memakai jilbab.”jawabnya

“Tapi bu,,,Adam ingin lulus kuliah dulu. Adam belum mau nikah. Adam mohon ibu dan bapa mengerti keputusan Adam. Adam juga hanya menganggap Hawa hanya sebagai adik, tak lebih”ucap Adam dengan tegas.

“Adam..”suara ayahnya meninggi,”Bapa sama ibu sudah memilihkan jodoh yang baik untuk kamu. Kenapa kamu malah menolak? Soal nikah bisa kapan-kapan, yang penting kamu setuju dulu dengan pilihan kami.”lanjutnya

“Tapi pa,,,”Adam bermaksud menyanggah perkataan bapaknya.

“Sudah tak usah tapi-tapian, sekarang kamu istirahat sana. Pikirkan baik-baik, bapak minta jawaban kamu secepatnya”sergah ayahnya. Mengakhiri percakapan mereka bertiga.

Adam melangkah ke kamarnya dengan gontai. Kejutan yang dikatakan ibunya ternyata perjodohannya dengan Hawa. Dia membuka jendela yang ada di kamarnya, berharap angin malam yang dingin akan meniup kekalutannya malam ini. Apa jawaban yang harus dikatakannya pada ayahnya? Dia belum siap untuk menikah. Dia tidak punya perasaan apa-apa pada Hawa, gadis itu terlalu kekanak-kanakkan untuknya.Adam menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, sambil memandang atap pikirannya menerawang, mencari kata dan alasan yang tepat untuk menolak perjodohan itu

Sementara itu di waktu yang sama Hawa tengah memandangi foto Adam, foto yang diam-diam diambilnya sebelum Adam kuliah di Semarang. Di depannya tergeletak sebuah buku diary berwarna biru tua. Buku itu sudah hampir setengahnya terisi, dan seluruhnya adalah luapan perasaan cintanya pada Adam, dan sekarang Hawa bermaksud menulisinya lagi. Selama menulisi buku itu bibir Hawa tak berhenti menyunggingkan senyum, pertemuannya tadi sore dengan Adam membawa kebahagiaan yang besar untuknya., hingga Sang senyum seakan tak mau lepas dari bibirnya. Dibacanya kembali apa yang sudah ditulisnya,

Matahariku…….

Kau datang sore ini,

Seperti biasa, kau datang dengan hangatmu yang membuat aku -bumimu-

Merasa hidup lagi hari ini.

Matahari…

Bukankah kau adalah matahari?

Yang memberi kehidupan pada bumi

Yang memberi terang pada yang gelap

Yang memberi pepohonan pada yang gersang

Yang memberi ramai pada senyap

Dan yang memberi hangat pada kebekuan?

Matahari…

Aku adalah bumi yang menunggu sinarmu

Aku adalah bumi yang mengelilingimu

Tak perduli berapa banyak bintang yang beredar,

Bumi tetap mengelilingi matahari..

Bumi tetap mencintai matahari..

Seperti aku, bumimu yang selalu mencintaimu

Hawa tersenyum simpul, rasa cintanya pada Adam tak bisa dia ungkapkan melalui kata-kata seluruhnya. Dia mencintai Adam sejak kelas 3 SMP, dan terus menyimpan perasaan itu sampai sekarang. Ketika diberitahu bahwa dia akan dijodohkan dengan Adam, Hawa tidak bisa mengatakan sebesar apa kegembiraannya saat itu. Salah satu impiannya adalah menjadi istri Adam, dan sekarang impian itu akan terwujud. Sesuatu yang selama ini hanya dianggapnya mimpi belaka ternyata sekarang dapat terwujud. Hari-hari Hawa diliputi oleh kegembiraan, setiap hari dia mendoakan pertemuannya dengan Adam. Dan tadi sore adalah perwujudan doanya yang dikabulkan oleh Allah. dia bertemu dengan laki-laki itu, laki-laki yang sudah mencuri hatinya.

Hawa sudah suka sama kamu sejak lama Dam. Dan ibu pikir kamu juga bisa punya perasaan yang sama. Dia gadis yang baik,dia cocok untuk menjadi menantu keluarga kita. Sebenernya apa yang kurang dari Hawa? kata-kata ibunya tadi pagi sampai sekarang masih terngiang-ngiang di telinga Adam. Apa yang kurang dari Hawa? Pertanyaan itu sekarang memenuhi pikirannya. Adam tahu Hawa gadis yang baik, tapi terus terang dia tidak suka dengan beberapa sifat Hawa. Hawa terlalu periang, pengetahuan agamanya pun dibawah pengetahuan perempuan-perempuan berjilbab yang biasanya dia lihat berseliweran di masjid kampusnya, mungkin standar itu memang terlalu tinggi untuk dicapai oleh Hawa, tapi itulah masalahnya, dengan kata lain, standar Adam adalah para akhwat-akhwat berjilbab yang notabene mahasiswa-mahasiswa kota dan aktivis, bukan pelajar SMA biasa seperti Hawa. Lagipula dia belum memakai jilbab.

Sulit bagi Adam untuk menerima keputusan orangtuanya itu. Dia memutar otak mencari kata yang tepat untuk membujuk orangtuanya agar membatalkan perjodohan ini. Hawa sama sekali bukan tipenya !.

Tanpa terasa kedatangan Adam di rumah itu sudah mencapai hari keempat, dan selama 4 hari itu ayahnya terus membujuk Adam agar mau dijodohkan dengan Hawa. Semakin ayahnya memintanya untuk menerima keputusan itu, semakin besar penolakan yang dilakukan oleh Adam. Dia tidak ingin menjadi anak yang durhaka pada orangtuanya, tapi dia tidak bisa menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya.

“Cinta itu bisa datang setelah kalian menikah Dam. Ibu yakin Hawa bisa membuat kamu jatuh cinta. Jalani saja dulu, ibu tahu kalian akan cocok”ujar ibunya sekali waktu.

Tapi bagi Adam pernikahan bukanlah main-main. Dia tidak ingin mencoba-coba, terus menjalankannya bila itu dapat diterimanya, dan meninggalkannya bila itu tak berkenan di hatinya. Bagi Adam pernikahan itu sakral. Perlu perhitungan dan pemikiran yang matang untuk memutuskan hal itu. Pernikahan adalah masalah penyatuan dua orang manusia, dua kepala, yang berarti ada dua pemikiran. Dan menurut Adam pernikahan itu akan berjalan lancar jika dua orang itu mempunyai kepentingan yang sama, pemikiran yang sama, atau hampir sama. Adam memberikan penilaian sepihak pada Hawa, menurutnya pemikirannya dan pemikiran Hawa itu berbeda dalam banyak hal. Adam menginginkan seorang pendamping yang tahu tentang dunianya, mengerti tentang dakwah yang sedang dilaksanakannnya, dan kalau boleh dia berharap, dia ingin jodohnya itu adalah anggota dunia itu sendiri. Para perempuan-perempuan berjilbab panjang yang menyuarakan hal yang sama dengannya.

Waktu berlalu begitu cepat, ini sudah hari keenam semenjak kedatangan Adam. Dan selama enam hari itu Adam benar-benar merasakan kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama tak dirasakannya. Pepatah-pepatah ayahnya tentang kehidupan, bagaimana menjalaninya dan bagaimana meraihnya sangat mengena di hati Adam. Ayah adalah sosok seorang murabbi bagi Adam, sosok seorang ayah akhir zaman yang berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk keluarganya. Adam tidak pernah menentang keinginan ayahnya, tapi untuk masalah jodoh itu lain hal. Adam sudah dewasa, dia mampu mengambil keputusan yang dianggapnya baik untuknya. Bukan berarti dia menghiraukan keinginan ayahnya, tapi sebagai laki-laki tentunya dia ingin menentukan sendiri calon pendamping hidupnya.

Sehari sebelumnya Hawa datang ke rumah mereka. Dari sikap Hawa padanya Adam tahu kalau Hawa sudah tahu tentang rencana perjodohan mereka. Gadis itu selalu tersenyum dan memandang Adam dengan kemalu-maluan. Adam hanya bersikap biasa saja, dia pun hanya menjawab jika diperlukan. Adam berusaha terlihat biasa-biasa saja, dia tidak mau menerbitkan harapan di hati gadis itu. Keputusannya sudah bulat. Keinginan orangtuanya itu tak bisa dia penuhi. Adam berpikir orangtuanya pasti mengerti. Toh tanpa menikahkan Adam dan Hawa pun silaturahmi diantara mereka akan tetap terjalin. Adam akan tetap menganggap Hawa sebagai temannya, sebagai adiknya, dan itulah jalan yang terbaik untuk semuanya menurut Adam.

Pak Umar dan Bu Fatimah bingung menghadapi anak laki-laki satu-satunya itu. Adam tidak bisa menerima niat baik mereka untuk menikah dengan Hawa, padahal mereka menyimpan harapan yang besar untuk melihat kedua orang itu bersatu sebagai suami istri. Hari demi hari pasangan suami istri itu terus membujuk Adam, namun agaknya sifat keras kepala Pak Umar juga menurun pada Adam. Anak itu sudah membuat keputusan, dan mereka tahu keputusan anaknya itu tidak bisa diganggu gugat.

Sabtu sore cuaca di daerah itu cukup bagus. Matahari yang lelah karena harus bersinar sepanjang siang pelan-pelan mulai menurunkan kaki-kaki perkasanya di balik bukit. Sinarnya yang berwarna kekuning-kuningan berubah menjadi kemerahan. Merubah terik yang tadinya menyengat kulit menjadi teduh yang memanjakan jiwa. Angin sore mulai lincah bertiup. Menampar-nampar wajah Adam yang sedang berkeliling di halaman belakang. Anginnya cukup dingin, Adam menggosokk-gosokkan kedua tangannya untuk mengurangi rasa dingin. Dia memperhatikan sebatang mawar yang ada di pojok. Warna matahari terbenam yang kemerahan menimpa kelopak mawar yang berwarna merah menyala itu sehingga menghasilkan gradasi warna yang mengagumkan. Adam memandangi bunga itu dengan penuh kekaguman, mawar mungkin hanya sebuah bunga, tapi dia mempunyai daya tarik magis yang pasti akan disadari oleh setiap orang yang mencintai keindahan. Adam membiarkan khayalannya berkelana, situasi seperti ini selalu membangkitkan ketenangan yang mengaduk-aduk emosinya. Adam memejamkan matanya mencoba berkonsentrasi melenyapkan penat yang diembannya.

“Kak Adaaaaamm….ada kak Hawa”suara Fitri membuyarkan konsentrasinya.

Adam menoleh ke arah suara itu, disana sudah berdiri dua orang perempuan yang sangat dikenalnya, Hawa dan Fitri. Hawa tersenyum padanya, Adam hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala. Hawa terlihat semampai dengan celana panjang yang dikenakannya, celana itu tidak ketat, tapi tetap saja Adam tidak suka dengan perempuan yang suka memakai celana panjang, walaupun itu longgar. Hawa berjalan ke arahnya, kadang-kadang dia melompat-lompat kecil menghindari duri-duri mawar yang menjorok dari potnya. Dalam situasi seperti itu, Hawa terlihat manis di mata Adam. Otak Adam berputar, andai saja Hawa berjilbab, andai saja dia adalah jilbaber-jilbaber yang selalu dilihatnya di mesjid kampusnya, andai saja pola pikir mereka sama, mungkin dia tidak akan berpikir dua kali untuk menerima perjodohan itu. Adam menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh, keputusannya sudah bulat.

Hawa sudah ada di hadapannya, menyunggingkan senyum kekanak-kanakkannya yang sudah satu tahun ini tak dilihatnya. Dia belum tahu tentang keputusan Adam untuk membatalkan perjodohan itu. Adam tak tahu bagaimana caranya supaya Hawa bisa mengerti semua ini tanpa merasa sakit hati. Bagaimana pun dia tak ingin menyakiti Hawa, gadis itu tak pantas bila terluka hanya karena keegoisan Adam. Keegoisan? Adam bertanya pada dirinya sendiri, apa menginginkan jodoh yang terbaik adalah keegoisan. Tapi kemudian dia sadar itu adalah haknya, haknya untuk menentukan keputusan yang terbaik.

“Mas Adam, mas Adam besok pulang ya? Sayang ya..padahal Hawa masih pengen ketemu”ujar Hawa merajuk.

Adam tersenyum,”Iya nih, kuliah mas juga bentar lagi mau mulai. Jadi terpaksa besok Mas harus pulang”jawab Adam.

Hawa tersenyum, tangannya menggapai sebuah mawar yang hampir layu. Air mukanya tiba-tiba berubah menjadi sendu.

“Sayang ya bunga ini layu, padahal yang lainnya subur.”ujarnya seraya membuang seekor serangga pengganggu yang menempel di bunga itu.

Adam memandangi bunga itu, memang diantara semua tanaman yang ada disana, hanya bunga itu yang layu, Adam tak tahu mengapa.

“Mas juga enggak tahu kenapa”jawab Adam.

Tiba-tiba Hawa menoleh ke arahnya, “Mas, sudah tahu khan tentang rencana perjodohan kita?”tanya Hawa, pipinya memerah.

Adam menganggukkan kepalanya”Mas tahu kok”jawabnya singkat.

Mata Hawa berbinar-binar,”Terus pendapat Mas gimana?”tanyanya tidak sabar.

“Hawa, Mas tahu kedua orangtua kita pasti mempunyai maksud yang baik untuk menjodohkan kita. Dan Mas juga tahu kamu adalah gadis yang baik, tapi…..” Adam menggantungkan kalimatnya.

“Tapi apa Mas?”rona kepanikan muncul jelas di wajah Hawa. Pandangannya tertuju sepenuhnya pada Adam. Dia memasang telinganya, siap menerima kata-kata yang akan meluncur dari mulut laki-laki yang dicintainya itu.

Adam menghela nafas berat, “Mas tidak bisa menerimanya. Mas belum mau menikah, lagipula…”Adam bermaksud mengatakan bahwa Hawa bukan termasuk kriterianya. Tapi dia batal mengatakan hal itu, karena dia tahu itu akan menyakiti hati Hawa. Otak Adam berputar mencari alasan lain.

“Mas hanya menganggapmu sebagai adik”jawab Adam

Mata Hawa tak berkedip, dia menangkupkan dua tangan ke dadanya. Tubuhnya bergetar, pipinya memanas, airmata mulai mengalir di pipinya. Dia menepuk-nepuk pipinya.

“Ini mimpi khan, omongan Mas cuma bercanda khan”ujar Hawa, tatapannya ,mencari kepastian dari perkataan Adam.

Adam menunduk, dia bingung harus berkata apa lagi.

“Ini bohong khan?”kali ini suara Hawa bergetar. Tubuhnya mulai limbung, Hawa menyandarkan tubuhnya di tembok.

“Kenapa Mas? Apa kekuranganku? kenapa Mas menolak perjodohan ini?”Hawa meminta penjelasan.

Adam menguatkan hatinya, memang tak mungkin menolak perjodohan ini tanpa membuat Hawa terluka. Adam berpikir penolakannya ini hanya akan menimbulkan luka kecil di hati Hawa dan seiring dengan bergulirnya waktu luka itu akan sembuh, akan ada Adam-Adam lain yang akan mengisi hati Hawa. Padahal ada satu kenyataan besar yang tidak diketahui oleh Adam, perasaan Hawa pada Adam itu tulus, bukanlah seperti debu yang mudah tertiup angin, perasaan hawa pada Adam jauh lebih besar dari itu. Dan waktu mungkin saja tak akan bisa menghilangkan perasaan itu.

“Hawa, Mas tahu kamu gadis yang baik. Tapi Mas sudah menganggapmu sebagai adik Mas. Sulit bagi Mas untuk merubah perasaan itu. Kamu bisa mengerti khan?”tanya Adam, berharap Hawa mengerti dan bisa menerimanya.

Airmata Hawa mengalir semakin deras. “Kenapa? Apa Mas tidak tahu seberapa besar cintaku pada Mas? Apa Mas tidak tahu kalau aku sudah mencintai Mas sejak SMP dulu? Aku selalu mencintai Mas, dalam setiap doaku aku selalu berharap Allah memberiku kesempatan untuk menjadi istri Mas. Lalu kenapa Mas? Kenapa Mas tidak bisa mempunyai perasaan yang sama denganku?”tanya Hawa diantara isak tangisnya.

Lidah Adam kelu. Dia menelan ludah, dia tak menyangka akan mendengar pengakuan seperti itu meluncur dari bibir Hawa. Sekilas terlihat olehnya raut wajah Hawa, keceriaan yang biasanya menghiasi wajahnya kini berganti dengan kemuraman yang membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa iba. Burung kecil itu telah terluka, dan Adam lah yang telah membuatnya terluka. Adam menyalahkan dirinya sendiri, mungkin tak seharusnya dia berkata segamblang itu. Mungkin ada cara yang lebih lembut untuk menyampaikan hal itu pada Hawa. Tapi semua sudah terlambat, mungkin dia sedikit egois, tapi mau tidak mau Hawa harus menerima keputusannya.

“Apa karena Hawa belum berjilbab, iya?”tanya Hawa.

Adam yang sedari tadi tertunduk langsung mendongak menatap Hawa. Dia tercekat dengan pertanyaan yang diajukan Hawa. Apa Hawa bisa membaca perasaannya? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya. Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya?

“Hawa, sebagai wanita yang beranjak dewasa sudah seharusnya kamu menutup aurat. Jujur Mas akui, Mas memang risih melihat kamu belum memakai jilbab. Mas tidak mau kamu memperlihatkan rambut indahmu itu pada setiap orang, biar orang yang jadi suamimu nanti yang bisa melihat dan memandanginya. Kamu tentu tahu memakai jilbab adalah sebuah kewajiban. Mas yakin kamu akan terlihat lebih cantik dengan memakai jilbab”papar Adam.

Secercah harapan terukir di wajah Hawa,”Jadi kalau aku memakai jilbab Mas mau menerimaku?”tanyanya penuh harap.

Adam menatap kedua mata gadis itu, matanya sembab karena terlalu banyak mengeluarkan tangis. Di matanya Adam bisa melihat harapan yang begitu besar, di mata Hawa Adam melihat ketulusan yang seumur hidup ini baru dilihatnya ada pada dua orang, pada ibunya, dan pada Hawa. Adam membuang pandangannya, terlalu lama memandang mata itu akan membuatnya merasa semakin bersalah.

“Hawa,,,bukan seperti itu. Mas benar-benar tidak bisa. Maaf…mungkin kita memang tidak berjodoh”jawab Adam.

Hawa menundukkan kepalanya. Dia tak mempunyai firasat apapun tentang kejadian hari ini. Segala harapan yang selama ini susah payah dijaganya ternyata dihancurkan oleh orang yang diharapkannya mampu mewujudkan harapan itu. Hawa terdiam untuk beberapa saat, dihapusnya air mata yang membasahi pipinya. Tangannya dingin dan masih gemetar, menandakan penolakannya akan kejadian yang baru saja dialaminya.

Ingatan masa lalu berkelebat di pikirannya. Masa kecilnya, kenangannya bersama Adam, rasa cintanya pada Adam dan harapannya menjadi istri Adam. Semuanya sekarang seperti bagian dari episode masa lalu yang tak boleh dia impikan lagi, seperti sepenggal cerita usang yang mesti dia lupakan, dan Adam sendiri yang memintanya. Hawa tertegun. Tadi malam dia masih merasa berada diatas awan, masih bergantung di ketinggian sayap malaikat, tapi sekarang dia sudah terjatuh, terhempas ke dalam jurang dalam yang disebut patah hati. Hawa bertanya pada dirinya sendiri, inikah akibat dari harapan yang terlalu tinggi? Inikah jawaban atas penantian panjangnya selama bertahun-tahun? Apakah harapan itu tidak bisa terwujud? Hawa tidak tahu pasti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Satu hal yang sangat jelas di matanya, harapan itu sudah kandas. Kapal yang ingin ditumpanginya bersama Adam itu sudah karam.

“Mas, apa Mas tidak bisa mempertimbangkan hal itu lagi?”tanya Hawa penuh harap. Mungkin masih ada secercah harapan diatas puing-puing harapan itu.

Adam menggelengkan kepalanya,”Mas menghargai perasaan kamu, tapi maaf..Mas tidak bisa membalasnya. Mas hanya bisa menganggapmu sebagai adik”jawab Adam.

“Aku mengerti Mas, aku memang tidak pantas untuk Mas. Aku hanya perempuan kampung bodoh yang nekat mencintai Mas. Aku tahu tidak seharusnya aku mengharapkan Mas. Maafkan aku mas. Aku memang bodoh, harusnya aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini.”ungkap Hawa, bibirnya menyunggingkan senyuman pahit.

“Jangan berkata seperti itu Wa, Mas menghargai perasaan kamu. Tapi mungkin kita memang belum berjodoh. Mas yakin Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kita. Allah sudah menyiapkan jodoh yang tepat untuk kamu, dan mungkin jauh lebih baik dari Mas.”jawab Adam

Hawa menatap mata Adam,”Oh ya Mas, aku sekarang tahu kenapa bunga itu layu. Bunga itu tak mendapatkan sinar matahari yang cukup, bahkan mungkin tak mendapatkannya sama sekali. Bunga itu seperti aku, aku yang ternyata tak bisa mendapatkan cinta Mas. Nasibku dan bunga itu tak jauh berbeda, kami sama-sama terluka. Selamat tinggal Mas…”ujar Hawa sembari berlari meninggalkan Adam yang berdiri terpaku.

Besok Adam akan kembali ke Semarang. Tapi entah kenapa sampai malam ini hatinya masih merasa gelisah. Timbul rasa bersalah di hatinya atas kejadian tadi sore. Tapi dia tidak boleh membiarkan rasa bersalah itu berlarut-larut. Setibanya di Semarang nanti dia harus fokus dengan kegiatannya disana. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal seperti itu.

Kedua orangtuanya sekarang sudah dapat menerima keputusan Adam. Mereka tahu tak ada gunanya memaksakan keinginan itu pada Adam. mereka memang ingin melihat Adam menikah dengan Hawa, tapi mereka jauh lebih ingin melihat Adam bahagia dengan jalan yang akan dipilihnya. Sekarang persoalan siapa calon pendamping hidup bagi Adam mereka serahkan sepenuhnya pada Adam. Biar dia menentukan sendiri pilihannya, mereka tidak akan ikut campur lagi. Malam itu juga Pak Umar mendatangi Pak Hasan, ayah Hawa. Dengan menyesal dia bermaksud membatalkan perjodohan Adam dan Hawa. Pak Hasan marah besar, dia merasa keluarga Adam telah mempermainkannya. Pak Hasan merasa tersinggung dengan penolakan itu, walaupun Hawa membujuknya untuk merelakan semuanya, Pak Hasan tetap tidak bisa menerima semua itu. Dia berjanji kalau suatu hari Adam berbalik mencintai Hawa, dia tidak akan mengizinkan laki-laki itu untuk menikah dengan Hawa.

Sejak sore sampai sekarang Hawa terus mengunci dirinya di kamar. Bujukan ayahnya tidak membuat Hawa keluar dari kamar. Rasa sakit karena penolakan Adam itu masih sangat terasa di hatinya. Dia tidak membenci Adam, dan dia tidak akan pernah mungkin membenci Adam. Tapi jauh di lubuk hatinya, terselip kekecewaan pada dirinya sendiri. Kekecewaan karena kelemahan-kelemahannyalah yang membuat Adam tidak mencintainya. Mungkin jika dia berjilbab Adam akan mencintainya, mungkin jika dia seperti Ratna, temannya yang shalihah dan mengenakan kerudung lebar itu, Adam akan mencintainya. Hawa menatap cermin meyakinkan dirinya bahwa semua ini tidak terjadi, semuanya belum terjadi. Hingga setidaknya Tuhan memberinya kesempatan agar bisa dicintai oleh Adam. Tapi dia tidak menemukan kebohongan disana, apa yang dipantulkan cermin itu adalah kenyataan. Mata sembab yang terlihat di cermin itu adalah kenyataan. Kenyataan bahwa Adam telah menolak cintanya.

Buku Diary biru itu sekarang kusut dan basah oleh airmata. Hawa membalik lembaran demi lembaran, membacanya, dan mencoba membayangkan kenangan-kenangan masa lalu itu dengan potongan puzzle yang mulai terlihat buram di ingatannya. Digoyangkannya penanya diatas buku itu, ada kenyataan yang harus ditulisnya lagi kali ini.

Matahari itu sudah pergi…..

Dia tak mau lagi menyinari buminya

Dia memilih untuk mencari eksistensi lain yang membutuhkan sinarnya

Matahari mungkin bisa berpaling pada Venus, atau pada Mars,

Tapi bumi tidak bisa mencari bintang lain selain matahari….

Matahari itu sudah pergi….

Meninggalkan kawah luka yang menganga di perut bumi

Meninggalkan nestapa, kesunyian, dan rasa sepi

Bagaimana bumi akan bertahan tanpa matahari?

Tak ada kehidupan yang ada hanyalah kematian

Tak ada pepohonan yang ada hanyalah gersang

Tak ada hangat yang ada hanyalah kebekuan

Tanpa matahari bumi hanya bulatan beku kecil yang melayang-layang tanpa tujuan di angkasa.

Matahari itu telah membawa jiwa buminya…

Matahari itu kejam……

Terlalu banyak mengeluarkan airmata membuat Hawa mengantuk. Hawa tertidur diatas buku diarynya. Membawa rasa sakit karena cinta yang membuat dadanya sesak. Adam adalah separuh jiwanya, kalau separuh jiwa itu pergi, manusia tak bisa lagi mendapat predikat hidup. Adam adalah pelita untuknya, kalau tak ada pelita, maka yang ada tinggallah gelap. Adam adalah harapan untuknya, tanpa harapan yang ada hanyalah kehampaan.

Sembilan bulan berlalu sejak peristiwa itu, Adam bahkan hampir melupakannya. Waktunya banyak tersita,. Sekarang dia disibukkan lagi dengan aktivitas-aktivitasnya di sebagai mahasiswa, apalagi sekarang dia tergabung dengan sebuah organisasi keagamaan yang cukup menyita waktunya. Tapi bagi Adam, selama kegiatan itu memberikan nilai positif baginya, berkorban sedikit bukanlah sebuah masalah.

Adam tidak menutup telinga tentang segala hal yang berhubungan dengan Hawa. Kabar terakhir yang diterimanya dari ibunya bahwa Hawa pindah ke Semarang ke rumah pamannya. Adam tahu ada kemungkinan mereka akan bertemu karena sekarang mereka berada di kota yang sama. Atau pun sebaliknya mungkin saja Allah tidak menakdirkan mereka untuk bertemu. Yang pasti Adam berharap luka di hati Hawa sudah sembuh bila nanti mereka akhirnya dipertemukan.

Hari ini rencananya Adam akan menghadiri sebuah halaqah di rumah salah satu seniornya, namanya ustadz Malik. Dia sudah menganggap ustadz Malik sebagai ayah kedua untuknya. Adam memarkirkan sepeda motornya di halaman depan sebuah rumah bercat biru. Halamannya bersih, di pinggirnya berderet pohon bougenville yang semakin menambah kesan asri yang sudah ada dalam rumah itu. Sudah ada 4 motor yang terparkir disana, dan Adam mengenali semua pemilik motor itu, teman-teman mahasiswanya.

Setelah memarkirkan motornya, Adam mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Seraut wajah teduh ustadz Malik menyembul dari balik pintu.

“Wa’alaikum salam. Ayo masuk Dam, yang lain juga udah pada datang. Yu..masuk, anggap saja rumah sendiri ya.”ujar ustadz Malik ramah.

Adam menganggukkan kepalanya. Ustadz malik menuntunnya menuju ruang tamu. Sebenarnya ini kali ketiga Adam berkunjung ke rumah ini, seharusnya dia tidak canggung lagi. Tapi entah kenapa tiba-tiba dia merasa gugup. Di ruang tamu dilihatnya rekan-rekannya sedang berbincang-bincang. Salah satu dari mereka melihat Adam dan melambaikan tangannya pada Adam.

“Sini Akh,,,,”ajaknya.

Adam mempercepat langkahnya menuju kumpulan itu. Ada Fahri, Iqbal, Fatah, Ridwan, dan Rian, laki-laki yang tadi memanggilnya.

“Assalamu’alaikum…”ujar Adam sembari menjabat tangan semua orang yang ada disana.

“Wa’alaikum salam”jawab mereka hampir berbarengan.

“Kemana saja Mas dah lama gak keliatan?”tanya Fatah

Adam menyunggingkan seulas senyuman, “biasa…panggilan tugas”jawabnya

Hari ini ustadz Malik membahas tentang munakahat. Kontan semua laki-laki disana yang notabene adalah lajang menjadi sedikit ricuh. Tema munakahat memang tema yang mengundang perhatian, apalagi untuk mereka yang sudah punya keinginan menikah namun masih terbentur dengan masalah-masalah, baik finansial, kesiapan mental, maupun calon pendamping hidupnya.

“Ada pertanyaan?”tanya ustadz Malik, setelah lebih dari satu jam beliau menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan munakahat.

Iqbal mengacungkan tangannya.”Ana ustadz”

“Iya, silakan”ustadz Malik mempersilahkan Iqbal untuk mengajukan sebuah pertanyaan.

“Apakah kita boleh mengajukan kriteria untuk calon pendamping hidup kita?,”tanya Iqbal.

Ustadz Malik tersenyum, “Setiap manusia pasti memberikan sebuah kriteria untuk sesuatu yang berhubungan dengannya. Kenapa kita bisa menyebut sesuatu itu bagus, atau sesuatu itu jelek, itu pasti karena kita telah menetapkan kriteria untuk hal itu. begitu juga dengan jodoh. Adalah hal yang manusiawi kalau laki-laki menginginkan perempuan yang pintar dan cantik. Dan dengan begitu berarti kita menetapkan sebuah kriteria untuk calon pendamping hidup kita, itu boleh-boleh saja. Tapi jangan sampai hal itu disebabkan oleh kesombongan kita, jangan sampai kita menolak jodoh yang datang pada kita karena kita merasa kita lebih baik dari dia, karena dia tidak pantas bersanding dengan kita. Tidak ada yang tahu derajat keimanan seseorang. Mungkin saja dibalik wajah yang cantik tersimpan hati yang busuk atau sebaliknya dalam wajah yang biasa-biasa saja kita akan menemukan keimanan yang luarbiasa. Itulah sebabnya Rasulullah menyuruh kita untuk melihat agama seorang perempuan sebagai awal mula ketika kita ingin menjadikannya sebagai pendamping hidup. Karena agama yang baik pada diri istri akan membuat suaminya tenang jika berada di sampingnya. Menetapkan kriteria itu boleh, asal jangan terlalu tinggi. Jangan sampai kita mengharapkan seorang pendamping yang shalihah, sementara diri kita sendiri tidak berusaha untuk menjadi shalih. Allah sudah menyiapkan jodohnya, laki-laki baik dengan wanita yang baik, dan laki-laki yang buruk berjodoh dengan wanita yang buruk pula. Semakin shalihah pendamping yang ingin kita dapatkan, kita juga harus semakin giat membuat diri kita shalih. Dan satu hal lagi, jangan sampai karena kriteria yang terlalu tinggi membuat kita emm..apa itu peribahasanya, mengharapkan burung yang terbang di langit sementara burung yang sudah ada di tangan kalian, kalian lepaskan. Padahal mungkin itulah yang terbaik dari Allah, karena seperti yang kita ketahui yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. dan yang buruk menurut kita mungkin adalah yang terbaik menurut Allah, dan keputusan yang datang dari Allah SWT adalah yang terbaik untuk kita.”papar Ustadz Malik.

Mustaminya mengangguk-anggukkan kepalanya. Berusaha meresapi pepatah-pepatah yang disampaikan murabbinya.

“Afwan ana mau tanya tadz, tadi kahn ustadz bilang laki-laki baik berjodoh dengan wanita baik dan sebaliknya. Nah yang ana tanyakan terkadang ana menemui kasus dimana istrinya shalihah dan justru suaminya malah pemabuk. Dan ada juga yang suaminya baik, tapi istrinya buruk. Itu bagaimana tadz?”tanya Fatah.

“Wahh..saya jadi inget temen saya. Ceritanya juga hampir sama dengan cerita antum. Ceritanya temen saya itu, laki-laki, si A, dia itu pemabuk, penjudi plus suka nipu. Orangtuanya sudah cape dengan tingkah lakunya. Akhirnya mereka berniat menikahkannya dengan seorang anak wanita kenalan mereka. Wanita itu sangat sabar, setiap hari dia menerima cerca dan maki suaminya dengan ikhlas. Tingkah laku suaminya yang menyebalkan itu tidak lantas membuatnya mengeluh dan menyalahkan takdir Allah. Justru sebaliknya, si istri menganggap bahwa suaminya adalah objek dakwah untuknya. Allah sudah mengirimkan suami yang kasar padanya, dan sekarang tergantung bagaimana dia akan menanggapinya. Dan subhanallah…dia lebih memilih untuk mendapatkan pahala Allah dengan kesabarannya dalam menghadapi suaminya. Perlahan-lahan si istri membimbing si suami ke jalan yang benar. Sampai akhirnya sekarang teman ustzadz, si A itu tidak lagi melakukan perbuatan-perbuatan maksiat lagi. Malah sekarang berkat dukungan istrinya, dia jadi ustadz yang istiqomah di jalan Allah. Seperti yang sudah ustadz bilang tidak ada yang tahu takdir Allah akan seperti apa. Apa yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Dan kisah ini adalah salah satu contohnya, bagaimana Allah menyelipkan sebuah hikmah dan ending yang sangat manis pada sebuah peristiwa yang mungkin dianggap bencana oleh sebagian besar dari kita. Mungkin saja ketika kita mendapatkan pendamping yang tak sesuai dengan harapan kita, itu adalah ujian sekaligus ladang dakwah dari Allah untuk kita”jawab ustadz Malik.

“Dan satu pesan dari ustadz, kita menjalani sebuah pernikahan bukan untuk mencari seseorang yang sempurna, tapi mencari seseorang yang akan menyempurnakan kita dan kita sempurnakan.”lanjutnya

Mahasiswa-mahasiswa itu mengangguk-angguk mengerti. Sedangkan Adam tertegun. Yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Dan yang jelek untuk kita mungkin saja yang terbaik menurut Allah, dan keputusan yang datang dari Allah SWT adalah yang terbaik untuk kita. Menjalani sebuah pernikahan bukan untuk mencari seseorang yang sempurna, tapi mencari seseorang yang akan menyempurnakan kita dan kita sempurnakan Kata-kata itu terus terulang di kepala Adam. Setelah mendengar penjelasan ustadz Malik entah kenapa Adam jadi teringat Hawa. Apakah dulu itu sebenarnya Hawa adalah ladang dakwah untuknya? Apakah dulu dia terlalu sombong dan menolak jodoh yang diberikan Allah untuknya? Bukankah dengan menjadi suami Hawa Adam akan bisa membinanya? Adam sekarang membenarkan perkataan ibunya, Hawa bisa saja menjadi istri yang diinginkannya jika Adam memang berusaha untuk itu. Tapi mungkin dulu dia terlalu sombong untuk mengakui hal itu. Dulu dia mengukur keimanan seorang perempuan dengan lebarnya jibab mereka, seringnya mereka ada di lingkungan masjid. Padahal benar kata ustadz Malik, keimanan itu ada dalam hati seseorang, dan tidak ada manusia yang bisa melihatnya. Mungkin saja ada dibalik sosok cerianya itu tersimpan keimanan yang besar dalam diri Hawa. Adam mengusir pikiran itu jauh-jauh. Masa lalu bukan sesuatu yang bisa diulang, dia sudah menolak Hawa, dan itulah kenyataan yang sebenarnya.

“Wahh..kue-kuenya enak ustadz, buatan siapa?”tanya Fatah sambil mengambil beberapa potong kue dari piring. Selesai halaqah-an tadi ustadz Malik mengundang mereka untuk makan-makanan ringan.

“Alhamdulillah kalau begitu, itu buatan ponakan saya. Dia baru datang dari Bogor, sekarang dia kuliah disini”jawab ustadz Malik.

“Akhwat ustadz?”tanya Rian

Teman-temannya yang lain menyorakinya. Ustadz Malik hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Ummi, kue-kuenya kurang”seru ustadz Malik.

“Iya sebentar…”jawab istrinya dari dapur.

Seorang perempuan berjilbab lebar berwarna hijau tua keluar dari dapur. Usianya masih muda, di matanya masih tersisa keceriaan-keceriaan seorang remaja. Pandangannya teduh, memberikan ketenangan untuk mata-mata yang melihatnya. Dengan hati-hati dia membawa nampan yang berisi kue-kue yang akan disuguhkan pada tamunya. Perbincangan lelaki-lelaki muda itu terhenti ketika sosok perempuan muda itu berjalan ke arah mereka. Pandangan mereka semua tertuju pada sosok dibalik balutan jilbab itu, kecuali Adam. Dia tengah sibuk memeriksa pesan yang masuk di telpon genggamnya

“Cantik ya…”ucap Rian setengah berbisik sambil menyikut siku Adam.

Adam mengerenyitkan keningnya”Siapa?”

“Tuh..”jawab Rian sembari menunjuk perempuan yang dimaksud dengan sudut matanya.

Adam menoleh ke arah yang ditunjuk Rian. Dilihatnya sesosok perempuan dalam balutan jilbab hijau tuanya. Jilbabnya yang lebar menutupi lekuk-lekuk bagian tubuhnya. Jilbab itu juga menambah keanggunan yang terpancar dari sosoknya. Wajahnya bersahaja, kecantikkan hatinya terpancar di wajahnya. Kening Adam berkerut, rasa-rasanya dia sudah mengenal wanita itu. Otak Adam berputar, dan ketika dia sudah menemukan jawabannya, Adam terpekik.

“Kenapa bukan bukde yang membawa kuenya Nduk?”tanya ustadz Malik pada wanita muda itu.

“Tangan bukde kotor pakde, jadi saya yang membawakannya”jawab perempuan muda itu.

“Oh ya sudah, anak-anak kenalkan ini keponakan saya. Namanya Hawa”ujar ustadz Malik.

Hawa menangkupkan dua tangan di dadanya, dia tersenyum. Tapi senyumnya tiba-tiba lenyap ketika dia melihat Adam. Pandangan mata mereka bertemu, Hawa cepat-cepat menundukkan pandangannya. Dengan terburu-buru dia kembali ke dapur. Adam tertegun, itu Hawa, benar-benar Hawa. Wanita anggun berjilbab yang dilihatnya barusan sama dengan wanita yang ditolaknya tempo hari. Wanita anggun berjilbab yang barusan bertemu pandang dengannya adalah wanita yang dulu belum berkerudung yang menyatakan cinta padanya. Adam menepuk-nepuk pipinya. Dia bertemu dengan Hawa. Ternyata Tuhan menakdirkan pertemuan kembali atas mereka.

Hawa menghapus airmatanya. Pertemuannya dengan Adam mengaduk-aduk emosinya. Setelah pertemuan itu beragam kenangan menyakitkan muncul lagi di pikirannya. Rasa cinta yang sudah dibuangnya itu perlahan-lahan mengakar kembali di hatinya. Hawa beristighfar, dia cepat-cepat membuang pikiran itu. Dia tidak akan membiarkan masa lalu yang kelam menghantui kehidupannya yang sekarang. Dia sekarang punya Allah. Dia sekarang tahu untuk siapa harusnya cinta terbesarnya berlabuh. Hawa telah menemukan kedamaian sejati. Ketenangan yang menjalari setiap pembuluh yang ada dalam tubuhnya setiap kali dia mengingat Rabb-Nya. Hawa tak lagi mengharapkan Adam, biarlah semua indah pada waktunya. Biar Allah yang menunjukkan jodoh yang terbaik untuknya.

Di tempat lain Adam sedang termenung. Dia terkejut dengan perubahan yang terjadi pada diri Hawa. Hawa sekarang menjadi seorang perempuan yang anggun, selain itu dia sudah berjilbab. Tadi Adam sedikit berbincang-bincang dengan ustadz Malik. Agaknya ustadz Malik tidak tahu bahwa Adam pernah menolak rencana perjodohannya dengan Hawa, dia bahkan tak tahu kalau kakaknya berniat menjodohkan Hawa dengan Adam. Yang dia tahu Adam adalah kenalan Hawa, itu saja. Dari cerita yang didengar Adam dari ustadz Malik, dulu Hawa datang kesana dalam keadaan kurang baik. Dia sakit-sakitan dan selalu murung, namun semenjak istrinya sering mengajak Hawa mengikuti pengajian-pengajian, Hawa mulai berubah. Hawa mulai mengenakan jilbab. Dia pun mulai kembali bisa tersenyum dan mulai aktif di berbagai organisasi keagamaan dan kemanusiaan. Harapannya yang sempat hilang dulu sekarang bersemi lagi.

“Saya tidak tahu apa yang membuat Hawa dulu merasa down. Tapi saya yakin Hawa anak yang tegar. Dia akan bisa bangkit ketika dia sedang terpuruk” kata-kata ustadz Malik itu terdengar kembali di telinga Adam. Andai ustadz Malik tahu bahwa penyebabnya adalah dirinya, apa yang akan dikatakannya? Pikiran Adam berkelana.

Ternyata Hawa masuk universitas yang sama dengan Adam, hanya beda fakultas. Adam di fakultas MIPA dan Hawa di fakultas kehutanan. Ruang kelas mereka yang bersebelahan dan hanya terhalang oleh dua ruangan itu mau tak mau membuat mereka sering bertemu. Sekali waktu mereka bertemu mereka hanya saling menganggukkan kepala sembari menangkupkan tangan di dada, sebagai batasan pergaulan antara seorang laki-laki dan perempuan dalam islam.

Kedatangan Hawa di organisasi kemasjidan mereka membawa warna tersendiri bagi para mahasiswa disana. Pembawaannya yang supel membuatnya mudah bergaul dengan mahasiswa yang lain. Sosoknya yang cerdas dan cekatan banyak dikagumi, terutama oleh para laki-laki yang menaruh hati padanya. Kuncup itu sudah berbunga, gadis kecil periang yang dulu dilihat Adam sudah bermekaran menjadi bunga yang indah, yang menarik kumbang-kumbang di sekitarnya untuk mendekat. Adam cukup terkejut dengan perubahan-perubahan itu. Diam-diam kekagumannya pada Hawa yang sekarang berubah menjadi bibit-bibit cinta. Adam sekarang yakin dia telah salah menilai Hawa. Hawa tidak bisa dibandingkan dengan perempuan-perempuan berjilbab lebar lainnya, Hawa adalah Hawa. Dia menjadi indah dan cantik dengan caranya sendiri.

Semakin hari perasaan itu semakin bertambah kuat. Adam sekarang tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Rasa cinta pada Hawa telah tumbuh. Kebaikan hati gadis itu sekarang mulai bisa dirasakannya. Adam menertawakan dirinya sendiri, menertawakan ketidakdewasaannya. Menertawakan kesalahannya dalam menilai Hawa.

Adam memperlambat laju motornya, dia sudah sampai di depan rumah ustadz Malik. Dia agak deg-degan, diam-diam dalam hatinya dia berharap dia akan bertemu dengan Hawa. Seraut senyum muncul di wajah Adam, ketika dilihatnya sosok perempuan yang sangat dikenalnya sedang menyiram barisan pot bunga mawar. Dengan tangan yang gemetar Adam membunyikan klaksonnya.

“Assalamu’alaikum”ucap Adam. Nada suaranya gemetar. Adam menertawakan dirinya sendiri karena tiba-tiba bersikap seperti itu ketika bertemu dengan Hawa.

“Wa’alaikumsalam”jawab Hawa.

Adam memarkirkan sepeda motornya di depan pagar dan langsung turun memasuki pekarangan rumah ustadz Malik.

“Ustadz ada?”tanya Adam.

“Bukde dan pakde sekarang sedang pergi ke rumah kenalannya. Mungkin sebentar lagi pulang”jawab Hawa sambil tetap menundukkan pandangannya.

“Boleh Mas menunggu disini?”Adam meminta persetujuan Hawa.

Gadis itu terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Boleh, tapi afwan Mas nunggunya di luar aja. Kalau di dalam rumah ana takut ada fitnah macem-macem”jawab Hawa

Adam mengangangguk ”memang harus seperti itu”jawabnya

Hawa masuk ke dalam rumah dan ketika keluar dia sudah membawa sebuah nampan yang diisi dengan segelas minuman dan dua toples kue-kue kecil.

“Terima kasih, tidak usah merepotkan”ujar Adam.

“Enggak kok”jawab Hawa sambil melangkah ke dalam rumah.

Adam menahan langkahnya,”Tunggu, bisa temani mas ngobrol? Ada banyak hal yang ingin Mas tanyakan sama kamu.”pinta Adam.

Dahi Hawa berkerut memikirkan tawaran Adam. setelah agak lama dia duduk di kursi yang berada agak jauh dari Adam.

Adam melemparkan pandangannya pada rumpun mawar yang mulai berbunga, dulu ketika Hawa belum ada di rumah ini, dia tidak pernah melihat rumpun mawar itu. dan pastilah Hawa yang menanam bunga mawar itu. Bunga itu mekar dengan indah, dari kuncup yang asalnya hijau dan biasa saja, sama seperti perempuan anggun yang ada di hadapannya sekarang.

“Kamu sudah berubah ya”ujar Adam membuka obrolan diantara mereka berdua.

Hawa menghela nafas ”Hidup bukan sekedar tentang berjalan di tempat dan merasa cukup dengan diri kita yang sekarang. Hidup adalah ketika kita terus berusaha menjadi sesuatu yang lebih baik. Mas tahu seperti apa ana dulu, dan Mas tahu seberapa besar perubahan ana hingga menjadi seperti sampai sekarang. Semuanya karena ana sudah melalui proses hidup, dalam proses itu ana dituntut untuk berubah. Berubah menjadi lebih baik, atau berubah menjadi lebih buruk, keputusan akhir ada pada diri ana sendiri. Dan Alhamdulillah Allah menunjukkan hidayahnya pada ana sampai ana bisa berubah menjadi lebih baik”papar Hawa.

Adam semakin kagum dengan wanita yang ada di hadapannya.

“Hawa, maafkan kesalahan Mas. Waktu itu Mas sudah menyakiti hati kamu”ujar Adam. Ucapannya bernada penyesalan.

“Tidak apa-apa Mas. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ana sudah menganggap hal itu sebagai bagian dari masa lalu. Allah pasti menyelipkan hikmah di balik semua ujian. Mungkin jalan ana untuk menjadi seperti sekarang memang harus melalui peristiwa itu dulu.”jawab Hawa, pandangannya menerawang.

“Mas kagum sama kamu Hawa, kamu benar-benar berubah. Mas menyesal sudah menolak perjodohan itu.”ujar Adam sungguh-sungguh.

Wajah Hawa merona, dia memalingkan wajahnya. “Jangan begitu Mas, tidak ada yang perlu Mas sesali. Seperti yang Mas bilang, inilah jalan terbaik dari Allah untuk kita. Mungkin suatu saat kita akan menemukan jodoh kita masing-masing”jawab Hawa.

“Menemukan jodoh kita masing-masing? Kenapa kita tidak saling menemukan satu sama lain saja? Bukankah itu lebih baik?”Adam mengeluarkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan hal itu.

Hawa menundukkan pandangannya, pipinya memanas.

“Mas, ana sudah menyerahkan urusan jodoh sepenuhnya di tangan Allah. Ana tidak mau lagi menggantungkan harapan yang terlalu berlebihan pada manusia. Urusan dengan siapa, biar Allah yang menentukan. Biar semuanya diatur oleh Allah, Pemilik cinta itu sendiri.”jawab Hawa.

“Maafkan Mas, seharusnya Mas tidak mengatakan hal seperti itu. Mas sudah pernah menyakitimu. Dan tentunya kamu tidak mau lagi disakiti oleh Mas.”ujar Adam

Hawa menunduk dalam, tangannya memainkan ujung bunga aster yang ada di sampingnya.

“Mas, jangan pernah memberi harapan jika itu hanya harapan kosong. Dulu mungkin ana masih bisa bangkit dari keterpurukan itu dan menatap masa depan seperti sekarang. Tapi jika ana terjatuh lagi di lubang yang sama untuk kedua kalinya, ana tidak tahu apakah ana bisa bangkit lagi atau tidak. Tolong jangan ingatkan ana dengan masa lalu itu lagi. Ana tahu Mas adalah laki-laki yang bijak. Cerita itu biar kita kubur dalam-dalam, demi kehormatan kita berdua.”papar Hawa.

Adam terdiam, kata-kata Hawa benar-benar mengena di hatinya. Apakah kedatangannya sudah membuat Hawa risih? Apa Hawa benar-benar tidak mau memberinya kesempatan? Pikiran Adam berkecamuk.

“Bagaimana kalau Mas benar-benar serius dengan apa yang Mas katakan? Bagaimana kalau Mas meminta kamu menjadi calon pendamping hidup Mas?”tanya Adam

Gadis itu menatap mata Adam,”Pernikahan bukan hal yang sepele, coba Mas renungkan lagi. Ada banyak hal yang harus diperhitungkan. Sekali Mas membuat sebuah komitmen dalam bentuk pernikahan, Mas harus menjaganya sampai akhir. Tanyakan pada hati Mas, Mas Adam akan tahu apa jawabannya”jawab Hawa, kepalanya tertunduk lagi.

Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.

Suara Adam memecah keheningan,“Hawa, Mas harus pergi. Ini sudah terlalu sore. Tolong sampaikan pada ustadz Malik, maaf Mas tidak menunggunya. InsyaAllah hari Rabu Mas datang kesini lagi”ujar Adam sembari bangkit dari kursinya.

Hawa juga bangkit dan mengantar Adam sampai ke pintu pagar, Adam menoleh ke arah Hawa,

“Dan saran kamu agar Mas merenung , akan Mas lakukan”lanjutnya.

Hawa hanya diam, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Pukul 03.00 pagi, Adam bangkit dari tempat tidurnya, menyeret kakinya yang masih ingin berada lebih lama di atas tempat tidur ke kamar mandi. Percikan demi percikan yang membasahi mukanya membuat kantuknya hilang seketika. Dengan mengenakan pakaian yang rapi dan bersih, Adam menemui Rabb-nya pagi ini. Shalat istikharah yang dua rakaat telah selesai ditunaikannya. Doa demi doa dipanjatkannya, terutama tentang hajatnya saat ini, hajatnya untuk menentukan calon pendamping hidup. Dalam kesunyian malam, saat makhluk-makhluk yang lain masih bergumul dengan selimut dan rasa kantuk mereka, Adam dan banyak hamba yang lain-Nya justru tengah berdialog mesra dengan Sang Khalik. Mereka menumpahkan segala puji, syukur, keluh dan kesah mereka pada Rabb Semesta Alam. Menitikkan airmata buah dari penyesalan eksistensi-eksistensi yang hidup bergelimang dosa, memohon ampunan dan ridha Rabbnya.

“Assalamu’alaikum bu”ujar Adam.

“Wa’alaikum salam”suara seorang wanita paruh baya terdengar di ujung telpon.

“Gimana keadaan kamu disana, sehat?”lanjutnya.

“Alhamdulillah, berkat doa semuanya. Adam baik-baik saja”jawab Adam

Di ujung telpon bu Fatimah menghela nafas lega, “Syukur klo gitu”

“Bu, ibu masih pengen cepet-cepet dapet cucu dari Adam khan?”tanya Adam

Bu Fatimah terkejut, gagang telpon di tangannya hampir terlepas.

“Maksud kamu apa Dam?”tanyanya

“Adam sudah menemukan calon pendamping hidup Adam bu, wanita yang akan melahirkan anak-anak Adam”jelas Adam.

“Alhamdulillah….siapa Dam? Siapa calon mantu ibu itu?”tanya bu Fatimah kegirangan.

“Hawa..”jawab Adam.

“Hawa? Apa maksudnya Dam? Bukannya dulu juga kamu menolak dijodohkan sama Hawa, kok sekarang, aduuh ibu jadi bingung”ujar ibunya

Adam tersenyum, “Maaf ya bu, dulu Adam menolak dijodohkan dengan Hawa. Sekarang Adam sudah melihat kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri Hawa. Dan InsyaAllah Adam sudah mantap memilih Hawa sebagai calon pendamping hidup Adam”jawab Adam mantap.

“Ah, ibu bingung sama kamu. Ya, tapi nggak apa-apa sih. Ibu seneng klo akhirnya kamu menikah dengan Hawa”jawab ibunya.

“Jadi kapan ibu dan bapa mengizinkan Adam untuk melamar Hawa?”tanya Adam.

“Haah, kamu kok buru-buru banget, emangnya ada apa Dam?”ibunya bertanya balik.

“Enggak sih, Adam takut keduluan sama yang lain Bu hehe,,”jawab Adam kemalu-maluan.

“Kamu ini, kalau sudah jodoh pasti gak akan kemana khan!?”jawab ibunya.

“Iya, insyaAllah bu”ujar Adam.

“Nanti ibu akan rundingkan dulu dengan bapak, kamu konsen kuliah aja dulu, biar ibu yang lamarin Hawa buat kamu”jawab ibunya.

“Alhamdulillah,,,,terima kasih ya bu”ucap Adam tulus

Adam membicarakan rencananya untuk melamar Hawa pada ustadz Malik. Walau agak terkejut, ustadz Malik menyambut baik niat Adam. Lagipula ustadz itu menganggap Adam memang pantas untuk Hawa, setidaknya setelah 2 tahun mengenal Adam. Dia tahu laki-laki itu bisa membahagiakan keponakannya.

Awalnya Hawa merasa ragu, dia tidak percaya kalau Adam benar-benar akan melamarnya. Ketidakpercayaan, keraguan, dan kebahagiaan tercampur aduk dalam hatinya. Berkat dukungan dari bukdenya, Hawa menerima maksud baik Adam. Keluarga ustadz Malik dan keluarga Adam sangat gembira dengan keputusan Hawa itu, Adam sampai bertakbir dan berguling-guling di kamarnya saking senangnya. Pada awalnya Pak Hasan tidak menyetujui rencana pernikahan mereka, dia masih sakit hati atas penolakan Adam terhadap Hawa dulu. Tapi atas nasihat-nasihat dari ustadz Malik, hati Pak Hasan mulai mencair. Apalagi ketika dia melihat kesungguhan Adam untuk meminta Hawa menjadi istrinya. Hati laki-laki tua itu meleleh, dia mengizinkan Hawa untuk menikah dengan Adam.

Dua keluarga itu bingung menentukan tanggal pertunangan Adam dan Hawa. Melalui perdebatan yang cukup alot, diputuskanlah bahwa hari bahagia itu jatuh dua minggu dari sekarang. Dan pernikahannya sendiri akan berlangsung tiga bulan sesudahnya. Kedua belah pihak sekarang menjadi sibuk, mempersiapkan apa-apa yang mereka butuhkan di hari bahagia itu. Kegembiraan tengah menyelimuti seluruh anggota keluarga, khususnya Adam dan Hawa. Bersama waktu yang terus bergulir mereka memupuk harapan demi harapan. Harapan untuk membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Harapan untuk terus saling mencintai di jalanNya.

Hari-hari menuju pertunangan mereka terasa begitu menyenangkan bagi Adam maupun Hawa. Segala pengorbanan, tangis, dan penantian panjang mereka selama ini sebentar lagi akan terwujudkan dalam sebuah ikatan suci, sebuah ikatan selangkah sebelum menuju pernikahan. Segala harapan dan impian telah mereka rajut jauh-jauh hari. Impian untuk membangun sebuah keluarga di jalan yang diridhai Allah, juga impian untuk menyemarakkan dakwah dengan jundi-jundi kecil yang berbakti pada Allah dan orangtuanya. Sekarang Adam dan Hawa adalah salah satu dari penghuni taman yang disiapkan Allah, sebuah taman untuk orang-orang yang jatuh cinta di jalanNya.

Waktu berlalu begitu cepat, besok adalah hari bahagia itu. Dan siang ini Adam sedang terbaring dengan gelisah di kamar tidurnya. Dia bermaksud mengistirahatkan badannya siang ini. Tapi sedikitpun dia tidak bisa tidur, dahinya berkeringat. Adam merasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Tadi malam dia bermimpi melihat Hawa, dia memakai gaun pengantin yang cantik sekali, dia bersanding dengan seseorang, tapi orang itu bukan dirinya. Adam hanya menjadi salah satu tamu undangan disana. Raut wajah Hawa terlihat sangat bahagia, Adam tak tahu apa makna dari mimpinya itu.

Dia tidak tahan dengan kegelisahan itu, Adam mencoba menghubungi Hp Hawa, tapi baterei Hpnya lemah, dengan tergesa-gesa dia menyambar kunci motor yang tergantung diatas lemari. Setelah menstarter sepeda motornya, Adam langsung mengarahkan kendaraannya menuju rumah ustadz Malik. Setengah jam perjalanan terasa sangat lama untuk Adam. Dia ingin cepat-cepat tiba disana dan melihat keadaan Hawa.

Dari kejauhan dilihatnya halaman rumah ustadz Malik penuh dengan kerumunan orang-orang. Jantung Adam berdegup kencang, pikirannya mulai membayangkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi. Dalam hati dia terus berdoa, semoga Allah melindungi Hawa, semoga tidak ada hal buruk yang menimpanya.

Adam memarkirkan motornya secara sembarangan di samping pagar. Beberapa orang menatapnya dengan pandangan menyelidik, tapi sekarang Adam tidak perduli lagi. Setengah berlari dia masuk ke halaman rumah ustadz Malik. Tercium bau yang sangat dikenalnya, bau kapur barus, bau yang mengingatkannya akan kematian. Jantung Adam berdegup semakin kencang, lututnya mulai gemetar, sendi-sendinya mulai kaku dan ngilu.

“Adam…..”wajah tirus berjenggot muncul dari balik tirai, wajahnya merah menahan sedih. Wajah yang biasanya teduh dan tenang itu sekarang menjadi muram.

Adam menoleh, itu ustadz Malik

“Ada apa ini ustadz? Kenapa ada begitu banyak orang?”tanya Adam panik

Ustadz Malik menepuk pundaknya,”Kamu harus ikhlas ya Dam”ujarnya

Adam menggelengkan kepala tak mengerti,”Apa yang ikhlas? Hawa bagaimana ustadz, dia baik-baik saja khan?”tanya Adam, firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak diharapkan benar-benar sedang terjadi.

Adam melangkahkan kakinya,”Ana harus menemuinya ustadz, ana ingin memastikan dia baik-baik saja”

Ustadz Malik menahan tangannya, “Kalau kamu datang dua jam lebih cepat, mungkin kamu masih bisa melihat senyum Hawa. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat Dam, Hawa sudah mendahului kita. Allah sudah memanggilnya.”

Lutut Adam bergetar hebat, airmata mulai menggenang di matanya.

“Apakah itu benar ustadz?”tanya Adam berharap apa yang didengarnya salah.

“Itu benar Dam, Hawa sudah pergi,,,tadi pagi dia tertabrak mobil, dan nyawanya tidak bisa diselamatkan. Saya sudah berulangkali menghubungi Hp kamu, tapi selalu di luar area”ucap ustadz Malik terbata-bata. Airmata yang sedari tadi ditahannya sekarang keluar. Untuk dia dan istrinya yang belum mempunyai anak, Hawa sudah mereka anggap sebagai anaknya sendiri. Dan sekarang anak yang dicintainya itu sudah pergi mendahului mereka, itu adalah kenyataan yang cukup menyedihkan.

“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun Hawa…….”Adam menyandarkan tubuhnya di pintu masuk. Bau yang mengingatkannya pada kematian itu ternyata adalah kematian Hawa. Wanita yang paling dicintainya. Wanita yang seharusnya besok sudah menjadi tunangannya.

“Takdir macam apa sebenarnya yang kau berikan untukku ya Allah…”ucap Adam lirih. Suaranya tercekat, menahan tangis.

Dalam kekalutannya itu, Adam teringat sebuah pesan singkat yang dikirim Hawa ke telpon genggamnya kemarin,

Assalamu’alaikum.

Mas Adam, hari bahagia itu tinggal dua hari lagi.

Ana merasa sangat bahagia, tapi entah kenapa ana merasa

akan ada kebahagiaan lain yang akan datang, dan jaaauh lebih besar dari ini.

Mas, andaikan Allah tidak berkenan mempersatukan kita, ana harap Mas ikhlas ya.

Biarkan Allah memilihkan jalan yang terbaik untuk kita.

Adam memejamkan matanya, mencoba mengingat lagi seluruh isi pesan yang dikirim Hawa. Hawa seperti tahu kematian yang akan menimpanya.

“Hawa……. Kenapa harus seperti ini?”ujar Adam. Lututnya tak mampu lagi menopang berat tubuhnya, Adam jatuh terduduk. Ustadz Malik menepuk-nepuk pundaknya.

“Sabar Ya Dam, Allah mencintai Hawa. Allah mengambil kembali apa yang menjadi millikNya. Kita hanya dititipi, dan kita tahu suatu saat hal seperti ini akan terjadi. Allah mengambil Hawa dari kita semua, ikhlaskan Dam…., jangan memperberat langkah Hawa disana. Kita doakan saja semoga Hawa tenang di alam sana”tutur ustadz Malik.

“Astaghfirullah hal adziem…Maafkan Mas, Hawa….,Ustadz rasanya semua ini terlalu berat untuk ana. Allah mengambil Hawa sehari sebelum hari pertunangan kami. Dan..dan itu membuat ana…”Adam tak bisa melanjutkan kata-katanya, lidahnya terlalu kelu.

“Ana harus bagaimana ustadz?”Adam mulai menangis terisak-isak. Sekarang Adam seperti burung kecil yang kehilangan sepotong sayapnya. Adam merasa seperti berjalan di kegelapan tanpa pelita, pelita itu telah pergi. Hawa, pelitanya telah menghadap Illahi.

“Ustadz tolong bimbing ana… ana ingin melihat jenazah Hawa”ujar Adam lemah.

Ustadz Malik mengangguk, beliau memapah Adam menuju ke ruang tengah. Disana terbujur kaku jasad Hawa yang sudah mendingin. Matanya yang biasanya selalu penuh harapan dan keceriaan kini kosong dan senyap, tinggal kehampaan yang menandakan bahwa tak ada lagi jiwa yang mendiami tubuh itu. Tiba-tiba Adam merasa rindu dengan senyum lepas Hawa, dia rindu dengan nasihat-nasihat Hawa. Dia rindu dengan ekspresi kegembiraan Hawa saat ayahnya menyetujui pertunangan mereka. Dia rindu….. Asal bisa melihat senyum dan mata itu lagi Adam rela menukar setengah sisa hidupnya dengan senyum di bibir Hawa. Tapi Allah tidak membuat perjanjian dengan Adam, tapi Allah tidak akan menerima tawaran yang diajukannya. Sesungguhnya apa yang ada di langit dan di bumi hanyalah MilikNya, maka sudah hakNyalah untuk mengambil apa yang menjadi milikNya. Dia telah mengambil Hawa, jiwanya…senyumnya…harapannya…dan cintanya….

“Hawa, kamu benar.. Kebahagiaan yang lebih besar memang sedang menantimu. Sebentar lagi kau akan bertemu Allah, dan kebahagiaan itu jauh lebih besar dari pertunangan kita. Mas ikhlas Hawa…”gumam Adam perlahan.

Hai jiwa-jiwa yang tenang.

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al-Fajr-27-30)

Kematian pasti akan datang, seperti janji Allah bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Dan tidak akan pernah ada orang yang tahu tentang kapan ia akan mati. Semuanya menjadi misteri dan rahasia Illahi. Kematian adalah gerbang menuju keabadian. Kebahagiaan abadi, atau penderitaan abadi. Tergantung bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambutnya.

Seminggu setelah kematian Hawa, Adam memutuskan untuk menenangkan diri di Bogor. Tapi di Bogor kenangan-kenangan manis dengan Hawa malah bermunculan. Di setiap sudut kota Bogor Adam bisa melihat keceriaan Hawa. Di halaman belakang rumahnya, di kebun sawi ayahnya, bahkan di sungai yang biasa mereka kunjungi. Kenangan akan Hawa seperti bayang-bayang yang tak mau lepas dari hidup Adam. Dan Adam pun tak pernah berniat melupakannya, biarlah jasad Hawa meninggal, tapi jiwanya masih hidup di hati Adam.

Sebuah perahu kertas kecil terbawa arus di sungai kecil di belakang rumah Adam. Perahu itu terus terbawa air sampai ke sungai yang lebih besar. Dan perjalanannya tidak akan berakhir sampai disana, pemilik perahu itu ingin perahu kertasnya itu berlayar sampai ke tengah samudra. Di perahu kertas itu terselip sebuah surat.

Untuk Hawa

Wanita suci yang sekarang berada di sisiNya

Mungkin kau tidak akan pernah membaca surat ini,

Atau sebaliknya, angin akan memberitahumu isi surat ini

Sebuah surat tentang kerinduanku padamu.

Wanita suci…..

Inginku berjodoh denganmu,

Menjadi laki-laki yang akan kau topang pundaknya

Yang akan kau seka keringatnya,

Yang akan kau berikan senyuman dan candamu

Tapi kau terlalu suci untukku..

Rabb kita telah memanggilmu,

Hingga jodohmu tak ada sampai kau mati,

Karena kau terlalu suci untuk semua laki-laki yang ada di bumi

Mungkin jodohmu sudah menunggu,

Di istana kekal yang disiapkan Rabbmu

Istana yang kau bangun dengan sepenuh pengabdianmu pada Sang Khalik

Istana yang kau bangun dari rakaat demi rakaat shalat malammu.

Wanita suci……akankah kita bertemu lagi?

Apa kau masih setia menungguku disana?

Atau Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik dariku?

Dari yang hatinya selalu mengingatmu

Adam

Keikhlasan adalah harga yang harus disiapkan

ketika kita memiliki sesuatu.

Karena ketika kita mencintai,

Berarti kita harus siap untuk kehilangan.

Leave a comment »

Bunda, Aku mencintaimu…

“Bunda, aku mencintaimu….”

Ucapku di sebuah siang yang cukup terik. Kau memegang kepalaku dan berkata, “Kok gak biasanya, ada apa ra?”. Aku menyunggingkan senyum paling indah untuknya, “tak ada apa-apa bunda”. Ikhwah,,hari itu aku tersadar akan sesuatu, keheranan bundaku dengan ucapanku karena selama ini aku jarang mengucapkan kata-kata itu padanya, padahal di hatiku tersimpan kecintaan dan kekaguman yang luar biasa pada sosoknya yang begitu bersahaja.

Kulihat kau sibuk dengan pekerjaanmu, tautan alis di matamu cukup membuatku tahu bahwa pekerjaan yang sedang kau lakoni cukup menguras energi dan pikiranmu. Subhanallah bunda, begitu gigihnya kau berjuang untuk kami, hingga tak kau perhatikan tetes demi tetes peluh yang mulai membasahi wajahmu yang teduh. “Mau Ra buatin teh manis bunda?”tawarku, kau tersenyum dan mengangguk. Duhai bunda, baru kusadari sekarang betapa manisnya senyummu, senyum bidadari dunia yang selama ini tak kusadari selalu berada di sisiku. Gurat-gurat tanda penuaan mulai muncul di wajahmu, beberapa helai uban nampak mulai terlihat di kepalamu, ahh..itukah tanda kalau waktu sudah berlalu dengan sangat cepat bunda?

Pikiranku mengelana, masih terbayang di benakku bunda sebuah peristiwa menyedihkan yang dengan peristiwa itu aku bisa mengambil ibrah dan lebih mencintaimu. Label aktifis dakwah sudah melekat di diriku, keseharianku penuh dengan usaha-usahaku untuk membuat ummat berada di jalan yang benar. Lelah yang kudera tak lagi aku rasa, semuanya demi mencapai ridhaNYA. Kau sering menasihatiku bunda,,agar aku lebih memperhatikan kesehatanku. Kau sering manasihatiku bunda agar meluangkan sedikit waktu untuk sekedar menemani si kecil Rama bermain, tapi seringkali kutepis nasihatmu dengan mengatasnamakan urusan dakwah. Kulewati sore indah yang seharusnya kuisi dengan bercengkrama dengan keluarga kita dengan kegiatan-kegiatan syuro yang sebenarnya tidak terlalu mendesak. Saat malam hari aku pulang kulihat kau sudah tertidur lelap di ranjangmu, aku baru ingat bunda hari ini aku baru 5 menit melihatmu.

Besok ada rapat bunda, terpaksa aku tak pergi bersama kalian, padahal hari itu kita semua bisa berkumpul sekeluarga, sesuatu yang agak jarang kita dapatkan di tengah kesibukan kita masing-masing. Kulihat rona kekecewaan di wajahmu, ahh..aku tak ingin mengecewakanmu bunda, tapi apa daya, aku tak bisa membatalkan janjinya. Kau melepas kepergianku dengan senyum, meski aku tahu seperti apa kelabu yang ada di hatimu. Tapi aku tetap egois bunda, gundahmu tak lantas membuatku sadar bahwa aku sudah semakin menjauh darimu. Kujalani hari-hari masih dengan egoku yang sangat tinggi, egoku untuk mengakui bahwa aku sangat merindukanmu bunda. Sekeras mungkin aku mencoba untuk tak bergantung padamu bunda, aku ingin menjadi anak mandiri yang tidak kan menyusahkanmu. Dan begitu juga sebaliknya kau tak mau membiarkanku menghadapi semuanya sendirian. Walau dengan langkah tertatih-tatih sekalipun kau tetap menjagaku. Duhai bunda, maafkan aku yang waktu itu belum tahu itu adalah bukti kebesaran cintamu padaku, aku menampakkan ekspresi kurang suka dan menganggap kau terlalu mengekangku (astagfirullah…). Sungguh bunda, tak ada peristiwa yang lebih kusesali selain saat aku menyakiti hatimu, tapi keegoisan membungkam mulutku untuk berterus terang kalau akulah sebenarnya yang salah, yang tidak bisa menerima nasihatmu dengan kebesaran hati dan pikiran panjang. Rasanya lidah ini kelu setiap aku ingin meminta maaf darimu, kubiarkan persoalan itu berlarut-larut samapai tak kita sadari sudah ada jarak yang lebar diantara kita. Aku hanya bisa menangis di kamar tanpa sepengetahuanmu bunda, menyalahkan diriku sendiri yang tak bisa mengakui kesalahan sendiri. Rona kekesalan masih terpancar di wajahku, tapi senyum manis nan indah masih terus menghiasi wajahmu. Wahai bunda, kenapa senyum itu tak terasa hambar walaupun kau tahu kalau aku sedang kesal padamu? Sungguh itu membuatku semakin menderita.

Suatu sore aku melihatmu menangis bunda,,hancur hatiku melihat butir demi butir airmata berjatuhan dari matamu yang penuh dengan ketulusan itu. Kuberanikan diri untuk sekedar bertanya “Kenapa bunda?”, subhanallah,,akhirnya aku bisa menyapamu bunda, setelah hari-hari penuh kebisuan yang kita lewati. Kau menghapus airmata dengan ujung jilbabmu yang mulai lusuh, seperti biasa kau tak pernah mau bercerita padaku. Tapi bunda, untuk kali ini aku tak ingin melihatmu menangis lagi, dengan segenap rasa ingin tahu yang aku punya, aku memaksamu untuk bercerita. Lututku bergetar saat mendengar ceritamu, keangkuhanku sebagai seorang anak runtuh sudah. Kisah pilu mengalir dari mulutmu, mulut yang tak henti menyebut asmaNya. Kuraba jantungku yang mulai berdetak lebih kencang, kubiarkan airmata yang menggenang itu keluar berlimpah ruah, dengan menyingkirkan semua kesombongan dan keegoisanku aku bersimpuh di pangkuanmu bunda. Kata-kata yang kau ucapkan tidaklah serumit kata-kata para filsafat, yang ketika kita mengerti artinya kita akan dibuat kagum, kata-katamu tidaklah sindah kata-kata para penyair yang membuat orang yang mendengarkannya bisa dipenuhi berbagai macam emosi, kata-katamu sangat sederhana bunda. Secuil unek-unek yang kau simpan di hatimu sebagai seorang ibu. “Bunda rindu pada kamu Ra,,,sudah lama kamu tidak ikut kegiatan keluarga kita, dan sudah lama juga bunda melihatmu sepertinya kecapaian dan kehilangan semangat. Bunda merasa sedih dengan semua itu, kamu yang tak bisa menjaga kesehatanmu sendiri membuat bunda sedih, kamu yang lebih mementingkan urusan dakwah dibanding momen2 penting dengan keluarga membuat bunda sedih. Sudah beberapa minggu ini bunda merasa kamu menjauh dari bunda. Ada apa Ra, bunda minta maaf y bila bunda punya salah sama kamu.”

Aku tak bisa menahan tangisku, dalam pelukannya aku terisak-isak seperti anak kecil. Kupeluk juga dia erat agar mutiara surga itu tak hilang dari dekapanku. Sungguh bunda, aku telah sangat berdosa padamu, ingin rasanya kuganti setiap tetes airmata yang keluar dari matamu dengan tetesan darah dari tubuhku. Melihatmu menangis, apalagi jika aku yang membuatmu menangis jauh lebih menyakitkan bagiku dibanding dengan sabetan seribu pedang dan hujaman seribu anak panah. Kuberanikan diri menatap mata teduhmu yang kini basah dengan airmata-airmata cinta. Kubisikkan sesutau yang selama ini terhalang oleh kesombonganku, “Bunda maafkan aku, aku tak tahu jika hal ini membuatmu sangat terluka. Aku menyesal bunda,,,tolong jangan menangis lagi, karena itu akan membuatku semakin merasa sakit”. Dengan lembut kau mengusap kepalaku, “kamu tahu nggak kenapa kamu diberi nama panggilan Aisyah RA?”tanyamu padaku. Aku menggelengkan kepalaku, “Bunda ingin kau seperti Aisyah RA, yang tidak hanya menjadi panutan untuk ummat karena kecerdasannya, tapi juga menjadi panutan di keluarganya. Bukan hanya berkiprah untuk ummat tapi juga berkiprah untuk keluarga. Bunda dan Ayah sudah menyiapkan nama itu 3 bulan sebelum kamu lahir, padahal waktu itu kami belum tahu kalau yang akan lahir adalah anak perempuan. Yahh pada akhirnya kami berdua sangat bahagia saat kamu lahir, dan langsung menamakanmu dengan namanya. Di nama itu ada harapan kami, harapan bunda dan ayahmu. Nama itu bukan semata-mata panggilan untukmu sayang, tapi nama itu adalah doa dari kami untukmu” ujarmu sembari menyunggingkan seulas senyum.

Sungguh bunda, kembali pecah tangisku. Beribu-ribu ampun kupanjatkan padaNya karena telah banyak menyakiti hatimu. Aku tak ingin menjadi anak durhaka, aku tak ingin menjadi anak yang tak tahu berbals budi. Runtuh sudah benteng keangkuhan yang mengelilingiku, pecah sudah tabir gengsi yang awalnya membungkus erat diriku. Bunda,,,,,aku minta maaf…. Tak akan kuulangi lagi perbuatan yang bisa membuat hatimu tercabik, tak akan kulakukan apapun yang akan membuatmu mengeluarkan tangis itu. “Ya Rabb,,,bantu aku menjadi anak yang shalihah untuk kedua orangtuaku, jangan jadikan keangkuhanku sebagai dinding penghalang untuk berbakti pada mereka. Kau Yang Maha Tahu isi hati semua makhluk, Yaa Muqallibuul quluub, buatlah hatiku agar semakin cinta pada mereka, khususnya pada bundaku”

Hari itu, seminggu setelah kejadian itu. Kulihat kau duduk di teras sedang memandangi rumpun mawar kita yang mulai bermekaran. Tanpa ragu kupeluk kau dan kuucapkan, “I Love U bunda thanks for everything,…..” Mulai saat ini dan seterusnya, akan kuucapkan rasa cinta dan terima kasihku padamu tanpa terhalang oleh kesombonganku lagi. Aku berjanji akan meluangkan waktu untuk sekedar bercengkrama bersamamu, karena aku begitu ingin melihat senyummu. Wahai bunda, saat ini kau adalah anugrah terindah dalam hidupku..dan tak akan kusia-siakan

Teruntuk teman2ku di jalan dakwah, ingatlah bahwa tak ada artinya jika kita banyak meluangkan waktu untuk membantu orang lain sementara waktu untuk keluarga menjdi terbengkalai. Sesekali tanyalah orang-orang terdekat kita, apa mereka masih memiliki kita atau telah merasa kehilangan kita. Karena subhanallha hal sekecil itu bisa menimbulkan akibat yang besar, entah itu negatif atau positif. Doakan ana agar perjuangan di jalan dakwah ini tak membuat ana mengorbankan perasaan orang-orang yang menyayangi ana

Leave a comment »

Hijab

What do you see when you look at me

Do you see someone limited, or someone free?

All some people can do is just look and stare

Simply because they can’t see my hair.

Others think I am controlled and uneducated

They think that I am limited and un-liberated.

They are so thankful that they are not me

Because they would like to remain ‘free.

‘ Well free isn’t exactly the word I would’ve used Describing women who are cheated on and abused.

They think that I do not have opinions or voice

They think that being hooded isn’t my choice.

They think that the hood makes me look caged

That my husband or dad are totally outraged.

All they can do is look at me in fear

And in my eye there is a tear.

Not because I have been stared at or made fun of

But because people are ignoring the One up Above.

On the Day of Judgment they will be the fools

Because they were too ashamed to play by their own rules.

Maybe the guys won’t think I am a cutie

But at least I am filled with more inner beauty.

See I have declined from being a guy’s toy

Because I won’t let myself be controlled by a boy.

Real men are able to appreciate my mind

And aren’t busy looking at my behind.

Hooded girls are the ones really helping the Muslim

cause The role that we play definitely deserves applause.

I will be recognized because I am smart and bright

And because some people are inspired by my sight.

The smart ones are attracted by my tranquility

In the back of their mind they wish they were me.

We have the strength to do what we think is right

Even if it means putting up a life-long fight.

You see we are not controlled by a miniskirt and tight shirt

We are given only respect, and never treated like dirt.

So you see, we are the ones that are free and liberated

We are not the ones that are sexually terrorized and violated.

We are the ones that are free and pure

We’re free of STD’s that have no cure.

So when people ask you how you feel about the hood

Just sum it up by saying ‘Baby, its all good!’

Leave a comment »

Aku Adalah Pendosa

Di keheningan malam

Aku mengadu padaMu

Di tengah senyap sunyi

Aku berdialog denganMu

Rabb….

Kugaungkan melodi cinta untukMu pagi ini,

Dan kukhianati kepercayaanMu dengan dosaku siang nanti

Dan Kau masih menyempatkan waktuMu untuk mendengarkan curhatku

Kulantunkan dzikir untukMu di mulutku

Kusematkan asmaMu diantara hambaMu

Tapi ada satu hal yang tak mereka tahu,

Kalau ternyata jiwaku tak menjemput ridhaMu

Yaa Rabb Yaa Muluk

Kewajibanku mengingatkan hambaMu yang buruk

Meski ternyata malah hatiku yang lebih busuk

Karena dipenuhi rasa hasud dan kemaruk

Yaa Rabb , Engkau Yaa Illahi

Setiap hari diri ini merasa suci

Berhak meraih dan mendapatkan surgawi

Padahal Kau Maha Mengetahui Apa yang ada di hati

Bahwa hambaMu ini hina dan tak terpuji

Yaa Ghaffar….

Tak dapat kutuliskan semua dosaku disini

Karena niscaya akan habis seluruh tinta di dunia ini

Kulihat sesosok tubuh di dalam cermin, dan aku merasa jijik

Sosok pendosa yang nista dan tak tahu diri

Kau Maha Tahu Yaa Rabb, kalau sosok itu adalah aku..

Pecah tangisku diatas sajadahmu Tuhan…

Memohon seberkas ampunan dan harapan

Menangisi lautan dosa yang menutupi kebaikan

Ternyata selama ini telah sesat aku berjalan

Merasa diri yang terbaik dan tak memandang kawan

Kembali kurasakan tangan-tangan cintaMu

Meraih tubuh hina yang berlumuran dosa ini

Menuntunku menuju jalan yang seharusnya

Pecah tangisku lagi…

Tuhan,,,kenapa aku terus saja mengkhianatiMU,

Sementara kau tak pernah meninggalkanKU?

By : Hima

Leave a comment »

…………

Hari ini aku menyaksikan bahwa ternyata manusia bisa menjadi  iblis untuk mencapai sebuah tujuan yang mulia. Aku tak tahu lagi, sebenarnya sudah sejauh mana kejujuran itu terbang dari kehidupan kami.  Semua orang tiba-tiba bisa melakukan apa saja untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya, meskipun jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang tak pantas dilalui oleh orang terhormat seperti mereka. Rasa kasihan adalah azas yang dijunjung diatas segalanya, kemenangan yang kotor adalah lebih baik dari kekalahan yang terhormat. Ah,,miris, dan anehnya, aku terjebak dalam lingkaran ini.

Tingkah lakuku menjunjung tinggi kemenangan di atas segalanya. Aku adalah serigala ambisius yang tak akan pernah berhenti sampai tujuan yang ingin kucapai terwujud.  Tapi hatiku berontak, percayalah ! ada secuil kebenaran disana yang mempertanyakan eksistensiku sebagai manusia yang berbudi.  Aku merasa lelah dengan diriku sendiri, lelah karena terkadang membela teguh kebenaran tapi di lain waktu kadang aku membuang kebenaran itu tanpa ragu. Apa sebenarnya yang aku cari? Kepuasan seperti apa yang akan menghentikanku dari pencarian yang bahkan aku tak tahu untuk apa aku mencari?

Kejujuran adalah sebuah kebenaran, seperti halnya sebuah kesetiaan. Aku sekarang terjebak dalam kumpulan eksistensi-eksistensi yang memuja kebohongan, dan menganggap kejujuran adalah faktor yang menghambat keberhasilan. Dimana nurani? Mungkin sudah hilang dibawa pergi angin malam. Aku ingin menjerit, memaksa semuanya untuk membuka mata, bahwa kejujuran sudah pergi terlalu jauh dari hidup kita, tapi aku tak bisa. Kecurangan telah menyelimutiku dengan pesonanya, dan aku belum menemukan jalan untuk kembali. Aku lelah……..

Leave a comment »

Dari Allah Untuk Aisyah

DARI ALLAH UNTUK AISYAH

OLEH :HUMAIRA

Aisyah memandang buket bunga yang ada di hadapannya, dengan tergesa-gesa dia mengambil pesan singkat yang digantung di ujung tangkainya. Pelan-pelan ia membuka dan membacanya,

Untuk bunga yang selalu bersemi dalam hidupku

Hatiku menjadi tandus semenjak kepergianmu.

Kembalilah bungaku, siram hati ini dengan ceriamu.

Agar aku bisa tertawa lagi, karena aku sangat mencintaimu.

Radith

Pikirannya berkelana, buket bunga itu seperti pusaran yang menariknya mundur ke masa lalu. Masa-masa SMP yang penuh kenangan, masa untuk pertama kalinya ia mengenal arti cinta, bersama anak laki-laki pemalu itu,Radith. Tiba-tiba ia merasa pening, Kenapa kamu harus datang lagi dalam hidupku Radith. desahnya.

Kenangan masa lalu itu semakin terlihat jelas di kepalanya. Dan semakin jelas kenangan itu muncul, keyakinan Aisyah akan prinsipnya sendiri mulai goyah. Mungkin ia akan dengan mudah mengatakan tidak pada laki-laki lain, tapi pada Radith? Ahh..Tuhan, apakah Radith adalah bagian dari ujianmu? Bergantian ia menatap buket bunga dan pesan itu, semakin lama, semakin bimbang hatinya. Haruskah aku menyimpannya, atau membuangnya ? gumamnya.

Lantunan asma’ul husna terdengar dari telpon genggamnya, menandakan ada pesan yang masuk. Aisyah mengambil telpon genggamnya, dilihatnya nama yang muncul di display hpnya, ia agak terkejut, Radith ! Dengan gemetar dibacanya sms itu,

Ass. Orchid, ingat? Aku selalu memanggilmu dengan nama itu, kmu sudah terima buket bunga itu? Aku tulus mencintaimu. Maukah kamu menjadi bidadari hatiku lagi?

Aisyah berdiri mematung, dibacanya pesan itu sekali lagi, ia berharap apa yang barusan dibacanya adalah halusinasinya saja. Ia berharap buket bunga dan pesan itu hanyalah mimpi semata, dan ketika ia bangun besok, semuanya akan normal kembali. Tapi semua ini kenyataan, bunga itu, dan pesan itu..ah..semakin ia memikirkannya, semakin rumit otaknya untuk menemukan jalan keluarnya. Takdir apa yang mempertemukan kami kembali? tanyanya dalam hati.

Sudah satu minggu ini Radith terus-menerus menelpon dan mengiriminya pesan-pesan singkat. Aisyah merasa risih dengan semua itu. Mungkin dulu Radith memang pernah singgah di hatinya, tapi sekarang semuanya telah berubah. Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan itu sudah hilang dan hampir tak berbekas. Dia benar-benar ingin menjadi seorang muslimah sejati, dia ingin menolak ajakan Radith untuk berpacaran dengannya.Dia juga punya alasan lain, alasan itu adalah karena sekarang di hatinya sudah ada Dafa, seorang laki-laki yang diharapkannya menjadi imam yang baik untuknya kelak.

Dengan sigap Aisyah mengambil ponselnya, mengetik beberapa kalimat yang akan dikirimkannya pada Radith :

Ass. Maaf, ana sama sekali belum punya bayangan kesana. lagipula ana masih mau konsen sekolah. Ana pikir untuk sekarang hubungan kita hanya sebatas urusan pertemanan. Urusan jodoh dengan siapa, dimana, dan kapan, hanya Allah yang tahu.

“Ukhti, Ukhti Aisyah …” gadis berjilbab lebar itu melambaikan tangannya kearah Aisyah. Aisyah terus berjalan, pikirannya yang sedang tertuju pada Dafa membuatnya tidak meyadari kalau gadis itu berteriak memanggilnya. Dengan setengah berlari gadis itu menghampirinya, “ Hei, kenapa sih dari tadi dipanggil gak nengok-nengok. Seneng ya liat aku lari-lari kayak tadi?” Tanya gadis itu dengan terengah-engah, setengah kehabisan nafas karena sudah setengah berlari menghampiri Aisyah, apalagi sekarang ia harus menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah kaki Aisyah, yang termasuk “tempo cepat” diantara akhwat lainnya. Aisyah terkejut, ia tidak menyadari ada orang yang menghampirinya, sampai suara Kania, sahabatnya itu mengagetkannya.

“A..Afwan banget ya..ukh, ana nggak nyadar klo anti manggil-manggil ana dari tadi. Afwan banget ya.” Aisyah menjawab agak terbata-bata.

“Emang ada apa sih, anti kelihatan lesu pagi ini, ada masalahya? Cerita dong” Tanya Kania dengan ekspresi mengharap seperti Sinchan yang berharap dapat biscuit Chocobi.

Ahh, Aisyah tak mau menceritakan hal yang mengganggu pikirannya itu pada orang lain, terlebih pada Kania. Akhwat satu ini memang terlalu polos. Saking polosnya, hal yang seharusnya rahasia pun bisa sampai ke seantero sekolah. Lalu kalau masalahnya ini sampai ke telinga Ketua keputrian, alamakk..mau ditaruh kemana muka Aisyah. Zahra pasti marah besar, Aisyah pasti akan diberi ‘penyegaran rohani’ berjam-jam lamanya. Masa seorang akhwat di rohis banyak ngelamun gara-gara seorang ikhwan ?

“Nggak ko, nggak apa-apa. Ana cuma lagi bingung, buat agenda bazaar buku yang jadi koordinatornya siapa ya?” setelah berpikir cukup lama, akhirnya Aisyah menemukan jawaban yang tepat untuk Kania.

“hmm,,denger-denger dari ukhti Zahra sih, katanya koordinator nya antara anti sama akhi Ardi.tapi kurang tahu juga sih”jawab Kania.

Aisyah terkejut, ia menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajah sahabatnya itu dengan tatapan meminta penjelasan. “itu bohong khan, yang tadi cuma becanda khan. Masa ana yang jadi koordinatornya?”Tanya Aisyah.

“Makanya ana bilang denger-denger, soalnya ana takut salah hehe,, yang ana denger sih kayak gitu. Uupss..ana jadi lupa niat ana manggil anti, ana cuma mau ngingetin, jangan lupa nanti pulang sekolah kita ada rapat pembentukan panitia, mungkin anti lho yang jadi koordinator nya. Yahh..gak terlalu sulit khan hehe..”jawab Kania diplomatis.

“Yah..kita liat aja nanti. Menurut ana sih, akhi Dudi pasti nyerahin tugas koordinator sama akh Ardi, ato kalo pun diserahin sama akhwat, pasti ke ukh Zahra, ya khan?”kata Aisyah

Kania hanya mengangkat bahunya, ia tersenyum.

Jam pelajaran terakhir dilalui Aisyah tanpa semangat. Rasanya dia ingin cepat pulang ke rumah, mandi dan tidur. Seluruh badannya pegal-pegal, ahh..pelajaran olahraga kali ini benar-benar melelahkan. Apalagi siang ini, ada rapat rohis, dia tidak boleh bolos dan pulang ke rumah.

Bel pulang berbunyi, setelah guru mata pelajaran fisika mengizinkan anak-anak untuk pulang, dengan tergesa-gesa Aisyah berjalan menuju mushala yang ada di samping laboratorium komputer. Susana di sekitar mushala belum terlalu ramai, hanya ada beberapa anak yang sedang melepas sepatu dan bersiap-siap mengambil air wudhu. Aisyah melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu akhwat. Ada dua orang anak kelas dua yang sedang berwudhu, dua-duanya anak rohis. Aisyah memilih tempat wudhu paling pojok. Sebelum berwudhu, ia memandang sekeliling, hmm,,tempat wudhu ini selalu kelihatan bersih dan terawat. Pak Umar, penjaga sekolah ini memang benar-benar orang yang cinta kebersihan.

Percikan air dingin pertama yang membasuh wajahnya, membuatnya mulai segar kembali.dan percikan-percikan selanjutnya sudah mengembalikan 100% semangatnya. Alhamdulillah..ya Allah aku masih bisa mendapat air dengan mudah seperti hari ini. Padahal di luar sana ada orang yang sampai harus bekerja sangat keras untuk mendapatkan air. Dibasuhnya kakinya dengan hati-hati, ada bekas luka yang belum sembuh disana, bekas luka karena jatuh dari tangga empat hari yang lalu.

Bismillah..Aisyah melangkahkan kakinya ke dalam mushala. Mushala itu terlihat mungil dari luar, namun dalamnya cukup luas untuk menampung 150an orang. Memang tidak cukup sih untuk SMA Harapan Bangsa yang mempunyai siswa sekitar 800-an lebih, tapi setidaknya ini lebih baik daripada sekolah lain yang bahkan ada yang tak punya mushala sama sekali. Di dekat pintu ada lemari berukuran sedang yang dipakai untuk menyimpan mukena dan Al-Qur’an. Di sebelahnya ada rak kecil yang berisi buku-buku sumbangan dari alumni, yahh..buku-buku yang diperuntukkan unmtuk jemaah yang datang ke mesjid ini, meskipun pada akhirnya, anak-anak rohis lagi yang membacanya. Siswa yang lain jarang yang menyempatkan waktunya untuk melihat-lihat apalagi membaca koleksi buku-buku. Kebanyakan dari mereka pergi meninggalkan mushala setelah berdoa, bahkan banyak pula yang langsung pergi setelah salam. Yahh.setidaknya mereka masih ingat untuk shalat tepat pada waktunya.

Aisyah mengeluarkan mukena biru yang dilipat dengan rapi dari tasnya. Mukena itu harum, dia sudah mencucinya kemarin. Ia jadi semakin semangat untuk menghadap Sang Khalik. Di tempat shalat akhwat itu hanya ada tiga orang, Aisyah sendiri, dan dua anak rohis yang tadi berpapasan dengannya di tempat wudhu. Kadang ia merasa kagum dengan kedua anak rohis itu, ghirah jihadnya tinggi sekali. Sesibuk apapun, ia pasti melihat keduanya menyempatkan diri untuk shalat disana.

“Ukh, hari ini rapat ya?” Tanya Afifah, salah satu dari dua anak itu.

“Ukh, mau datang khan?”pertanyaan selanjutnya datang dari anak yang lainnya, Anita. Akhwat bertubuh mungil itu berbicara sambil mengapit peniti dengan mulutnya, membuat meringis siapapun yang melihatnya.

Aisyah tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Iya…”

“klo gitu kita duluan ya ukh, sampe ketemu di meeting”kata Afifah dan Anita hampir berbarengan.

Aisyah jadi sendirian, tapi justru ini jadi keuntungan untuknya, kekhusu’annya bisa lebih terjaga. Setidaknya itulah yang dia rasakan. Empat rakaat telah selesai ditunaikannya, kewajibannya telah ia tunaikan. Ada rasa lega yang menyelinap di dalam hatinya. Lega karena walaupun ajal menjemputnya, ia telah menunaikan kewajibannya hari ini. Benar katamu Ya Allah..hanya dengan mengingatmu hati menjadi tenang. Gumam Aisyah. Usai shalat dia pun meminta ampun kepada Rabb-nya atas segala kesalahan yang telah ia lakukan. Dan meminta perlindungan dari segala marabahaya yang mungkin terjadi, dan doa-doa lainnya yang hanya diketahui oleh Rabb-nya dan dirinya. Ketika ia berdoa pada Allah untuk memberinya jodoh yang tepat, entah kenapa bayangan Dafa muncul di benaknya. Mukanya memerah, ia beristighfar berkali-kali. Apalagi ini ya Allah?

Rasanya Aisyah malas untuk menyimak seluruh isi rapat hari ini, sampai keputusan rapat yang mengejutkan itu memaksanya berkonsentrasi penuh pada rapat.

“Interupsi, barusan kalau ana tidak salah dengar, akh Dudi menunjuk ana sebagai koordinator, apa itu serius?”tanya Aisyah.

“Benar ukh, setelah kita pertimbangkan rasanya anti yang paling cocok dengan jabatan ini. Ukhti banyak link ke para penerbit buku khan? Trus untuk bintang tamu, kita bisa undang nasyidnya ustadz dafa khan? Akan lebih terorganisir kalau koordinatornya anti. Kita juga sudah mempertimbangkan ini semua matang-matang. Dan alhamdulillah semuanya setuju. Ukhti sendiri, bersedia atau tidak diberi amanah seperti ini?” Dudi balik bertanya.

Aisyah gelagapan, ia membayangkan tugas berat yang menantinya sebagai seorang coordinator acara,kemudian terlihat tumpukan makalah-makalah yang harus ia selesaikan, ibunya yang menyuruhnya untuk mengurangi aktifitasnya, jadwal kegiatan organisasi diluar sekolah yang semakin padat. Dengan semua aktifitas itu, bagaimana ia bisa menjadi seorang koordinator? Bukan berarti dia tidak ingin cape, tapi ia takut tidak bisa menyelesaikan amanah itu dengan baik. Aisyah merangkai kata-kata yang tepat untuk jawabannya, tapi sebelum otaknya berputar mencari solusinya, mulutnya sudah terlebih dahulu merespon,

“Ba..baiklah, kalau ini sudah menjadi keputusan semuanya. Ana akan melaksanakan amanah ini sebaik-baiknya.”jawab Aisyah terbata-bata.

Aisyah tertegun, ia sendiri terkejut dengan yang dikatakannya. Tapi dia tidak bisa mencabut kembali omongannya. Dan keputusan itu sudah disahkan oleh sang ketua. Ia hanya bisa berdoa. Ya Allah berilah hamba kekuatan dan kemampuan untuk meyelesaikan amanah ini.

“Sekarang saya persilahkan koordinator acara ini untuk duduk di depan bersana saya, da mulai merancang konsep untuk bazaar buku tahun ini.”lanjutnya.

Aisyah hanya mengangguk, pasrah dengan penunjukannya ini. Apalagi setelah melihat senyum kemenangan Kania, ah rasanya makin berat saja langkahnya menuju kursi yang disediakan Akhi Dudi.

Menit-menit pertama Aisyah merasa gelisah duduk disana, ia merasa tak berkompeten untuk menjadi seorang koordinator. Tapi menit-menit berikutnya bicaranya mulai panjang dan berapi-api. Di kursi pojok Kania tersenyum, sahabatnya itu harus dipaksa dulu agar bisa mengeluarkan kemampuannya.

Rapat berjalan cukup alot, terutama tentang tim nasyid mana yang akan menjadi bintang tamu di acara itu. Suara terpecah menjadi dua, ada yang merekomendasikan tim nasyid “Peace voice” yang digawangi oleh akhi Reza, ada juga yang lebih setuju menjadikan tim nasyid “Shoutul Haq” yang digawangi Dafa sebagai bintang tamu. Sebelum polling selesai, adzan asar telah lebih dahulu berkumandang. Sebagai umat yang taat, mereka semua menghentikan aktifitasnya untuk sementara, mendengarkan ajakan beribadah yang diucapkan orang di seberang speaker.

“Teman-teman semua, adzan asar sudah berkumandang. Ada baiknya rapat kita tunda dulu. Kita shalat berjamaah dulu, setelah itu rapat kita lanjutkan terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum.”ujar Akhi Dudi sembari meninggalkan ruangan, tindakannya itu diikuti oleh peserta rapat lainnya.

Para peserta rapat berduyun-duyun menuju mushala. Sedangkan akhwat yang sedang halangan bertugas untuk menjaga barang-barang milik peserta rapa lain yang sedang shalat.

Aisyah merenung sembari memainkan ujung jilbabnya. Setelah penunjukkan drirnya itu, ia harus menunjukkan usaha maksimal yang ia bisa. Dalam benaknya, ia mencoba membayangkan acara bazaar buku itu berlangsung sesuai dengan konsep mereka, mencari setiap kelemahan dan menggantinya dengan ide baru yang akan diajukannya pada rapat selanjutnya.

Lamunannya terhenti saat seseorang menepuk punggungnya,

“Aisyah, kamu ngelamun ya?” Tanya Zahra

“Ya? Ehh.,.apa? ng..nggak kok.Cuma lagi mikirin rapat hari ini.”jawab Aisyah

Zahra menghela nafas, “Hhmm..ternyata benar yang dikatakan ukh Kania, anti akhir-akhir ini banyak ngelamun ya. Klo anti punya masalah, anti bisa cerita pada ana kok.”

Zahra adalah sahabat dekatnya, sahabat seperjuangannya. Mereka berdua telah berbagi tangis dan kegembiraan bersama-sama. Mereka juga saling mengingatkan bila ada salah satu sahabatnya yang berbuat salah.

Aisyah berpikir, andai saja ia bisa menceritakan semuanya pada Zahra. Tapi sayangnya, dirinya terlalu segan untuk menceritakan masalah itu pada Zahra. Ia takut Zahra akan memberikan jawaban yang pahit walaupun itu benar. Ya Rabb..kenapa manusia kadang tidak mau mendengarkan kebenaran yang baik untuknya? Aisyah tidak tahu, ada satu sisi dalam dirinya yang ingin menerima kebenaran itu walaupun pahit, tapi sisi lainnya menolak untuk mendengarkan kebenaran itu.

Aisyah menggenggam tangan Zahra, ditatapnya wajah tirus itu lekat-lekat.

“Nanti kalau aku siap, aku pasti bicara.”ujarnya.

“Oke, aku percaya sama kamu. Tapi masalah itu enggak ngeganggu tugas kamu khan?”Tanya Aisyah.

Aisyah menggelengkan kepalanya. Semoga saja, semoga.ujarnya dalam hati.

Zahra membetulkan kerudungnya, sekali lagi ditatapnya sahabatnya itu,

“Ukh, menurut anti, tim nasyid mana yang cocok buat jadi bintang tamu di acara kita?”Tanyanya

Dahi Aisyah berkerut, tim nasyid untuk bintang tamu? Saking sibuknya membayangkan konsep acara, ia sampai lupa dengan hal itu. Dibanding-bandingkannya kembali dua tim nasyid itu. Ah..tetap saja ia tidak bisa membuat penilaian yang objektif. Ustadz Dafa, ustadz muda itu tergabung dalam shoutul haq, dan itu tentu saja mempengaruhi pemilihannya. Hatinya berontak, mengingat Dafa seperti membawa luka lama yang mengiris-iris hatinya. Setelah kabar mengenai desas-desus perjodohan Dafa didengarnya minggu lalu, ia jadi tidak ingin bertemu muka dengan laki-laki itu. Ia takut ia tidak bisa menahan airmata, apalagi untuk mengontak shoutul haq mereka perlu konfirmasi dengan Dafa. Dan sebagai koordinator tentunya itu sudah merupakan tugas Aisyah. Kalau ia boleh egois, mungkin ia akan merekomendasikan ‘peace voice’, walaupun dalam masalah kualitas ‘shoutul haq’ ada di atasnya. Tapi ini soal keprofesionalan kerja, ia tidak mau hanya karena perasaan bodohnya pada Dafa, acaranya kali ini terhambat. Ia akan membuktikan pada semuanya, bahwa masalah pribadi tidak akan dibawanya dalam lingkaran organisasi.

“yang mana ya? Ehm..gimana nanti aja ya.”goda Aisyah.

“Oke, privasi setiap orang ya hehe… tapi yang objektif ya!”todong Zahra seolah bisa membaca pikiran Aisyah.

Selesai shalat asar rapat dilanjutkan kembali. Pemungutan suara pun dimulai, ketua mulai menghitung jumlah siswa yang mendukung kedua tim. Jumlah peserta rapat tu ada 41 orang, dan setiap tim nasyid sudah mengantongi 20 suara. Hasil polling sangat seimbang, hanya satu orang yang belum memberikan suaranya, Aisyah. Semua mata tertuju padanya, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutnya. Karena jawabannya adalah penentuan tim nasyid mana yang akan tampil di bazaar nanti. Aisyah bingung, ia harus memihak yang mana. Mungkin setelah semua yang terjadi Dafa akan bersikap biasa-biasa saja, tapi dirinya? Aisyah tahu bahwa hatinya sudah terluka oleh Dafa. Terluka karena terlalu mencintainya.

Aisyah menghela nafas, dengan mantap ia berkata

“Ana kira lebih baik kita mengundang tim nasyid Shoutul Haq, karena kita punya link kesana, dan biasanya mereka selalu bisa menyesuaikan jadwal dengan acara kita.”

Akhirnya sudah diputuskan bahwa Shoutul Haq lah yang akan menjadi bintang tamu di acara bazaar nanti. Dan keputusan itu merupakan keputusan terakhir yang diambil hari itu. Hari sudah sore, sudah banyak peserta rapat yang meminta izin untuk pulang. Karena hanya sebagian panitia yang tersisa, rapat akan dilanjutkan minggu yang akan datang.

Aisyah meraih telpon genggamnya, pukul 04.30. cukup lama juga rapat berjalan, seluruh tulangnya pegal karena terlalu banyak duduk. Ia pun sedikit melakukan peregangan untuk menghilangkan penatnya. Setelah sampai dirumah nanti ia akan langsung mandi dan istirahat. Rasanya hari ini sangat melelahkan untuknya.

Aisyah memandangi rumah bercat biru yang ada di hadapannya. Rasanya dia jadi tenang setiap menginjakkan kakinya ke rumah ini. Ahh..rumah memang tempat yang paling nyaman untuknya. Ada ayahnya yang selalu mengajaknya berdiskusi, ibunya yang selalu membuatkan makanan yang enak untuknya, kakaknya yang selalu menasihatinya, dan adik kecil yang selalu ia jahili. Kalau mengingat semuanya, rasanya semangatnya untuk menatap kehidupan bangkit lagi. Keluarga adalah motivator terbesar untuknya. Dukungan dari mereka adalah hal yang luar biasa indah yang diberikan Allah padanya. Tapi rumah ini sekarang sepi. Kedua orangtuanya sedang dinas ke Semarang, dan tentunya mereka juga mengajak si kecil Kautsar kesana. Sedangkan kakaknya, Arham, 3 bulan yang lalu baru saja menikah. Mungkin sekarang dia sedang merasakan masa-masa indah berumah tangga bersama istrinya. Di rumah itu sekarang hanya ada Mbok Min, pengurus rumah tangga yang membantu menyiapkan segala keperluan Aisyah.

Aisyah mengenakan piyamanya, kesibukannya hari ini menjadi alasan yang lebih dari cukup untuk tidur lebih awal. Kepalanya terasa berat, setelah shalat isya dan meminum sebutir obat pereda sakit kepala, Aisyah merebahkan badannya di tempat tidur. Keadaan itu tidak lantas langsung membuatnya tertidur lelap, ia justru teringat rapat tadi siang. Pikirannya menerawang, teringat olehnya saat sebagian peserta bersorak karena sudah diputuskan bahwa Shoutul Haq yang akan tampil sebagai bintang tamu, kebanyakan adalah peserta akhwat. Tentu saja semuanya merasa gembira. Apalagi disana ada Dafa. Akhwat mana yang tidak kagum pada Dafa. Dia memiliki hampir semua yang diinginkan oleh perempuan. Menjadi ustadz di usia muda,wajah yang diatas standar, ramah, mahasiswa yang mapan, aktivis, ditambah dengan posisinya sebagai vocal di Shoutul Haq. Lengkaplah semua yang diinginkan para akhwat, termasuk Aisyah sendiri. Dan mungkin para akhwat itu akan cemburu pada Aisyah jika mereka tahu kalau 8 bulan yang lalu ustadz muda itu memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya. Ahh..semuanya seperti mimpi. Mimpi yang terus hadir walaupun Aisyah telah membuka kedua matanya. Setelah semua itu, seharusnya tak ada lagi yang harus dikhawatirkan Aisyah. Tapi keadaannya justru sebaliknya, terlalu banyak kekhawatiran yang dirasakannya setelah pengakuan Dafa tempo hari. Sampai saat ini, Dafa tidak pernah menyinggung-nyinggung hal itu lagi. Dia kelihatan acuh dan tidak peduli. Sekali bertemu muka dia pasti sesegera mungkin pergi menjauh. Apa yang salah denganku? Pikir Aisyah. Apa dia merasa telah salah memilih perempuan seperti aku? Perasaan takut dibenci oleh Dafa itu selalu membayangi langkah Aisyah. Dalam kekalutannya Aisyah bahkan pernah berharap kalau saja waktu bisa berputar kembali, dan Dafa tidak pernah mengucapkan pengakuan itu padanya, mungkin dia tidak akan terluka seperti ini. Tapi di sisi lain, ada semburat kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan, setidaknya ia tahu bahwa laki-laki yang dicintainya juga pernah mencintainya.

Sudah 8 bulan, dan selama itu pula Dafa hanya pernah mengirim beberapa pesan singkat. Hanya itulah yang menjadi penghibur hati Aisyah, meskipun pesan-pesan itu hanya seperti pesan biasa yang disampaikan oleh seorang teman. Mungkinkah ketika dia bilang padaku bahwa dia mencintaiku itu hanya menggodaku? Atau mungkin dia sudah menemukan perempuan yang lebih baik dariku? Tanyanya dalam hati.

“Ya Allah..apa rencanamu? Hatiku telah dibawa pergi olehnya?”desah Aisyah. Disekanya airmata yang mulai berjatuhan di pipinya. Airmata ini selalu keluar setiap kali dia mengingat hal ini. Apa cinta begitu menyedihkan sampai harus dibayar dengan airmata?

Yaa..Allah,yaa..Rahman..ya rahiim..telpon genggamnya berbunyi. Setengah terbangun Aisyah mengambilnya dan melihat ada sebuah pesan masuk disana.

Aisyah, Aku sudah menyangka pasti itu jawaban yang akan kamu berikan. Aku sudah mencintai kamu sejak SMP dulu. Setiap kali melihatmu aku selalu ingin mejagamu. Aku berjanji, andai kamu mau menerimaku, aku akan menjagamu sekuat yang kubisa. Tapi sepertinya itu tidak membuatmu tertarik. Aisyah, apalagi yang harus kulakukan? Kalau kamu mau aku menunggumu sampai kau siap, aku pasti akan melakukannya. Kalau aku baru bisa melindungimu dengan menikahimu, maka itu akan kulakukan.

Aisyah menahan nafas, itu sms dari Radith, sebesar apa cinta radith padanya sampai ia masih mencintai Aisyah. Padahal sudah 5 tahun berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Ia jadi ingat dulu waktu masih anak ingusan, mereka pernah berjanji, suatu hari nanti mereka akan menikah. Radith kecil juga berjanji padanya, bahwa ia akan melindungi Aisyah sampai kapan pun. Apa benar sampai sekarang Radith masih tetap ingin menjaga dan melindunginya? Ya Allah..andai Dafa yang mengucapkannya, mungkin Aisyah tidak akan sebingung itu. Aisyah tidak pernah mencintai Radith. Ia hanya menginginkan sifat Radith yang seharusnya ada pada Dafa. Tapi entah kenapa ada yang menyelusup ke dalam hatinya setelah mendengar janji Radith, ada kebahagiaan sekaligus rasa nyeri yang dirasakannya saat Radith bilang bahwa dia akan melindungi Aisyah. Ia jadi teringat Dafa, apa reaksinya kalau tahu hal ini? Mungkinkah ia akan diam atau berusaha memperjuangkan Aisyah? Ahh..rasanya pilihan kedua kedengaran jauh lebih menenangkan.Beberapa menit kemudian Aisyah terlelap, membawa kekalutan yang menyesakkan ke dalam tidurnya.

Malam beranjak menuju pagi, semakin dingin, dan pekat. Membawa ketakutan pada jiwa-jiwa kerdil yang percaya takhayul, dan membawa kegembiraan untuk hamba yang diam-diam menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan mereka. Bermesraan, berdialog panjang dan memanjatkan ampunan dan pujian pada Rabb semesta alam. Aisyah menggeliat di tempat tidurnya, alarmnya menunjukkan pukul 03.00 pagi. Dengan setengah enggan diseretnya kakinya ke kamar mandi, ia membasuh wajahnya. Dan dengan seketika kantuk di wajahnya hilang, yang tinggal hanya keinginan menggebu-gebu untuk bertemu dengan Tuhannya.

Aisyah mengakhiri shalat malamnya dengan tangis, teringat akan eksistensinya sebagai manusia kerdil yang bersimbah dosa. Pengakuan demi pengakuan meluncur dari bibirnya, diiringi tangis yang tak henti mengalir di pipinya. Doa demi doa dipanjatkan untuk dirinya, orang-orang terkasihnya dan semua saudara muslimnya. Ketika sampai pada “Rabbana hablanaa min ajzwaazina”, tangannya bergetar, sekelebat bayangan Dafa muncul di pikirannya. Beberapa kali ia mencoba mengenyahkan bayangan itu, namun tak pernah berhasil.

“Ya Allah, maafkan hamba karena telah mengingat selain-Mu. Maafkan hamba karena telah memunculkan bayangannya di tengah pertemuan denganMu. Ya Rabb Kau Yang Maha Mengetahui segala kegundahan yang tersimpan di hati setiap makhluk, Engkau juga Yang Maha Mengetahui penyelesaian untuk setiap kegundahan itu. Maka berilah hamba petunjuk bagaimana hamba bisa menyelesaikan semua ini. Yaa Rahman, jangan Kau biarkan kecintaan hamba pada makhluk mengalahkan kecintaan hamba padaMu. Jika dia memang jodoh hamba, persatukanlah hati kami dalam naunganMu. Jagalah dia untuk hamba, dan jagalah hamba untuknya. Dan jika dia bukanlah jodoh hamba…” suaranya tertahan, nafasnya sesak untuk melanjutkan kalimat itu.

“Dan jika dia bukanlah jodoh hamba, maka berilah hamba keikhlasan untuk menyerahkannya pada orang lain. Ingatkan hamba bahwa hamba tak pantas lagi mengharapkannya karena dia sudah menjadi milik orang lain”lanjutnya.

Aisyah mengakhiri doanya dengan tangis, meresapi ketidakberdayaannya sebagai makhluk kerdil yang penuh kekurangan. Sajadahnya basah, menjadi bukti airmata-airmata cinta yang dipersembahkan untuk Sang Khalik. Mulutnya tak henti berdzikir mengagungkan Tuhannya. Dalam kelelahannya ia tertidur, ia bermimpi, melihat seorang mujahid berkuda putih. Wajahnya samar, tapi Aisyah yakin, itulah jodohnya. Jodoh yang disiapkan Allah untuknya.

Dua minggu sebelum acara diadakan, kesibukan sudah mulai terlihat. Setiap pulang sekolah anak-anak yang tergabung dalam kepanitiaan berpencar ke segala arah untuk mencari dana dan persiapan lainnya yang berhubungan dengan acara mereka. Tidak terkecuali dengan Aisyah, hari ini dia bermaksud menghubungi Dafa untuk menanyakan kesiapan mereka. Lama Aisyah memandangi ponsel di tangannya, ada sedikit keraguan di hatinya. Dia memejamkan matanya, menghembuskan satu hembusan nafas panjang yang membuatnya cukup merasa tenang, setelah itu dia menekan tombol memanggil. Dan tinggal menunggu waktu sampai orang di ujung telpon menjawab panggilannya. Jantung Aisyah berdetak sangat kencang, pikirannya tak dapat fokus pada apa yang dilakukannya. Dalam kekalutannya itu ia sempat berharap orang yang dituju tidak menjawab panggilannya. Tapi kenyataan berkata lain,

“Assalamu’alaikum”suara seorang laki-laki terdengar di ujung telpon. Menyadarkan Aisyah yang hampir terseret dalam lamunannya. Aisyah kenal betul suara itu.

“Wa..wa’alaikum salam”jawab Aisyah terbata-bata.

“Aisyah ya?”Tanya Dafa

Aisyah setengah terkejut dan bahagia, Dafa masih mengenali suaranya.

“Iya, ana Aisyah. Apa ana mengganggu? Ada yang mau ana bicarakan pada ustadz” Aisyah memberanikan dirinya.

Di ujung telpon Dafa tersenyum “Soal undangan jadi bintang tamu di acara bazaar buku rohis SMA Harapan Bangsa ya?”

Aisyah mengerenyitkan keningnya”Ustadz sudah tahu? Tahu dari siapa?”

“Kebetulan kemarin ana ketemu sama Yudha, dia bilang sekolah kalian rencananya mu ngundang tim nasyid kami untuk jadi bintang tamu disana. Tapi kata Yudha untuk pastinya kamu sendiri yang akan ngontak kita” jelas Dafa.

Tuh khan, sama orang lain juga bisa khan, kenapa mesti ana yang dikasih tugas ini? Protes Aisyah dalam hati.

“Tapi belum terlalu jelas sih. Untuk acaranya sendiri formatnya seperti apa?lanjut Dafa.

Aisyah pun mulai menjelaskan susunan dan konsep acaranya pada Dafa. Acara ini tidak boleh terganggu oleh urusan pribadi mereka berdua. Aisyah memberikan penjelasan yang cukup panjang, Dia melirik jam di tangannya, sudah 4 menit berlalu lebih lama dari waku yang diperkirakannya. Tap ia lega, dia sudah mendapat kepastian dari Dafa bahwa Shoutul haq akan tampil di acara mereka.

“Kalau begitu semuanya sudah selesai. Kita sudah sepakat, dan ana harap Shoutul Haq benar-benar bisa tampil di waktunya nanti” kata Aisyah, bermaksud menghentikan pembicaraan mereka.

Timbul kebisuan sesaat, sampai suara di ujung telpon memecah keheningan.

“Aisyah, kamu sehat? Mas dengar akhir-akhir ini kamu sering sakit-sakitan”tanya Dafa.

Apa ini? kenapa jadi kesana? Aisyah terkejut, kenapa Dafa merubah topik pembicaraan mereka. Dan yang lebih mengejutkannya adalah kenapa Dafa tahu kondisi kesehatannya akhir-akhir ini. Apa diam-diam dia memperhatikannya?

“Al,alhamdulillah ana sehat kok. Cuma sedikit kecapean mungkin, tapi nggak papa kok.”dijawabnya pertanyaan itu dengan setengah terbata-bata.

Dafa menghela nafas lega, “Syukur klo gitu. Badan itu juga amanah Aisyah,,harus dijaga. Jangan mengerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Jadinya kecapean khan.”papar Dafa.

Aisyah tidak dapat berkata-kata, ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Entah kenapa perhatian Dafa sangat menenangkan hatinya, dia merasa perhatian itulah yang selama ini dicarinya, yang selama ini diharapkannya.

“Aisyah, kamu masih di situ?”karena tak ada jawaban, Dafa mengira ada yang terjadi pada Aisyah.

“Oh..ya ustadz. Terima kasih untuk sarannya.”ujar Aisyah

“Jangan panggil ustadz, sekarang urusan kita bukan sebagai partner khan !? panggil Mas aja”pinta Dafa

“Mas…Dafa” Lidah Aisyah kesulitan menyebutnya. Selama ini dia belum pernah memanggil Dafa dengan sebutan “Mas”.

“Nah,,lebih bagus khan.”ujar Dafa.

Aisyah tersenyum, rasanya keakraban nereka saat ini akan memunculkan luka baru di hatinya. Dafa akan melupakannya secepat debu yang ditiup angin, dan Aisyah, dia akan terus mengingat percakapan ini. Dan ingatan itu akan memperbesar harapannya untuk memiliki Dafa, sedangkan setahunya harapan itu sudah lama terbang entah kemana.

“Aisyah, kenapa kamu nggak ngomong apa-apa? Kamu marah?maaf ya klo Mas selama ini jarang menghubungi kamu. Ada urusan yang harus Mas selesaikan.”ujar Dafa.

“Enggak kok, enggak papa”jawab Aisyah

“Aisyah..”Dafa menarik nafas panjang, “Sekali lagi Mas Tanya, apa kamu benar-benar mau menunggu Mas?”

Aisyah terkejut, dia tidak menyangka Dafa akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Seharusnya Dafa sudah tahu jawabannya, seharusnya Dafa tahu bahwa sampai sekarang Aisyah masih menunggunya. Masih menaruh harapan padanya.

“Tentu Mas, InsyaAllah.”jawabnya sembari menahan luapan kegembiran yang muncul karena pertanyaan yang diajukan Dafa. Walaupun dia tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan Dafa.

“Kalau gitu Mas lega, Mas tidak akan setengah-setengah lagi memperjuangkan harapan kita. Kamu juga akan berbuat hal yang sama khan?”Dafa bertanya lagi

Aisyah belum sepenuhnya mengerti maksud pernyataan Dafa. Apa maksudnya setengah-setengah? Apa baru sekarang Dafa yakin dengan perasaannya, dan sebelum ini dia ragu pada kesetiaan Aisyah? Harga diri Aisyah tersentuh, dia merasa sedikit tersinggung. Dafa sudah meragukannya, itu kesimpulan yang bisa dibuatnya.

“Jadi selama ini Mas meragukan ana?”Tanya Aisyah

“Bukan begitu Aisyah, Mas cuma butuh penguat. Mas tidak inin memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Kesiapan kamu sangat Mas butuhkan. Itu akan menjadi dorongan untuk Mas, untuk mewujudkan harapan kita.”

“Apa ini ada kaitannya dengan kabar perjodohan itu?”Tanya Aisyah dengan hati was-was.

Dafa menelan ludah, tak menyangka Aisyah sudah tahu tentang hal itu. “Iya..”jawabnya lirih.

“Jadi itu benar ya, harusnya ana tahu. Lalu kenapa Mas baru memberitahu ana sekarang?”Tanya Aisyah terbata-bata, dadanya sesak menahan tangis.

“Mas mesti berpikir Aisyah, Mas tidak ingin menyakiti orangtua mas. Mas juga tidak ingin menyakitimu. Mas ingin mewujudkan harapan kita. Ya..tapi sekarang, setelah Mas memastikan jawaban kamu, Mas jadi tahu apa yang mesti Mas lakukan.”jawab Dafa dengan mantap.

Aisyah merasa kacau, ada rasa haru yang menyusup di kalbunya. Tapi juga ada sedikit penyesalan tentang rintangan dalam mewujudkan harapan mereka, kenapa harus datang dari orangtua Dafa?

“Jadi sekarang apa yang akan Mas lakukan?”tanya Aisyah

“Mas akan memperjuangkan kamu sebisa Mas. Tapi Mas butuh dorongan dari kamu Aisyah. Mas tidak bisa melakukannya sendirian. Kamu mau khan?”tanya Dafa

“InsyaAllah Mas, insyaAllah…”jawab Aisyah di sela-sela tangisnya.

“Alhamdulillah, terima kasih…. Itu yang sekarang Mas butuhkan.”

Aisyah menyeka airmatanya “Terima kasih kembali karena sudah memilih ana”ujarnya bahagia.

Aisyah menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Dengan mantap dan tanpa keraguan diketiknya barisan kata-kata yang akan dikirimkannya pada Radith,

Assalam. Aku sangat menghargai perasaanmu. Tapi, maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu, karena Allah sudah mengirimkan seorang pelindung untukku. Seorang imam yang akan menuntunku menuju-Nya. Percayalah, diluar sana Allah sudah menyiapkan jodoh yang tepat untukmu.

Aisyah menghela nafas panjang. Satu masalah telah selesai. Aisyah menyalahkan dirinya atas kebodohannya itu. Kebodohannya dalam usaha menggantikan Dafa dengan orang lain. Bagaimana orang lain bisa masuk ke dalam hatinya, sedangkan seluruh hatinya sudah menjadi milik Dafa. Sekarang baginya tidak ada tempat untuk laki-laki lain.

Terngiang kembali percakapan mereka di telpon, ahh..baru sekarang Aisyah tahu bagaimana perasaan Dafa yang sebenarnya padanya. Kekhawatirannya tentang Dafa yang mungkin saja mempermainkan perasaannya lenyap. Aisyah merasa malu karena pernah meragukan Dafa, harusnya dia tahu bahwa ikhwan itu bisa memegang janjinya.

Matanya setengah terpejam, ia bergumam “Ya Rabb, maafkan aku karena telah berprasangka buruk padanya. Berilah kami kekuatan untuk menghadapi semua rintangan ini. Lunakkan hati orangtuanya, Ya Allah. agar mereka mau mempertimbangkan kembali perjodohannya. Kau yang paling tahu betapa aku sangat mencintainya. Perpanjanglah jodoh kami Ya Rabb”.

Acara bazaar buku itu berlangsung selama 5 hari. Dan selama itu pula SMA Harapan Bangsa banyak dikunjungi pengunjung dari siswa SMA Harapan Bangsa sendiri dan juga siswa-siswa sekolah lain. Acara itu tergolong sukses. Panitia meraup untung yang cukup banyak, yang nantinya akan mereka sisihkan sebagian untuk panti asuhan. Pengunjung juga kelihatan menikmati semua acara dan fasilitas yang disediakan oleh panitia. Apalagi hiburan dari tim-tim nasyid yang menjadi pengisi acara juga cukup menyihir penonton, terutama penampilan dari Shoutul haq. Semua orang dibuat kagum dengan penampilan mereka, tidak terkecuali dengan Aisyah.

Saat di ruang kelas X-7 semua panitia sedang bergembira karena keberhasilan acara itu, Aisyah mengelilingi sekolah untuk mencari Dafa. Karena kesibukannya membereskan barang-barang bazaar, dia jadi tidak ingat untuk menemui Dafa. Aisyah berpikir Dafa masih ada di sekolah. Tapi meskipun sudah memeriksa setiap sudut SMA Harapan Bangsa, Aisyah masih belum menemukannya. Dengan langkah gontai, dia menyeret kakinya menuju kelas. Di tengah jalan dia melihat Zahra sedang dikelilingi adik-adik senior mereka. Aisyah baru sadar ternyata Zahra sangat manis, selain fisiknya, akhwat itu juga punya kepribadian yang luar biasa menurut Aisyah. Zahra orang yang sabar, selalu menjadi orang yang bisa dimintai tolong, dan juga lemah lembut. Kalau menikah nanti, dia pasti akan menjadi istri yang shalihah. Aisyah jadi penasaran siapa laki-laki yang sangat beruntung itu.

Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan, Zahra menoleh ke arah Aisyah. Dia melambaikan tangannya. Aisyah membalas lambaian tangannya, setelah itu dia cepat-cepat bergegas menuju kelasnya. Kelas itu sepi, orang-orang sudah meninggalkannya sejak tadi. Aisyah mengambil ransel hitamnya, resletingnya sedikit terbuka. Aisyah heran seingatnya waktu dia meletakkannya disana, ransel itu masih tertutup rapat. Pikirannya menerawang, mungkin saja ada orang yang mengambil sesuatu dari tasnya. Dengan tergesa-gesa dia membuka ranselnya, Aisyah terkejut, bukannya berkurang, isi ranselnya malah bertambah. Ada sekuntum bunga mawar dan secarik catatan disana. Pelan-pelan Aisyah mengambil bunga dan catatan itu. Didesak rasa penasaran, dia membaca tulisan yang ada di kertas kecil itu dengan tergesa-gesa.

Bunga adalah anugrah terindah di mata-mata kehidupan. Dengan berseminya bunga, hati jiwa-jiwa mulai tenang. Raga yang lelah seakan hilang dengan senyuman bunga yang menyapamu. Engkau mulai bersemi di kehidupan ini, belajarlah akan kehidupan yang engkau lalui, yang pada akhirnya engkau indah dan cemerlang di jiwa yang memetiknya. Kau harus seperti bunga, yang mampu menunjukkan pada kehidupan akan arti keindahan. Mampu membuktikan arti warna pada mata-mata yang melihatnya

Aisyah……………

Atas namamu, engkau berhak seperti Siti Aisyah…yang selalu dipuja Rasul. Engkau berhak seperti Aisyah, yang mendampingi Rasul ketika susah maupun senang.

Dafa

Dada Aisyah bergetar hebat, luapan kegembiraan dan keharuan memuncak di hatinya. Tangan kanannya gemetar memegang bunga yang diberikan oleh Dafa. Diciumnya bunga itu dengan sepenuh hati, dengan lelehan airmata bahagia yang terus mengalir di pipinya. Kegembiraan itu membuatnya lemas, Aisyah menghempaskan dirinya ke sebuah kursi. Dia terus memandangi bunga itu, mengusapnya, dan menciumnya lagi. Setelah puas memandangi bunga itu, dia membaca catatan itu lagi. Kali ini airmatanya tumpah, Aisyah menangis tersedu-sedu, setiap kata dari tulisan itu mengacaukan hatinya dengan kegembiraan abstrak yang tidak bisa dia terjemahkan. Kegembiraan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.

Beberapa menit berlalu, Aisyah sudah dapat menenangkan hatinya. Dipandanginya bunga itu dengan senyum penuh makna, “Akhi,,,,,,aku benar-benar mencintaimu”ucapnya lirih diantara isak tangis yang masih tersisa.

Aisyah bangkit dari kursi, mengambil ranselnya, dan memasukkan kertas kecil dan bunga itu ke dalam tasnya dengan hati-hati. Hari sudah senja, Mbok Min pasti khawatir kalau dia belum pulang. Diayunkannya langkahnya dengan ringan menyusuri koridor sekolah. Hatinya penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa ia terjemahkan. Semua sudut sekolah terlihat sangat indah dan berwarna-warni. Mungkin benar kata orang, bahwa orang yang sedang jatuh cinta hanya melihat warna pelangi pada dunia, tidak ada warna yang suram, semuanya cerah. Secerah hati Aisyah senja ini. Warna-warni kebahagiaan seakan tak mau pergi dari tiap ayunan langkahnya. Memayunginya dengan sensasi yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta. Rona merah juga tak mau enyah dari pipinya, seperti penanda bagi orang-orang bahwa cinta telah berpihak padanya. Aisyah menengadahkan kepalanya ke langit, entah kenapa awan seperti berbentuk inisial namanya dan Dafa, dia tersenyum sendiri. Apa itu yang akan terlihat di mata orang-orang yang sedang jatuh cinta? Ucapnya dalam hati.

Aisyah membuka pintu pagar rumahnya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman, berharap mobil orangtuanya terparkir disana. Tapi Aisyah harus menelan kekecewaan, halaman itu kososng, dan itu artinya orangtuanya belum pulang dari perjalanan dinas mereka.

Sesudah shalat isya dan membersihkan tubuhnya, Aisyah naik ke tempat tidur. Dia baru akan memejamkan matanya ketika telpon genggamnya berbunyi, dengan sigap diraihnya benda mungil itu. Sekilas terlihat olehnya nama yang tertera di display Hpnya, Zahra.

“Hallo,Assalamu’alaikum”suara di ujung telpon terdengar nyaring.

“Wa’alaikumsalam”jawab Aisyah.

“Ukh, ana ganggu enggak?”tanya Zahra

“InsyaAllah enggak kok”jawab Aisyah

“Ana enggak tau mesti nelpon siapa buat berbagi kegembiraan ini”seru Zahra

Aisyah mencoba membayangkan bagaimana raut muka Zahra sekarang, dari suaranya, Aisyah tahu sahabatnya itu sekarang tengah diliputi kegembiraan, sama sepertinya.

“Emangnya ada apa sih kok kayaknya gembira banget. Eh, tapi hari ini ana juga lagi gembira lho. Tau gak apa yang bikin ana gembira, ana…”

“Eh? Curang ah. Khan ana duluan yang mau cerita. Kok jadi anti duluan sih hehehe….”sambar Zahra

“Oh iya, ana lupa. Klo gitu kamu duluan deh”ujar Aisyah. Dalam percakapan sehari-hari kadang-kadang mereka mencampuradukkan penggunaan bahasa arab dan Indonesia.

“Kabar gembiranya adalah…..”Zahra diam sejenak untuk membuat Aisyah penasaran.

“Aduuh, kabar gembiranya apa sih. Jangan bikin penasaran kayak gini dong.”seru Aisyah tak sabar. Ia bukan hanya tak sabar mendengarkan hal yang menggembirakan sahabatnya Zahra, tapi dia juga ingin cepat-cepat menceritakan perihal hal yang membahagiakan hatinya pada Zahra, hubungannya dengan Dafa.

“Iya..iya sabar dong,Innallaha ma’ashaabiriin lho!”jawab Zahra sembari tersenyum kecil.

“Dalilnya disimpen dulu ya bu ustadzah, trus sekarang kabar baiknya apa?tanya Aisyah.

Zahra menghela nafas,”Ana dijodohkan, katanya setelah lulus nanti ana akan dinikahkan”

Kening Aisyah mengerut,setahunya Zahra tipe gadis yang menentang perjodohan oleh orangtua, tapi sekarang Zahra malah bahagia ketika dia dijodohkan. Secepat itukah pemikiran orang bisa berubah? Tanyanya dalam hati.

“Wah selamat ya, tapi,Lho, katanya kamu kurang setuju kebiasaan masyarakat kita yang suka ngejoo-jodoin anaknya. Kok sekarang kebalik sih?”tanya Aisyah penasaran.

“Aduh jadi malu nih, mungkin ana ngambil keputusan tanpa mikir panjang kali ya, hehe.. setelah ana pikir-pikir, kebiasaan itu gak buruk kok. Bukannya orangtua juga selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita. Yah, mungkin jodoh yang terbaik untuk ana adalah jodoh yang dipilihkan oleh orangtua ana.”jawab Zahra diplomatis.

Aisyah mengangguk-angguk. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Zahra. Tapi kalau saat ini orangtuanya ingin menjodohkan Aisyah dengan seorang laki-laki, Aisyah akan menolak. Dia sudah berjanji untuk menunggu Dafa. Mengingat Dafa walaupun sepintas membuat pipi Aisyah memerah, cepat-cepat diusirnya bayangan itu dari pikirannya.

“Bagus dong, btw udah tau ikhwannya belum? Jangan kayak beli kucing di dalam karung dong. Dia agamanya bagus gak? Akhlaknya bagus nggak? Dan yang gak boleh ketinggalan ehem..ehem..ganteng gak?”tanya Aisyah

Di ujung telpon pipi Zahra bersemu merah, “Subhanallah, kamu nanya borongan ya. Hehe… klo menurut ana sih insyaAllah dia udah masuk kriteria calon suami shalih”

“Wahh..alhamdulillah dong. Ana jadi pengen juga nih hehe…, oh ya ikhwannya siapa? Ana kenal gak?”tanya Aisyah penasaran.

“Anti kenal kok, ikhwan itu adalah…..ustadz Dafa.”jawab Zahra

Aisyah terhenyak, dadanya berguncang hebat. Telpon genggam di tangannya hampir jatuh ke lantai. Dia mencubit tangannya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini semua hanyalah mimpi,mimpi yang ketika ia membuka matanya, maka semua kabar yang menyesakkan itu akan berakhir. Tapi semua itu tak terjadi. Sakit di tangannya terasa nyata, demikian juga dengan berita perjodohan Zahra dan Dafa.

“Kenapa?kenapa harus ustadz Dafa, apa kamu enggak tahu kalau…”Aisyah menghentikan kalimatnya. Dia baru ingat bahwa Zahra tidak tahu tentang hubungannya dan Dafa.

“Tau apa ukh? Kenapa suara anti seperti suara orang yang mau menangis, ada apa?”tanya Zahra cemas.

Aisyah tertegun, dia tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Zahra. Dia tak mungkin merusak kegembiraan Zahra hari ini. Aisyah menguatkan dirinya, mencoba menyisipkan kegembiraan yang dibuat-buat diantara kesedihan yang menggelayut di hatinya.

“Anti gak tahu kalau ustadz Dafa itu banyak penggemarnya ya hehe..”Aisyah menyisipkan tawa diantara kalimatnya, mencoba meyakinkan Zahra bahwa tak ada yang perlu dicemaskannya.

“Oh..kirain apa. Kamu bikin ana kaget tau enggak. Ana tau, dengan semua kelebihan yang ada pada ustadz Dafa, pasti banyak akhwat yang ingin jadi pendampingnya. Ana bersyukur Allah memilih ana sebagai calon pendampingnya. Pasti banyak akhwat yang patah hati ya, hehe… becanda kok”tutur Zahra lega

Termasuk aku.ucap batin Aisyah.

Dengan sisa-sisa ketegaran yang dimilikinya Aisyah memberanikan dirinya untuk bertanya. “Ukh, apa anti sudah yakin dengan semua ini?”

“InsyaAllah ana yakin. Orang tua ana pasti memilihkan yang terbaik untuk ana. Disamping itu, ana yakin ustadz Dafa dapat membimbing ana untuk lebih dekat pada Sang Pencipta. Dia bisa menjadi imam yang baik untuk ana”jawab Zahra mantap.

“Lalu ustadz Dafa sendiri, apa dia setuju?”tanya Aisyah. Diam-diam Aisyah mengharapkan jawaban yang akan keluar dari bibir Zahra adalah “tidak”.

Zahra diam sejenak,”Ana belum tahu, tapi kedua orangtua kita bilang,,ustadz Dafa pasti menuruti kemauan orangtuanya. Ana juga sempat deg-degan, yahh..ana sedikit takut ustadz Dafa akan menolak perjodohan ini. Tapi orangtua ustadz Dafa meyakinkan ana bahwa ustadz Dafa juga setuju dengan perjodohan ini”

“tapi..tapi gimana kalau….”Aisyah tak melanjutkan ucapannya, tadinya dia ingin bilang bagaimana kalau Dafa sudah punya akhwat yang dicintainya, tapi Aisyah pikir itu bukan pertanyaan yang bagus, dia takut pertanyaan itu akan mengganggu pikiran Zahra. Tapi sebenarnya alasan utamanya bukan itu, justru dia takut mendengar jawaban yang akan diberikan Zahra, takut dengan keoptimisan Zahra, takut dengan dirinya sendiri yang mungkin belum bisa menerima semua kenyataan ini.

“Ahh..gak jadi, bukan hal yang penting kok”ralat Aisyah.

“eh iya, berita baik dari anti apa?”tanya Zahra.

Aisyah gelagapan, tadinya dia ingin mengatakan tentang hubungannya dengan Dafa. Tapi sekarang dia tak mungkin melakukannya. Itu sama saja dengan menyiram racun pada tunas cinta yang sedang tumbuh di hati Zahra. Dan sebagai sahabat yang baik dia tidak mungkin tega melakukannya.

“Eh, engga kok, cuma berita biasa, ana seneng banget acara hari ini sukses”karang Aisyah.

“Oh iya, ana juga seneeeng banget. Tapi kabar perjodohan ini jauh lebih membuat ana bahagia. Eh ukh, udah dulu ya, ana dipanggil ummi nih. Nanti kita sambung lagi ya”ujar Zahra

“Ya…jika hati ana masih kuat”ujar Aisyah lirih, hampir tak terdengar.

“Eh ukh barusan ngomong apa? Nggak kedengaran.”tanya Zahra

“Semoga kalian bahagia…”Aisyah terpaksa berbohong.

“Oh,,ya Amiin, Anti juga ana doain supaya jodohnya cepet dateng ya. Eh dah dulu ya Assalamu’alaikum”kata Zahra

“Wa’alaikum salam”jawab Aisyah

Percakapan di telepon itu sudah berakhir, tapi badai di hati Aisyah baru saja dimulai. Dalam sehari dia sudah mendengar dua hal yang sangat bertolak belakang, disaat dia sedang bahagia dengan perhatian yang diberikan Dafa, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kabar perjodohan yang dibawa oleh Zahra. Hati Aisyah belum siap menerima semuanya, kebahagiaan besar yang menyelubunginya tadi sore, sekarang dipaksa menguap. Kabar yang membahagiakan bagi Zahra itu adalah pukulan yang sangat menyakitkan bagi Aisyah. Dia tak pernah menyangka kalau perempuan yang akan dijodohkan dengan Dafa itu adalah Zahra. Menara harapan yang dibangunnya hancur sudah, berubah menjadi keping-keping kekecewaan akan ketidakberdayaan dirinya. Aisyah tahu bahwa Dafa tak menginginkan Aisyah untuk menyerah, tapi jika harus menghadapi Zahra, itu masalah lain. Dari nada suara Zahra, Aisyah tahu bahwa gadis itu amat mengharapkan Dafa, mungkin sama besarnya seperti harapan Aisyah, atau bahkan lebih. Zahra adalah gadis yang sempurna, gadis baik yang tak boleh dia sakiti. Zahra terlalu lembut untuk Aisyah khianati. Dia menyayangi Zahra seperti dia menyayangi saudaranya sendiri. Aisyah tak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Zahra jika tahu bahwa Aisyah diam-diam mengharapkan Dafa, bahkan lebih dari itu Aisyah tak tahu bagaimana reaksi Zahra jika dia tahu bahwa Aisyah sudah memenangkan hati Dafa. Aisyah tahu Zahra adalah orang yang sabar, mungkin dia bisa memaafkan Aisyah, tapi setelah Aisyah tahu perasaan Zahra pada Dafa, Aisyah tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika perasaan sahabatnya itu terluka karena dirinya. Aisyah tahu bagaimana rasanya terluka karena cinta, dan dia tidak ingin Zahra merasakannya juga. Aisyah tahu kalau Zahra mempunyai hati yang rapuh. Dibalik keanggunan dan ketegarannya dia tetaplah seorang perempuan yang berhati lembut.

Aisyah mengambil bunga yang diberikan oleh Dafa. Bunga itu terlihat samar, genangan airmata telah mengaburkan pandangannya. Dia meremas bunga itu kuat-kuat, seakan melampiaskan semua penyesalannya pada eksistensi lemah yang tak berdosa itu. Untuk sejenak tangisnya terhenti, pikirannya menerawang entah kemana. Seolah tak menyisakan tempat agar akal sehat bisa bekerja. Dalam kekalutan pikirannya Aisyah menyalahkan Dafa, kenapa laki-laki itu memberinya harapan yang terlalu besar, kenapa laki-laki itu tidak menerima saja perjodohannya dengan Zahra tanpa mengingat-ingat Aisyah lagi, mungkin itu tidak akan lebih menyakitkan dari kenyataan yang dia hadapi sekarang. Tapi yang paling membuatnya kecewa adalah Dafa tidak mengatakan bahwa perempuan yang akan dijodohkan dengannya adalah Zahra. Tapi hati kecil Aisyah berontak, jauh di lubuk hatinya, Aisyah menyalahkan dirinya sendiri. Aisyah menyalahkan dirinya sendiri karena menaruh harapan terlalu besar pada Dafa. Aisyah menyalahkan dirinya sendiri yang tidak dewasa dalam menyikapi sebuah persoalan. Aisyah menyalahkan dirinya atas kemunafikannya, bukankah dia yang berkata pada Radith, bahwa urusan jodoh dengan siapa, kapan, dan dimana adalah urusan Allah Swt. Jika Allah sudah memutuskan sesuatu, maka tidak ada orang yang bisa mengubahnya. Dan sudah terang di mata Aisyah bahwa Allah sudah menyiapkan Zahra sebagai jodoh Dafa. Aisyah memeluk guling kesayangannya yang telah basah oleh cucuran airmatanya. Dia merasa sendirian, dia merasa tak punya orang lain untuk berbagi kesedihannya itu. tapi Aisyah lupa, dia masih punya Allah, Zat yang Maha Mendengar segala kegundahan yang terselip di hati setiap makhluk-Nya.

Pukuk 03.00 pagi telpon genggam Aisyah berdering,ada satu pesan singkat yang masuk dari Arham, dengan mata yang masih sembab karena tangis semalam Aisyah membaca kata per kata yang dikirimkan kakaknya :

Mujahidah kakak, ayo cepet bangun…..

Ni udah waktunya shalat tahajud lho.

Ayo cepet ambil wudhu, lalu shalat, trus jangan lupa

berdoa tiap abis shalat y

Dari akhimu yang paling ganteng hehe… ^-^

Aisyah tersenyum kecil, “Mas Arham,,,aku kangen”ucapnya lirih. Semenjak Arham menikah, Aisyah benar-benar merasa kehilangan kakak satu-satunya itu. tidak ada lagi yang mengusap kepalanya setiap dia shalat tahajud. Tidak ada lagi yang menghiburnya jika kedua orangtuanya memarahi Aisyah. Arham adalah sosok kakak terbaik menurut Aisyah, rasanya Aisyah belum siap kehilangan Arham, dia masih ingin bermanja pada kakaknya itu. Dan sekarang disaat pikirannya tengah kalut dengan masalah perjodohan ini, Aisyah ingin Arham ada disampingnya, mendengarkan ceritanya dan menghiburnya. Tiba-tiba Aisyah menepis semua keinginan itu, Aisyah sudah dewasa, dia tahu dia bisa menyelesaikan masalah itu sendirian.

Aisyah menengadahkan tangannya keatas dalam balutan mukena birunya. Untuk kesekian kalinya, pipinya kembali bersimbah airmata.

Aisyah berucap lirih,“Ya Allah…apa yang harus kulakukan? Kau sudah memberikan pilihan yang berat untukku. Aku tahu bahwa Kau tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hamba-hambaMu, dan aku tahu untuk permasalahan ini pasti ada jalan yang terbaik yang bisa kuambil. Tunjukkanlah aku jalan itu Ya Allah…., jalan yang terbaik bagi kami semua. Bila Zahra memang jodoh yang terbaik untuk Mas Dafa, berilah aku kemampuan untuk mengikhlaskannya. Berilah aku kesabaran untuk melihat Mas Dafa bersanding dengan Zahra. Dan tunjukkanlah jodohku Ya Rabb, agar aku tak mengkhianati Zahra dengan memenuhi pikiranku dengan bayangan Mas Dafa. Yaa Rahmaan wahai Engkau zat Yang Maha Mendengar doa hamba-hambaMu, aku menyerahkan sepenuhnya urusan ini pada-Mu. Kaulah yang tahu apa yang terbaik untukku”.

Aisyah memejamkan matanya, menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Pertemuannya dengan Rabb-nya membuat Aisyah merasa tenang. Dia tahu, Rabb-nya selalu ada di hatinya, sesuatu yang tak akan meninggalkannya meskipun seisi dunia mencemoohnya.

Aisyah mengambil telpon genggamnya, dia mengirim sebuah sms pada Dafa.

Asslmkm. Akhi, hari ini punya waktu?

Ada yang mau ana bicarakan, penting !!

Syukran sebelumnya.

Kafetaria itu masih sepi pengunjung, padahal biasanya di hari minggu seperti ini tempat itu sudah ramai dikunjungi orang. Aisyah melihat arloji di tangannya, jam 09.00 kurang lima belas, dia berharap Dafa akan datang tepat waktu. Mereka berjanji bertemu disana. Lantunan lagu-lagu nasyid menggema di dalam ruangan. Pemilik kafetaria itu adalah Bu Dewi, dia adalah salah satu penggerak pengajian ibu-ibu di daerah Aisyah. Beliau termasuk orang yang sangat taat beribadah, tak heran kalau dia membawa nuansa religi di bisnisnya. Seperti suasana beraroma timur tengah di kafetaria itu. Aisyah mencari tempat duduk di pojok, supaya terhindar dari tatapan orang-orang yang sedang lalu lalang. Sambil menunggu, dia mengeluarkan mushaf kecil yang sengaja dibawanya. Dengan tartil dan penuh penghayatan Aisyah membaca lembaran-lembaran suci itu. Sepuluh menit kemudian Aisyah mulai gelisah, dimasukkannya mushaf itu ke dalam tas kecilnya. Dia mengedarkan pandangannya, berharap menemukan sosok yang sedang dicarinya disana.

Sesosok laki-laki setengah tergesa-gesa berjalan ke arahnya. Pakaiannya rapi, pembawaannya tegap, janggutnya menempel serasi dengan wajah teduhnya yang bersahaja. Senyumnya menambah kesan maskulin yang sudah ada dalam dirinya. Aisyah menundukkan pandangannya, berharap debaran-debaran di dadanya akan berhenti. Laki-laki itu memang sempurna, secara fisik maupun kepribadiannya. Dan Aisyah sadar laki-laki sempurna itu bukanlah untuknya. Dia harus menelan kenyataan pahit itu dengan legowo, mungkin saja Allah sudah menyiapkan laki-laki yang lebih baik untuknya.

“Assalamu’alaikum. Maaf Mas telat, tadi ada sedikit gangguan di jalan. Gak papa khan?”tanya laki-laki itu.

“Wa’alaikum salam. Gak papa kok. Mas datang tepat waktu kok”jawab Aisyah

Aisyah memperhatikan mata laki-laki itu, mata Dafa. Jika sudah saatnya nanti, Aisyah tahu mata itu akan menjadi milik Zahra, senyum itu akan menjadi milik Zahra, dan tentunya cinta Dafa juga akan menjadi milik Zahra, hanya milik Zahra. Tubuh Aisyah bergetar, membayangkan hal itu menyesakkan dadanya. Dengan sisa-sisa ketegaran yang dimilikinya, Aisyah mencoba terlihat tegar di hadapan Dafa.

“Ada apa Aisyah, kenapa kamu keliatan sedih? Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan pada Mas?”tanya Dafa cemas.

“Mas, kenapa Mas tidak memberitahu ana kalau akhwat yang akan dijodohkan dengan Mas adalah Zahra?”tanya Aisyah setengah menahan tangis.

“Mas kira kamu sudah tahu, Mas kira kamu tahu dengan siapa Mas dijodohkan. Lagipula apa bedanya Aisyah, siapapun akhwatnya, Mas sudah berjanji kalau Mas akan menikahi kamu. Allah tahu betapa besar keinginan Mas untuk mewujudkan harapan itu.”jawab Dafa sungguh-sungguh.

Lidah Aisyah kelu, kata-kata perpisahan yang sudah disiapkannya menguap entah kemana. Kesungguhan Dafa menggoyahkan pendirian Aisyah. Dia kembali terombang-ambing dalam kekalutannya. Tekadnya yang bulat untuk mengucapkan salam perpisahan pada Dafa terusik, ingin rasanya dia bergembira dengan kesungguhan Dafa. Tapi itu tidak boleh dilakukannya, Aisyah tahu apa yang harus dilakukannya, dia harus mengakhiri semuanya.

“Mas, ana mohon..jangan egois. Ana tahu seberapa besar kesungguhan Mas, tapi Mas juga perlu tahu, Zahra adalah sahabat ana. Ana tidak mungkin menyakitinya, disamping itu…disamping itu, dia juga menaruh harapan yang besar pada Mas. Ana tidak mau merusaknya Mas, ana tidak mau mengorbankan kebahagiaan orangtua Mas dan Zahra demi keegoisan kita”papar Aisyah sembari menegarkan dirinya, agar Dafa tak melihat airmata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Aisyah, apa maksud kamu? Mas sudah berjuang sejauh ini. Dan kamu mau Mas menyerah?”tanya Dafa, nada suaranya mulai berubah.

“Tolong Aisyah,,Mas butuh dorongan dari kamu. Mas yakin seiring dengan berjalannya waktu, hati orangtua Mas akan luluh. Mereka tidak akan lagi memaksakan perjodohan ini pada Mas. Mas hanya ingin kamu bersabar. Dan soal Zahra, Mas tahu dia akan bisa menerima semuanya”lanjut Dafa.

Aisyah menggelengkan kepalanya, “Bukan hanya itu masalahnya Mas, setiap laki-laki pasti menginginkan wanita yang shalihah untuk menjadi pendamping hidupnya, dan ana yakin kriteria wanita shalihah itu ada pada diri Zahra. Mas, ana hanya menginginkan kebahagiaan untuk semuanya, kebahagiaan untuk Zahra, dan kebahagiaan untuk Mas. Zahra adalah calon istri yang shalihah,dia akan menjadi istri yang baik untuk Mas, dan akan menjadi ibu yang luar biasa untuk anak-anak Mas. Ana tidak mau egois mas, Zahra lebih baik dari ana. Dia mampu membahagiakan Mas, lebih dari yang ana bisa”ungkap Aisyah pahit.

“Jadi kamu pikir kalau Mas menikah dengan Zahra Mas akan bahagia? Mas hanya ingin menikah sama kamu Aisyah, Mas ingin kamu yang menjadi ibu untuk anak-anak Mas kelak. Mas tahu ini berat buat kamu, Zahra adalah sahabat kamu. Tapi itu adalah sebuah resiko, dalam hal ini pasti ada satu pihak yang akan terluka”bujuk Dafa.

“Ana tahu Mas, pasti ada yang terluka. Dan ana sudah memutuskan biar saja ana yang terluka. Ana ikhlas kalau Mas menikah dengan Zahra. Ana ikhlas, karena ana yakin Zahra mampu membahagiakan Mas, sesuatu yang mungkin tidak bisa ana lakukan. Jangan khawatir Ma, seiring dengan berjalannya waktu luka itu pasti akan sembuh”jawab Aisyah.

Dafa terdiam, dimainkannya ujung cangkir yang ada di hadapannya. Suara Dafa memecah keheningan, “kalau kamu mengambil pilihan seperti itu, yang terluka bukan cuma kamu Aisyah, tapi juga Mas. Kamu tega melihat Mas terluka?”

Sekarang Aisyah yang terdiam, pertanyaan Dafa semakin menambah lebar luka yang ada di hatinya.

“Ana tidak mau Mas terluka, tapi inilah jalan yang terbaik untuk kita. Ana harap Mas maklum. Rasa sakit itu hanya akan bertahan sebentar, ana yakin kebaikan Zahra akan mengobati semuanya.”tutur Aisyah.

Untuk terakhir kalinya dipandangnya mata teduh Dafa, Dafa membalas pandangannya. Sekarang mereka saling menatap, melalui mata ada banyak rahasia yang tersibak, yang tak bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata. Ada keharuan yang sangat besar, rasa haru karena belum siap merasakan sakitnya kehilangan. Mata mereka saling berbicara, mempertanyakan cinta yang telah mempermainkan mereka, menyalahkan keadaan yang membuat mereka harus membuang tunas-tunas cinta yang bersemi di hati mereka. Aisyah mengalihkan pandangannya, menatap mata itu semakin menambah perasaan enggan untuk merelakan Dafa ke tangan orang lain, dia beristighfar. Aisyah memutuskan untuk segera pergi, berlama-lama di tempat itu akan menambah luka di hatinya.

“Maaf Mas, ana harus pergi, ana ada janji lain, Assalamu’alaikum”ujar Aisyah sembari beranjak dari tempat duduknya.

Dafa bangkit dan memegang sandaran kursi Aisyah, “Aisyah, apa kamu tidak bisa mengubah keputusan itu? coba pertimbangkan lagi, Mas tahu kita bisa melewati semuanya.”bujuk Dafa lagi.

Aisyah tersenyum,”InsyaAllah Mas, keputusan ana sudah bulat. Mungkin kita memang tidak berjodoh. Ana harus menerima semuanya. Oia tolong jangan beritahu Zahra, biarkan dia tidak tahu tentang semua ini. Selamat tinggal, semoga kalian bahagia…”ucapnya getir.

Setengah berlari Aisyah meninggalkan tempat duduk mereka. Airmata yang sedari tadi ditahannya kini berhamburan keluar membasahi jilbab birunya. Ada kelegaan yang terpancar di wajahnya, kelegaan yang tertutup oleh kekalutan yang mendalam. “Yaa..Rabb..mungkin inilah yang terbaik”ucapnya lirih. Sayup-sayup dari jauh didengarnya alunan nasyid dari Brother;

Mengapa kita ditemukan dan akhirnya kita dipisahkan

Mungkinkah menguji kesetiaan, kejujuran, dan kemanisan iman

Tuhan berikan aku kekuatan….

“Bandung !?!?”Zahra ternganga, “Kenapa tiba-tiba kamu mutusin kuliah disana? Khan janjinya mu kuliah disini, di Surabaya”lanjutnya.

Aisyah tersenyum, reaksi Zahra sama seperti reaksi kedua orangtuanya ketika mereka tahu Aisyah ingin melanjutkan sekolahnya di Bandung.

“Ana pengen nyari suasana baru ukh, kayaknya di Bandung boleh juga”jawab Aisyah.

“Tapi kenapa mesti Bandung? Bandung khan jauh dari Surabaya, kenapa engga kuliah di tempat yang deket sih. Khan masih banyak PTN yang bagus disini” Zahra merajuk.

Aisyah tetap kukuh pada pendiriannya, “Denger ya Ummi, Bandung tu masih di wilayah Indonesia. Lagian klo kangen khan ada email, nelpon juga bisa khan!?”ujar Aisyah. Sebenarnya Aisyah mendadak membuat keputusan itu. dia memang ingin mencari suasana baru, tapi alasan sebenarnya adalah dia ingin menyembuhkan hatinya. Dengan berada jauh dari Zahra dan Dafa, dia berharap luka di hatinya akan segera sembuh.

“Ya..semua keputusan kembali ke ukhti. Ana nyerah deh. Ngomong-ngomong kapan berangkat?”tanya Zahra

“ehm..klo gak da halangan sih mungkin 1 bulan lagi”jawab Aisyah.

“1 bulan lagi!? Berarti pas ana dikhitbah sama ustadz Dafa, anti udah di Bandung dong. Berarti anti gak nemenin ana dong, padahal ana harap di hari bahagia ana itu anti ada disamping ana. Tapi mau gimana lagi, emang jadwalnya gak bisa mundur ya?”tanya Zahra

Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. Melihat kebahagiaan sahabatnya itu Aisyah jadi malu, di hatinya sempat berkelebat bayangan Dafa mengkhitbah dirinya. Diusirnya bayangan itu cepat-cepat, keputusan itu dia yang ambil. Dan sekarang dia tidak boleh menyesalinya. Senyum di wajah Zahra, membuatnya sedikit lega. Setidaknya pengorbanannya itu sudah menahan senyum seseorang di tempatnya.

Waktu sebulan itu cepat berlalu,

“Kamu yakin, kamu mau kuliah di Bandung?”tanya Bu Anita, Ibu Aisyah sewaktu melepas kepergian anaknya.

Aisyah menganggukkan kepalanya,”InsyaAllah Bu, Aisyah yakin. Aisyah harap disana Aisyah akan mendapat pengalaman baru yang tidak bisa Aisyah dapatkan disini”jawab Aisyah.

“Hati-hati ya Nduk. Jaga kesehatan disana. Jangan lupa kabari ibu sesering mungkin. Jangan telat makan, ntar kamu sakit. Ahh..rasanya ibu belum siap ditinggalin sama kamu, rumah pasti jadi sepi…”ujar ibunya sembari membelai kepala anak tersayangnya.

Aisyah tersenyum,”Pasti bu…”

Sekarang giliran Pak Rahman yang memberikan wejangan. Dia memeluk anak gadis kesayangannya itu, pelukan sayang seorang ayah yang belum siap melepas kepergian anak gadisnya ke tempat yang jauh. Kautsar menarik-narik jilbab Aisyah, meminta Aisyah untuk menggendongnya. Aisyah menggendong adik kecilnya itu, dengan gemas diciumnya pipi si kecil, dan dengan segenap kasih sayang yang dimilikinya, dibelainya rambut si kecil itu.

“Mbak..klo mbak pulang nanti, Utsar minta oleh-oleh yang buaaaaaanyak Ya?”seru si kecil. Dia merentangkan tangannya, mengisyaratkan jumlah banyak yang dimaksudnya. Aisyah menganggukkan kepalanya, rasanya dia tak bisa lagi menahan airmatanya. Dengan hati-hati diturunkannya si kecil dari gendongannya.

“Pasti sayang, klo mbak pulang nanti, mbak akan beli hadiah yang baaaaanyak banget buat Kautsar. Tapi kamu jangan nakal ya, jaga ibu dan bapa selama mbak gak ada”jawab Aisyah

Si kecil tersenyum dan menganggukkan kepalanya

Dan terakhir, giliran Arham yang memberikan nasihat pada adik perempuan kesayangannya. “Aisyah, ati-ati disana jaga shalat yang lima waktu. Trus jangan sampe karena kesibukan, kamu jadi lupa sama kebiasaan shalat tahajud. Mas yakin kamu bisa jaga diri disana. Ati-ati di jalan ya, kabari mas klo kamu dah nyampe disana”

“Eh..satu lagi. Klo kamu dapet jodo disana, Mas harus jadi panitia penyeleksinya ya. Mas gak mau, adik mas ini jatuh ke tangan orang yang salah.”lanjut Arham sembari menjawil hidung Aisyah.

Aisyah tertawa, dicubitnya tangan Kakak tersayangnya itu.

Fitri, istri Arham ikut menimpali “Mas mu ni khawatir sama kamu lho Aisyah. Klo menyangkut urusan jodoh kamu, dia ketat banget lho”

“hehe… tapi jangan terlalu ketat dong. Ntar laki-laki yang deket sama Aisyah pada kabur semua dong”canda Aisyah. Dia memeluk tubuh kakak iparnya itu sembari berbisik,”Mbak, kapan mu bikin jundi kecil? Ana dah gak sabar pengen jadi tante nih”

Muka Fitri memerah,”Ah..kamu ini, mbak khan baru nikah”

“Hayoo..ngomongin apa nih, maen bisik-bisikkan segala”seru Arham.

“Wee..ni khan rahasia perempuan, laki-laki gak boleh tau”ujar Aisyah

“Eh..bandel ya, sini kamu biar mas jitak”seru Arham sembari mengejar adiknya, bermaksud melayangkan jitakan sayang pada adiknya itu.

Bu Anita menggeleng-gelengkan kepalanya,”sudah..sudah, kalian ini klo sudah seperti ini kayak anak kecil. Sudah Nduk ayo berangkat, pesawatnya sudah mu berangkat.”

Aisyah mencium tangan kedua orangtuanya, setelah itu dia mendapatkan pelukan hangat dari Arham. Dengan langkah yang terasa agak berat, Aisyah melangkahkan kakinya ke gerbang keberangkatan pesawat, diiringi dengan tatap haru keluarganya.

Aisyah melambaikan tangannya,”Selamat tinggal Surabaya….selamat tinggal Mas Dafa”ucapnya lirih. Aisyah menaiki pesawat yang akan membawanya ke Paris van Java, membawa sekeping hati yang terluka ke kota kembang itu.

Setahun sudah berlalu, kota Bandung membawa warna tersendiri dalam hidup Aisyah. Semuanya terasa lebih dinamis, semangatnya, kehidupannya dan hatinya. Luka yang dibawanya dari Surabaya mulai sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Bandung telah menyeretnya dalam kedamaian magis, ketenangan yang tak didapatnya di tempat asalnya.

Semenjak pindah ke Bandung Aisyah sudah mengganti nomor ponselnya, dan hanya keluarganya yang tahu. Hal itu dia lakukan sebagai salah satu langkah untuk mengubur masa lalunya. Dia ingin membuka lembaran baru di kota kembang ini. Lembaran yang tidak terwarnai oleh warna-warna kelabu yang didapatnya di masa lalu. Satu-satunya sarana yang menghubungkan Aisyah dengan kenalan-kenalannya di Surabaya hanya email, itu pun jarang dibukanya.

Kabar terakhir yang diterimanya, Zahra telah bertunangan Dafa. Tinggal menunggu waktu sampai mereka meresmikan hubungannya dalam ikatan pernikahan. Sebagai seorang teman rasanya tak etis kalau Aisyah tak memberikan apa-apa di hari bahagia sahabatnya itu. oleh karena itu dia berencana membeli satu set hadiah pernikahan dan mengirimkannya pada mereka. Atau mungkin kalau lukanya sudah cukup sembuh, Aisyah akan datang sendiri kesana menyerahkan hadiah itu.

Hari ini Aisyah bermaksud mencari bahan untuk tugas-tugasnya, menjadi mahasiswa tak seperti bayangannya. Dulu dia mengira menjadi mahasiswa memungkinkannya untuk meluangkan banyak waktu untuk dirinya sendiri. Ternyata pada kenyataannya, kehidupan harian seorang mahasiswa dipenuhi tugas-tugas membingungkan yang diberikan oleh dosen. Apalagi diantara dosen-dosen itu, ada saja yang tidak bisa mentolerir kesalahan sekecil apapun.

Aisyah memilih room yang ada di pojok, sambil menunggu bahan-bahan yang dicarinya, Aisyah membuka email-email yang sudah masuk. Dia sempat kaget, setelah 3 bulan tidak melihat-lihat emailnya, ada begitu banyak pesan yang masuk kesana. mata Aisyah menelusuri nama-nama yang tertera di layar computer, Aisyah kaget melihat nama yang tertera di baris kedua dari bawah. Dengan terburu-buru dibukanya pesan yang dikirimkan 2 bulan yang lalu itu, sebuah pesan dari Zahra!

Assalamu’alaikum.

Ukh, anti kemana saja? Kenapa nomor ponsel anti berubah? Untung ana tahu kalau alamat email anti masih tetep yang dulu. Maaf ana baru menghubungi anti, ana baru tahu kalau alamat email ini masih dipakai. Ukh, sekarang ana tahu apa alasan anti kuliah di Bandung. Anti ingin menghindar dari ana dan ustadz Dafa khan? Jangan khawatir, ana sudah tahu semuanya. Bukan ustadz Dafa yang menceritakannya, ana tahu dari buku harian ukhti. Maaf, mungkin itu gak sopan. Tapi 5 bulan yang lalu ketika ana berkunjung ke rumah ukhti, tanpa sengaja ana melihat buku diary itu terbuka. Dan setelah membacanya, ana jadi tahu apa yang ukhti sembunyikan selama ini. Kenapa ukhti harus berbohong? Bukankah kita sahabat? Ana yakin, cinta ukhti pada ustadz Dafa jauh lebih besar dari cinta ana. Ana sangat menghargai pengorbanan ukhti, tapi ana juga tidak mau berbahagia diatas penderitaan ukhti. Ukhti tahu? Ana tidak jadi menikah dengan ustadz Dafa. Ini semua bukan karena ukhti. Inilah jalan yang sudah ditetapkan Allah untuk ana. Ana dapat beasiswa kuliah ke Malaysia seperti keinginan ana. Ana tidak mungkin menikah dan meninggalkan suami ana disini, ana sempat bingung harus berbuat apa. Untuk menolak beasiswa itu rasanya sayang. Tapi setelah ana tahu yang sebenarnya, ana jadi mantap dengan langkah yang ana ambil. Ana berpikir mungkin inilah jalan yang disiapkan Allah untuk ana. Beasiswa ini adalah pertanda dari Allah bahwa ustadz Dafa memang bukan jodoh ana. Dan alasan lain adalah, karena sampai sekarang, ustadz Dafa masih mengharapkan ukhti. Ukhtiku yang shalihah, terima kasih karena sudah menjaga perasaan ana. Tapi anti perlu tahu, kebahagiaan ustadz Dafa ada pada ukhti, ana tidak bisa memaksanya. Lagipula, apa yang ana rasakan pada ustadz Dafa mungkin hanya sebuah kekaguman. Sedangkan apa yang anti rasakan pada ustadz Dafa jauh lebih dalam dari itu.oh ya, empat bulan lagi ana akan menikah dengan seorang ikhwan yang berasal dari Malaysia. insyaAllah agamanya baik, dan alhamdulillah dia bersedia untuk berdakwah bersama ana di Indonesia. Dia ikhwan yang baik ukh, dia memahami segala kekurangan yang ada di diri ana. Mungkin inilah jodoh yang tepat bagi ana yang sudah disiapkan oleh Allah. Maafkan ana yang sudah menyakiti hati anti. Ana yakin, Allah menyiapkan hikmah dibalik peristiwa ini. Ukhuwah kita harus tetap terjaga walaupun cobaan sebesar apapun menghadang. Ana yakin ukhti adalah seorang akhwat yang bijak.

Salam sayang

Ukhtimu,

Zahra

Aisyah menitikkan airmatanya, dia tidak menyangka skenario Allah akan berjalan seperti ini. Mungkin Dafa memang bukan jodoh mereka berdua, mungkin dia hanya manusia yang dikirim Allah untuk menguji ukhuwah persahabatan mereka berdua. Aisyah menekan tuts keyboardnya, bermaksud membalas pesan yang dikirim oleh Zahra. Disana dia menuliskan kerinduannya akan kebersamaan mereka, menuliskan betapa inginnya dia terbang ke Malaysia sekarang juga untuk memeluk tubuh sahabatnya, dan mengatakan padanya bahwa dia masih menjadi sahabat terbaik yang pernah Aisyah miliki.

“Ya Allah, terima kasih karena Kau sudah mengembalikan sahabat terbaikku…”ucapnya lirih

Sore ini, seminggu setelah Aisyah membaca email Zahra, Aisyah berdiri mematung di halaman Masjid Raya Bandung, mengamati anak-anak kecil yang berlarian menangkap gelembung sabun yang ditiup abang penjualnya. Sekali waktu seseorang diantaranya terjatuh, kotor, namun tak menangis, malah kembali tertawa riang dan bergabung dengan teman-temannya. Aisyah menatap bangunan masjid yang ada di hadapannya, melihat rumah Allah membuatnya sejenak melupakan semua penatnya hari ini, semua kekesalan, dan kekecewaan yang ditimbulkan dunia padanya. Ya.. Allah…aku rindu padaMu.ucap Aisyah lirih.

“Teh..teh, ieu aya nu masihan kembang”suara seorang bocah mungil membuat Aisyah menoleh. Setahun sudah cukup untuknya mengenal bahasa daerah Jawa barat, bahasa sunda.

Aisyah tersenyum pada bocah itu, bergantian ditatapnya bocah kecil dan bunga yang dibawanya itu.

“Kanggo saha kembang teh?”tanya Aisyah lembut

“Kanggo teteh cenah”jawab bocah itu dengan aksen sunda yang kental.

Aisyah mengerenyitkan keningnya,”teu lepat? kembang ti saha bageur ?”tanya Aisyah.

Tangan mungil bocah itu menunjuk ke satu arah, Aisyah mengarahkan pandangannya pada arah yang ditunjuk bocah itu.

‘Tuh, ti si aa itu”ujar bocah itu lantang.

Dada Aisyah berdegup kencang. Seakan tidak percaya dengan penglihatannya, dia menggosok-gosok matanya. Tapi sosok itu terlihat semakin nyata dan semakin mendekat.

“teh, tos nya abina bade ameng deui”suara bocah itu memecah kekalutan Aisyah.

Aisyah mengeluarkan selembar uang lima ribuan dari tasnya, “Kanggo jajan.”kata Aisyah.

Bocah itu berjingkrak-jingkrak kegirangan. Diacungkannya uang lima ribuan itu ke langit dengan senyum kemenangan, seperti panglima yang baru saja menang berperang. Aisyah tersenyum melihatnya.

“Nuhun nya teh..”teriak bocah kecil itu kegirangan.

Aisyah hanya menganggukkan kepalanya, matanya kembali fokus pada sosok yang sekarang ada di hadapannya.

“Apa kabar Aisyah?”sosok laki-laki di hadapannya mencoba membuka percakapan diantara mereka.

“Ba..baik, alhamdulillah baik. Mas sendiri gimana? Sedang apa di Bandung?”sahut Aisyah gelagapan, dia belum sepenuhnya mampu menguasai dirinya. Sosok laki-laki yang ada di hadapannya membawa ingatan masa lalu yang samar ke masa sekarang.

“Mas sengaja datang ke Bandung, mencari belahan jiwa Mas yang lari kesini”jawab Dafa, laki-laki yang ada di hadapannya.

Dahi Aisyah mengerut, dia belum mengerti maksud perkataan Dafa.

“Maksudnya apa Mas?”tanya Aisyah penasaran

Dafa menghela nafas, ditatapnya mata Aisyah lekat-lekat seolah mencari titk dimana dia yakin bahwa kata-kata yang akan diucapkannya nanti akan dipercaya ole Aisyah.

“Mas mencari kamu Aisyah”jawabnya lembut.

Tubuh Aisyah bergetar, mungkin karena kata-kata Dafa itu belum siap didengarnya, atau mungkin juga karena tatapan Dafa telah membawa sesuatu dari masa lalu yang kembali hadir diantara mereka berdua.

“Untuk apalagi Mas? Bukankah semuanya sudah selesai?”tanya Aisyah, nada suaranya meninggi.

“Aisyah, Zahra sudah memberitahukan semuanya khan? Zahra tahu tentang hubungan kita, mas tidak pernah memberitahunya. Mas juga tidak tahu, entah darimana Zahra tahu tentang itu semua. Satu hal yang Mas tahu, seiring dengan berjalannya waktu, perasaan Mas padamu malah bertambah kuat. Enam bulan yang lalu Zahra mendapat beasiswa ke Malaysia, dan terpaksa orangtua kami membatalkan perjodohan ini. sebelum pergi Zahra meminta Mas untuk menyusulmu, Zahra bilang mas harus mengejar kamu, karena kamu adalah satu-satunya perempuan yang bisa membahagiakan Mas”ungkap Dafa

Aisyah menelan ludah, “Kalau itu terjadi 6 bulan yang lalu, kenapa Mas baru datang sekarang?”tanya Aisyah.

“Waktu itu juga Mas ingin segera menyusulmu, tapi Mas perlu waktu yang cukup lama untuk meyakinkan Mas Arham bahwa Mas tidak akan menyakiti adik kesayangannya ini”jawab Dafa.

Pipi Aisyah bersemu merah. Dia tahu, kakaknya itu pasti sangat mengkhawatirkannya,sampai-sampai Dafa memerlukan waktu 6 bulan untuk meyakinkannya.

“Ana bisa membayangkannya.. Mas Arham melakukan itu karena ingin menjaga ana, dia tidak ingin melihat ana bersedih”tutur Aisyah.

“Itu sebuah kewajaran. Mengingat adiknya adalah mutiara indah yang tak bisa dimiliki oleh sembarangan orang”ujar Dafa.

Untuk kesekian kalinya pipi Aisyah merona.

“Darimana Mas tahu ana ada disini?”tanya Aisyah

“Feeling, itu yang membawa Mas kemari. Mas merasa di rumah Allah inilah mas akan menemukan sepenggal hati Mas yang hilang”jawab Dafa mantap.

Aisyah memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tak mau Dafa melihat rona merah di pipinya.

“Ukhtiku, tolong tatap mata ana..”entah kenapa tiba-tiba Dafa berubah menjadi sangat serius, “Untuk kedua kalinya ana bertanya, maukah ukhti menjadi calon pendamping hidup ana?”tanya Dafa sungguh-sungguh.

Tubuh Aisyah bergetar, bunga yang ada di tangannya jatuh ke tanah. Dengan sisa-sisa tenaganya, Aisyah memungut bunga itu dan membersihkan debu yang menempel diantara kelopaknya. Tiba-tiba tubuhnya lemas, Aisyah jatuh terduduk. Dia masih belum percaya yang baru saja didengarnya itu adalah kenyataan.

“Aisyah..kamu gak papa?”tanya Dafa panik.

Aisyah menggelengkan kepalanya, tangannya berusaha menggapai ujung kursi taman. Setelah ada dalam posisi duduk, Aisyah mengisyaratkan Dafa untuk duduk di sampingnya.

“Mas kaget, kamu benar-benar gak papa Aisyah?”tanya Dafa lagi. Ekspresi wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa.

Aisyah hanya tersenyum, sedikit udara segar sudah membuat pikirannya tenang kembali.

“Ana tidak apa-apa, hanya saja pertanyaan itu cukup mengagetkan ana”jawab Aisyah.

“Maaf..Mas tidak bermaksud seperti itu.”Dafa tertunduk, meyesali ketergesa-gesaannya.

“”Enggak kok, Mas gak salah. Ana cuma sedikit kaget. Ana gak nyangka omongan-omongan orang yang biasanya kita pake buat ngehibur orang ternyata sekarang ana alami sendiri”jawab Aisyah. Senyum kecil terukir di wajahnya.

“Perkataan yang mana?”tanya Dafa penasaran.

“Ya..omongan orang tentang biarkan jodoh itu bermuara pada orang yang tepat, di waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Mungkin itu yang ana alami sekarang, Allah sudah menyiapkan orang yang tepat untuk ana, yaitu Mas. Di tempat yang tepat, di kota Bandung yang romantis, terlebih di hadapan rumah Allah, dan diwaktu yang tepat, di hari ulang tahun ana. Mungkin dulu bukannya kita tidak berjodoh, tapi kita belum sampai pada waktu dan tempat yang tepat. Bukan begitu?”papar Aisyah. Airmata bahagia berlinangan di pipinya yang kemerahan. Satu tahun lalu dia mengalirkan airmata yang sama untuk Dafa, tapi kali ini airmata yang keluar bukanlah airmata kesedihan, namun airmata kebahagiaan.

Air muka Dafa berubah, seketika seulas senyuman terukir di wajahnya,”Jadi kamu mau?”tanya Dafa berusaha meyakinkan lagi apa yang sudah didengarnya dari mulut Aisyah.

Aisyah mengangguk,”Iya…ana bersedia”

“Allahu Akbar,,,,,,, Alhamdulillah”teriak Dafa, diacungkannya tinjunya ke langit. Sesudah itu dia bersujud, bersyukur atas kebahagiaan yang diberikan Allah hari ini.

“Oke, kalau begitu Mas telpon Mas Arham dulu ya”ujar Dafa seraya mengeluarkan telpon genggam dari saku celananya.

“Mau apa?”tanya Aisyah penasaran.

Dafa tersenyum ke arahnya, “Mas tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Mas tidak akan membiarkan kesempatan itu pergi lagi”

“”Maksudnya apa?”Aisyah dibuat bingung dengan tingkah lakunya.

Dafa mengangkat bahunya, sembari mengisyaratkan Aisyah untuk melihat saja apa yang akan dilakukannya.

“Assalamu’alaikum mas Arham, ini Dafa.”ujar Dafa.

“Wa’alaikassalam, ada apa Fa, udah nemu Aisyahnya?”tanya suara di ujung telpon.

“Alhamdulillah udah mas, sekarang Aisyah ada disini bersama ana”jawab Dafa.

“Bagus kalau gitu, kalian sudah ngobrol? Apa kata Aisyah?”tanya Arham kembali.

“Aisyah bersedia Mas, oh ya Mas tentang rencana ana mengkhitbah Aisyah 3 bulan lagi itu, ana batalkan”jawab Dafa mantap.

Aisyah, dan juga Arham yang ada di ujung telpon terkejut. Aisyah belum tahu rencana Dafa untuk mengkhitbahnya, apalagi sekarang Dafa bermaksud membatalkannya. Ada banyak hal yang dia tidak tahu, yang hanya diketahui Dafa dan Arham kakaknya.

“Kenapa?”tanya Arham. Nada suaranya penuh dengan keterkejutan.

“Jangan marah dulu Mas, ana akan memajukannya. Ana akan mengkhitbah Aisyah,…dua minggu dari sekarang”jawab Dafa tanpa keraguan

“Oh..kamu bikin Mas jantungan saja, ya..itu terserah kamu. Hanya yang mas minta, kamu mau menggantikan mas untuk menjaga Aisyah. Wahh..Fa udah dulu ya, ada tamu nih. Nanti kita sambung lain kali, salam untuk Aisyah. Assalamu’alaikum”ujar Arham mengakhiri percakapan nereka.

“Wa’alaikumsalam”jawab Dafa.

Aisyah memandang Dafa tak berkedip. Terlalu banyak kejutan yang disiapkan oleh Allah untuknya hari ini. Aisyah menepuk-nepuk pipinya, mungkin percakapan dua laki-laki itu hanya sepenggal episode yang terbawa dari impiannya. Dafa tertawa kecil, gemas melihat kelakuan Aisyah yang belum mengerti dengan apa yang terjadi.

“Mas sudah bilang khan, mas tidak akan melepas kesempatan itu untuk kedua kalinya. Sebelum ada penghalang lagi, mas akan segera mengikatmu”kata Dafa.

Ditatapnya mata teduh Dafa, “Terima kasih…..Mas, ana sekarang yakin, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk setiap orang. Hanya soal tempat, dan waktu sampai menunggu cinta itu bermuara pada orang yang tepat”tutur Aisyah, matanya berkaca-kaca. Perasaannya mengharu-biru, sesak oleh selubung kebahagiaan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan mungkin penyair paling hebat di bumi pun tidak akan bisa menyelami kebahagiaannya ini. hanya dirinya dan Sang Maha Pemberi Kebahagiaan yang tahu kebahagiaan macam apa yang bersemayam di hatinya sekarang.

“Aisyah,,,,selamat ulang tahun, maaf Mas tidak membawa apa-apa. Mas gak sempet kemana-mana selama di Bandung. Hanya bunga itu yang bisa mas berikan”ujar Dafa sembari menunjuk bunga yang digenggam Aisyah.

Aisyah tersenyum, “Ana tidak butuh hadiah apa-apa lagi. Allah sudah mengirimkan hadiah terindahnya untuk ana, Mas adalah hadiah terindah yang pernah ana dapatkan.”

“Begitu juga denganmu, Kamu adalah warna yang paling cerah yang pernah mas lihat, bunga paling indah yang pernah mas lihat, dan calon bidadari surga tercantik yang pernah mas lihat.”ungkap Dafa.

Berdua mereka melihat langit senja kota kembang yang merah. Warna merahnya seperti bunga-bunga cinta yang tumbuh diantara dua insan yang sedang dilanda asmara itu. Bersama senja mereka menjalin harapan demi harapan, impian demi impian, sesuatu yang mereka harapkan akan terwujud. Romantisme kota Bandung membawa kedamaian yang hangat di hati keduanya. Dan sekarang hati mereka telah penuh dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang dijanjikan Tuhannya untuk orang-orang yang jatuh cinta di jalan-Nya. Keyakinan itu semakin mengakar kuat di hati mereka, keyakinan yang harusnya juga dipahami oleh semua orang yang mengaku percaya pada janjiNya, bahwa jodoh akan bermuara pada orang yang tepat, di waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Bahwa Allah sudah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk semua orang di luar sana. There is someone for everyone out there…..

Teruntuk mujahid yang disiapkan Allah untukku,

Entah kau siapa dan dimana, tapi anganku menunggumu selalu, untuk bersama-sama mengarahkan cinta itu bermuara di keridhaanNya.

Leave a comment »

UNDIP I’m coming Part 3

1 Juli 2009

Ayo semangat ! semangat ! Ujian bukan masalah, Innallaha ma’ana ! Sebelum berangkat ayo kita sempetin baca catatan biologi punya Vidhe, siapa tahu ada yang nempel. Alhamdulillah ternyata ke kampusnya dianter sama mbak-mbak cantik nan shaleh fren! Ternyata gedung dah mulai penuh, aku sama Vidhe langsung masuk. Hoo ternyata tempat duduk kita dah dikasih nomor test waktu kita diterima jadi CAMA UNDIP jadi gak bisa asal duduk. Sebenernya lulus ato enggak test ini bukan tolak ukur lulus ato enggaknya jadi mahasiswa di UNDIP, semua yang sudah diterima lewat jalur PSSB sudah diterima di UNDIP, test penjajagan cuma buat ngetest doank plus biar anak-anaknya gak ngikut SNMPTN hari itu (hmmm…). Dan ternyata matrikulasi emang gak ada fren, alhamdulillah…liburku terselamatkan.

Bismillah…kubuka album kuning, penuh soal dan rumus hehe.. (mestinya kubuka album biru penuh debu dan usang y?) dan jreeng !! Alamakk..indah nian rumus-rumusnya. Membuat otakku nge-hank, badanku meriang, nafasku megap-megap, kepalaku pusiiing. Kumulai dari pelajaran yang paling kusukai Biologi dan Bahasa Inggris, hmm..lumayanlah untuk ukuran universitas sebagus UNDIP soalnya lumayan gampang. Dan Thanks God, materi pelajaran biologi ada semua di catatan yang aku pinjem dari Vidhe… What a lucky day !! Apakah sebagian alga biru itu beracun, nah lho?? jawabannya apa, setahuku yang beracun itu tenda biru, (bisa meracuni hati orang yang ditinggal nikah kekasihnya khan !!??!? hahahaha…). Lanjut soal bahasa Inggris, hoo lumayanlah set..set..set. Nah my favorite lesson, fisika. dan WaaW, aku mengerjakan soal-soalnya sambil merem (bukan sombong neeh, tapi saking kelewat susahnya, jadi nyerahin sama yang Di Atas lah mau ngisi yang mana juga). Hatiku berurai airmata, Ya Rabb pelajaran inilah yang paling hamba harapkan memberikan kontribusi untuk nilai hamba, tapi ternyata susahnya minta ampuun.  Seingatku hanya 6 nomor yang kuisi dari 20 nomor yang ada, pasrah aja lah….., yuk lanjut ke matematika. Wahh ternyata lebih susah, lewat aja lah, sekarang ni yang paling ingin dihindari, siapa lagi kalau bukan kimia ‘tersayang’, kubuka lembaran pertama dengan mulut berkomat-kamit mengucap doa. Kubaca soal-soal itu satu persatu, dan ternyata,,,,,,,,arrghhh…soal-soalnya gampang semuaaaaaa! Y ampuun kok bisa begini sih, yang diharap malah jadi susah, yang ingin dihindari malah terlihat sangat mudah. Ya Rabb jalanMu sungguh tak dapat kumengerti, tapi ini indaaaaah. Baru rasanya seumur hidup aku mengerjakan soal kimia dengan mata berbina-binar bahagia seperti itu. PertolonganMU datang dari arah yang tak disangka-sangka Ya Rabb.

Teng..3 jam waktu untukk mengerjakan soal sudah habis, Kupandang LJK ku yang mengenaskan, dengan kosong tanpa jawaban disana-sini, duh ukhti kau benar-benar menyedihkan….Y apa boleh  buatlah, matrikulasi or something like that, I’m readyyyyyyyy!! (idiih spa juga yang ikhlas dimatrikulasi). Dengan hati separuh tidak tega kuserahkan LJK ku pada bapa-bapa berkumis yang mendatangi kursiku, kulepaskan LJK ku seperti ibu yang sedang mengawasi kepergian anaknya (lebaaaayyyy). Hik…hik…tidak ada jalan untuk kembali. Sayonara LJK…

Vidhe menungguku di pintu gerbang. Kita bertiga -sama temannya Vidhe- naik angkot buat pulang, kita lupa gak nyebutin nama lokasinya akhirnya fren kita dibawa nyasar ampe ke Ngesrep, lumayan jauh dari wisma. Setelah naik angkot kebalikannya kita nyampe di wisma. Abis itu nge-net deh ampe pegel ni tangan, gak ada yang terlalu spesial sih hari ini, karena asli aku ngantuk beraaaaaat. Test penjajagan bener-bener nguras energiku.

So guys, it’s enough for this day. See you next edition……

Leave a comment »

UNDIP I’m coming Part 2

30 JUni 2009

Selamat pagi dunia….!!! Kutatap hari baru dengan optimisme baru, Semarang pasti bisa kutaklukan !!! (deu..semangatnya…). Jam di hpku menunjukkan waktu pukul 04.00 pagi, tak ingin menyia-nyiakan waktu aku mulai membuka-buka buku catatan kimia yang kubawa dari rumah. Kukira setelah lulus dari SMA aku akan lebih ‘bersahabat’ dengan pelajaran satu ini, tapi ternyata oh No..!! KImia memang musuh bebuyutanku, dalam bayanganku rumus-rumus di buku itu berlarian, sengaja mengaburkan pandanganku agar otakku semakin butek (hmm..penilaian yg subjektif). Kimia oh..kimia, kejamnya dirimu, dan mirisnya karena aku ada di jurusan teknik lingkungan, aku harus belajar mencintaimu hik…hik….

Ayo ukhti terus berusaha !! Aku memberi semangat untuk diriku sendiri. Kupaksakan untuk tetap memusatkan perhatian pada pelajaran satu itu. Masuk atau enggak yang penting aku sudah berusaha, InsyaAllah Allah pasti memberikan pertolongan, karena aku yakin padaNya. “De pada mau sarapan gax?”Mbak Devi, mbakku yang manis bertanya padku dan Vidhe. Tentu saja kami megiyakan, perut ini sudah tak tahan minta diisi. Di ruang tamu sudah hadir sesosok mbak-mbak yang mirip penjual jamu gendong, tadinya aku bertanya-tanya, siapa juga yang mau beli jamu pagi-pagi begini, but pas liat barang bawaannya hehe…ternyata itu tukang nasi keliling fren! Walah-walah si mbak ini, tak ada jamu nasi pun jadi ternyata. Ada nasi uduk, nasi goreng, and berbagai macam gorengan. Dan guys, ternyata ada keanehan lain lagi, disini nasi gorengnya pake kol mentah ! Hduuh variasi macam apa pula ini ?? Karena emang gak ada history nya nasi goreng pake kol mentah yang asli bener-bener masih mentah, akhirnya aku buang aja deh tu kol!Klo buatku sih tu kol ngalangin pemandangan banget. Tapi ada satu hal yang bener-bener ngehibur, taste nya itu lho, pedaaaaaassss. Fyuuuhh..salah satu yang ana suka dari Semarang adalah bumbu makanannya kebanyakan yang pedas-pedas.

Vidhe sama temen-temennya yang dari Kuningan sudah berpakaian super rapi, wahh..kinclong lah pokoknya ukhti2 kita ini. Rupanya mereka mau jelajah lokasi di UNES, bwt tmen2 yg mu ikutan SNMPTN. Selain aku dan Vidhe yang lainnya masih belum diterima di UNDIP, aku doakan semoga kami semua lulus dan bisa menyandang titel sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro. Mereka mengajakku untuk ikut, hmmm..rasanya itu akan menyenangkan. Tapi kemudian aku ingat rencana awalku, aku memang berniat menjelajahi pelosok tembalang, tapi aku ingin pergi sendirian, lebih menantang buatku. Karena pada dasarnya aku memang sangat menyukai tantangan. Tapi kuputuskan untuk keluar dari rumah bareng dengan mereka, hanya sampai jalan raya saja, karena rute yang akan kami tuju berbeda.Vidhe dan teman-teman menunggu angkot yang akan mengangkut mereka ke Ngesrep, tempat dimana patung pangeran Diponegoro kebanggaan UNDIP berada. Aku meneruskan langkahku, menyusuri jalanan Tembalang yang panas. Aku senangn sendirian, dengan begitu aku bisa menafakuri segala hal yang sudah kulakukan, dengan begitu aku bisa mempererat tali batinku denganNya. Aku juga senang dengan kesendirianku, karena dengan sendiri aku bisa menciptakan duniaku sendiri, dunia dimana hanya aku yang bisa memasukinya, dunia yang sepenuhnya adalah milikku.

Ada satu hal yang baru kusadari hari ini, di Semarang aku gak pernah ngerasa ada angin!!! Wahh..ini bner2 level danger. Padahal daerah kampusku termasuk daerah perbukitan, daerah tinggi. Aku gak bisa bayangin gimana dengan daerah yang lebih rendah dari Tembalang, beuhh amat sangat menderita kayaknya. Apalagi katanya daerah kampus pleburan sering banjir. Hehehe..padahal disana ada temenku. Alhamdulillah Ya Rabb, Engkau memberikan kampus yang terbaik untukku. Aku mulai melangkahkan kakiku ke Alphamart terdekat, beli apapun yang kurasa pantas untuk dibeli (yang pasti ada unsur makanannya). Skalian saja aku buat kartu Alphamart, sejenis membercard buat pembeli hehe,,,ni penting lho buat mahasiswa seperti aku, ini adalah sebuah langkah jitu yang mustinya digalakkan di Indonesia, “Penghematan” namanya.

Keluar dari alfamart kuputuskan untuk pulang ke rumah, bukan apa-apa, panasnya Semarang membuatku malas untuk keluar rumah. Yang paling kutakutkan adalah dehidrasi, Ya Rabb niatku untuk ke Semarang adalah menambah berat badan, kalau panas seperti ini dan tiap hari mengeluarkan keringat dan kalori malah tambah minus berat badanku hik…hik….Kuedarkan pandanganku ke sekeliling jalan, melihat hal-hal baru yang tak kulihat di kota asalku Tasik. Tapi bagiku semuanya hampir sama, kecuali satu kenyataan bahwa Tasik jauh lebih adem dari Semarang. Fren,,,aku mulai bertanya-tanya, sudah sekian jauh aku berjalan tapi jalan ke wismaku belum tampak juga. Tenang..tenang, sebentar lagi pasti sampai. ujarku menghibur diri sendiri. Namun jalan di depanku seperti siluet tanpa ujung, aku jadi agak gelisah juga. Aku bertanya pada mbak-mbak yang sedang menjual es di pinggir jalan “Mbak, perempatan Bulusan dimana ya?” Ikhwah thu nggax mbka-mbaknya bilang apa? DEngan wajah tanpa dosa dia menjawab “Walahh, perempatan Bulusan dah kelewat jauh Mbak”. Aku melongo, antara tak percaya dan nelongso. Oh My God, kenapa msti nyasar seehhh !!!! Tapi Alhamdulillah akhirnya aku bisa sampai di wisma dengan selamat, sentosa dan bahagia.

Ternyata diam di wisma lebih tidak mengenakkan untukku. Hehe..pada dasarnya aku memang tidak bisa diam sih. Akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan ke kampusku. Mbak-mbak di wisma pada geleng-geleng kepala, “Makan apa ya ni anak kok dari tadi gak bisa diem”. Begitulah saudara-saudara perkiraanku tentang apa yang mereka pikirkan. Dengan laptop di punggung (bukan pedang lho..!) dan dengan berbekal keikhlasan untuk siap nyasar lagi (ini yang paling gak enak) akhirnya tanpa peta dan guide aku berangkat untuk melihat gedung kampusku. Lindungi aku dan beri aku petunjuk Ya Rabb agar aku tidak nyasar lagi kali ini, Amiin

Hmm..satu hal lagi yang harus kupelajari, ternyata nunggu angkot di depan wisma itu lamaaaaa banget. Di sebelahku juga ada ibu-ibu yang kayaknya lagi nunggu angkutan umum. “Mbak, kalau bis ini rutenya kemana?”tanya si ibu mengagetkan aku yang sedang asyik-asyiknya memandangi makanan yang berjejer di warung padang di seberang jalan (hik..hik..maklum belum pernah mkan di rumah makan padang sih). Dan dengan PD aku menjawab, “Kirang terang bu, uppsss…!” aku langsung menutup mulutku. Waladalahhh, bagaimana ini bahasa sundaku keluar lagi, karena lagi gak konsen jadi aku ngerasa masih ada di tanah Sunda, gk nyadar klo ada di Semarang. DEngan cepat kuralat kata-kataku “Maaf bu, saya juga bukan orang sini, jadi gak tahu juga ya” si ibu cuma mesem-mesem terus senyum simpul (aduuh jadi kasihan sma tuh ibu, dah dijawab pake bahasa yang gak dia mengerti plus ditambah yang ditanya ternyata gak bisa jawab pertanyaannya, afwan ya buuu)

Eh si ibu ternyata naek angkot yang sama, cma bedanya dia mu turun di Ngesrep sedangkan aku turun di kampus, tepatnya di gedung Dekanat. Menunggu sampai di tempat yang dituju,aku menelepon Lisy sahabatku, dan ternyata fren gk thu knp hati ini ngerasa gak enak, akhirnya aku nanya sama supir angkotnya. “Mas, saya turun di dekanat ya mas”, sang supir langsung menampakkan ekspresi bingung, oalahhh ternyata dah kelewat toh, padahal aku dah berapa kali bilang sama si supir supaya nurunin aku di depan dekanat. Yahh nasiib…akhirnya aku langsung turun disana, karena memang tempat angkot berhenti belum terlalu jauh dari lokasi gedung dekanat. Sendiri aku menapaki jalanan panas yang berbatu, menyusuri deretan gedung-gedung kampus yang megah dan glamour, apalagi ketika aku melihat widya puraya UNDIP, megah buangeet cuiii….

Tengok kiri tengok kanan, tak kutemukan gedung yang ada tulisan dekanat nya. Hanya ada sebuah jalan kecil menuju gedung fakultas sipil dan PWK, yahh..kususuri sajalah agar aku tahu denah kampus ini lebih detail. Jalanan UNDIP asri, cuma satu yang sedikit kusesali, jarang ada tempat sampah disana. Setelah puas berjalan-jalan aku bermaksud kembali pulang, dan hei ternyata gedung dekanat terletak pas di depan jalan menuju gedung fakultas teknik, MasyaAllah, karena gedungnya posisinya ada di bawah, jadi kita agak kesulitan untuk menemukannya. Aku menepuk jidat, ternyata akal manusia terbatas, aku bahkan hampir melewatkan gedung dekanat ini. Dan ternyata gedung dekanat tetanggaan sama gedung utama UNDIP, gedung Prof Soedharto, gedung tempatku besok akan menghadapi test penjajagan (sediiih). Tadinya aku mau hotspotan disana, tapi kemudian otakku berputar, bagaimana kalau seandainya ada senior yang melihatku dan mengenali wajahku pas OSPEK nanti, psti dia bakal bilang “Gila ni anak, belum jadi mahasiswa aja dah manfaatin sarana gratis di UNDIP, apalagi klo dah kuliah. Wahh ga bener nih” y mungkin begitulah suara hati senior2ku hehe… (ngarang bangeeet). Jari telunjukku melintang ke jalan, aku bukan mau bunuh diri lho! Aku cuma mau nyetop angkot yang lewat. Sesampainya di rumah aku langsung ganti kostum dan yahh kembali beraksi di jalanan (diih serem amat) mencari warnet yang paling deket (ehm2..mu pinter teknologi ceritanya) Ternyata warnet yang paling dekat ada sekitar 10 meter dari wismaku, disana aku ngenet sama Vidhe, pulangnya kita makan lagi (duuh..aktivitas favorit nih). Nasi + Tiram + es teh = 3500 = murah abieeez. Oh Ayah, bunda..tak akan habis uang kalian menyekolahkanku disini. Cuma ada sayangnya juga disini, mbak-mbaknya ngomongnya full Jawa version !!! Aku yang memang tidak ditakdirkan berdarah Jawa ini cuma bisa manggut-manggut tanda tak ngerti. Mbak aku mu bayar mbak, eh si mbaknya malah sibuk nonton sinetron,jangan nonton sinetron mbak, gak bermutu, nonton spongebob aja !! (jiahahahaha.. sma2 gak bermutu itu mah).

Sebenernya siangnya aku mampir bikin member card di rental komik and novel ‘Triple K’, masyaAllah mbaknya jutek deh jdi ilfil waktu mu minjem komik. Akhirnya minjemnya seperlunya aja. Jadi males kesana lagi (Mbak semoga aku bisa berhusnudzhan sama mbak, afwan….)

Fisika bukan masalah untukku, tapi kimia, itu cobaan berat buatku. Oke, malam ini aku harus ngapalin “Ya Rabb, innamal a’malu binnniyaat, semoga niatku untuk menghapal kesampean Tuhan…” Yaaa ternyata gak kesampaian Mbak-mbakku nonton film di kamar yang aku tempati. Tapi asyik juga neeh, filmnya inspring banget, film iran-muslim yang berkisah tentang bagaimana setiap kesalahan pasti mempunyai cara untuk dibayar, bukan dengan dendam kesumat yang menimbulkan kobaran api benci, tapi dengan bunga-bunga kasih sayang yang membuat manusia bisa hidup berdampingan dengan damai. Indaaah banget deh, mu tahu judulnya? Wahh sayang aku lupa judulnya tuh. Akhirnya dengan pasrah dan mata merah, jam 1 teng, aku baru tertidur dengan damai.

Comments (4) »

UNDIP I’m Coming Part 1

29 Juni 2009

Ayam berkokok tanda pagi sudah tiba, dengan tergesa-gesa aku bangun dari tempat tidurku. Wake up girl !!! Hri ini msti brangkat ke semarang. Dngan setengah enggan kupaksakan untuk bangun dari tempat tidur. Setelah mandi dan berkemas, kulirik dua tas besar di atas kursi, ck..ck…ck…4 hari di semarang bawaanku udah kayak orang yg mu dua tahun ada di Arab Saudi. Ya apa boleh buatlah, khayalku memang semua barang itu akan kumasukkan dalam kantung ajaib Doraemon, tapi berhubung namanya juga khayalan, jadi beginilah jadinya. Aku yang ‘imut’ ini memanggul dua tas besar itu sendirian, hidup memang pahit…

06.30 mama dan papa mengantarku ke pool dengan menggunakan mobil, Brr..hari masih begitu dingin,aku mulai berniat untuk tidur di dalam mobil, tapi aku urungkan niatku, karena pool bis b****** (g bleh sbut nama, tkut dikira promosi hehe…) g tllu jauh dari rumahku. Wahh tu bus yang mu k semarang belum nongol-nongol juga, terpaksalah kita menunggu selama 45 menit. Horee..akhirnya bisnya datang, ternyata bisnya gak ksiangan, cuma kitanya aza yang datang kepagian (ahh..pak supir bus maaf y dah suudzhan). Dengan airmata menganak sungai mama melepas kepergianku (lebay bangeedd y hehe..), pun papa dengan asap rokok yang membumbung tinggi bak lokomotif kereta uap zaman Belanda. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam bis, Bismillahirrahmanirrahiim…, kepalaku celingak-celinguk mencari kursi depan yang kosong, kuusahakan duduk di deretan paling depan, karena kalau duduk di belakang aku suka keserang penyakit “lieur sugestinikus”, penyakit yang kalau kambuh bisa membuatku mual, pusing, masuk angin, pengen muntah, dan sederet gejala-gejala lain yang insyaAllah tokcer untuk membuatku merana dalam bis.

Alhamdulillah bangku ketiga dari depan masih kosong, dengan gaya macan menangkap buruannya segera kududuki kursi itu, sebelum ada penumpang lain yang mendudukinya. Puji syukur untukmu Ya Rabb aku masih bisa menikmati udara segar pagi ini, dan terima kasih sudah melahirkanku di kota ini, Tasik emang the best !! Untuk mengusir jenuh kukeluarkan mp4 kesyanganku dari tas, jreeng..lantunan musik terdengar dari sna, sebuah nasyid dari saudara persaudaaraan, ‘dialog dua hati’. Aku yang tadinya masih celingak-celinguk kesana kemari langsung menghentikann aktifitas sejenak, kudengarkan bait demi bait yang didendangkan para munsyid, hatiku bergetar. Isi nasyidnya sederhana tapi sangat dalam, sebuah pesan cinta dari seorang suami untuk istrinya. Guys, tanpa kusadari airmata mulai menggenang dan tentu saja berlanjut jadi mengalir, aku tak tahu menangis karena apa, karena terharu, bahagia, atau sedih. Pikiranku mulai berkelana, indahnya kalau nasyid itu ditujukan seseorang buatku, seseorang yang akan menjadi suamiku kelak. Peshh..astagfirullah hal adziem, aku malu pada diriku sendiri, kenapa berpikir hal seperti itu. 3 Jam perjalanan kuhabiskan untuk meresapi isi lagu itu, aku menangis, kali ini diiringi dengan doa Ya Rabb berilah suami yang shaleh untukku, sperti suami di nasyid ini, yang senantiasa menasihati dan membimbing istrinya.

teng…tong…perjalanan baru berjalan selama 3 jam, masih 6 jam tersisa. Duduk terus membuatku pegal, rasanya ni lutut dah mau copot, untung kubawa semua barang yang sekiranya bisa menghiburku di jalan. Hoo iya di jalan aku membeli sebuah surat kabar harian lokal, tadinya sih mau kubaca kalau sudah sampai di semarang, itung2 barang yang tersisa dri kampung halaman, tapi karena bagian bawah bisnya agak basah, terpaksa korannya kujadikan alas sandalku hehe… Kucoba untuk menghabiskan waktu dengan melihat pemandangan di luar bis, tapi subhanallah kantuk yang luar biasa mulai menyerangku. Kelopak mata ini rasanya berat untuk sekedar melihat keagunganNYA yg luar biasa itu, akhirnya kuputuskan untuk tidur.

Saat terbangun kukira aku sudah tertidur selama berjam-jam lamanya, saat kulirik jam tanganku, ternyata aku hanya tertidur selama 10 menit !!! mulutku mengerucut, oh my god, it is a very long…long…journey ! Tak ingin mencak-mencak tanpa karuan, kualihkan pandanganku pada deretan pegunungan di luar jendela bis. Hmm..indahnya,,,, Maha Suci Engkau Ya Allah yang menciptakan segala keindahan yang ada di bumi. Tak ada tempat tertentu untuk mentafakuri segala ciptaanNYA, begitu pun di bis itu, aku masih bisa bertafakur dan bertasyakur.

Setelah 4 jam perjalanan bis pun berhenti, eitsss…tunggu dulu bukan berarti kita dah nyampe di semarang, bis berhenti dulu buat istirahat. sekaligus waktu agar para penumpang bisa nukerin tiket yang mereka dapet dengan makan siang, aku sengaja tak ikut makan siang, tergoda untuk itu pun tidak. hik2..memang miris, tapi klo aku makan di tengah perjalan jauh kayak gini, pasti tu makanan teriak-teriak di dalem perut minta dimuntahin, arrghhhh..malang nian nasibku

okeh, “30 menit berlalu bis jurusan Tasikmalaya-Semarang akan segera berangkat” suara petugas di bis membuatku terlonjak gembira, akhirnya kami bisa segera meninggalkann tempat itu, kalau enggak, hik2…bsa aku menderita, tahu kenapa? Karena bau aroma masakan yang ada disana cukup membuat perutku meliuk-liuk minta diisi, duuh perut yang sabar ya, ni juga untuk kebaikan kita semua. Ikhwah, masih 5 jam perjalanan, jangan ngarep dengan sekejap dah nyampe ke semarang. Hidup t’nyata bner2 butuh perjuangan, termasuk perjuangan buat yang satu ini.Kembali aku menyibukkan diri dengan mendengarkan nasyid2 mellow dari mp4 ku (yah tu mah buakn sibuk namanya !!) sesekali kubuka laptopku untuk bermain game, yahh..harvest moon ku sudah level tinggi, aku sudah punya ladang yang luas, 5 ekor ayam, dan 3 ekor sapi hehehe…di dunia maya aku emmang enterpreneur yang luar biasa, tapi di dunia nyata justru kebalikannya (aku jadi sedih). Tadinya aku mau berhenti main, tapi anak bapa-bapa yang duduk di sampingku sepertinya sangat tertarik melihat gambar2 harvest moon yang bergerak di layar monitorku, akhirnya kulanjutkan games ku (karena anak itu yang mau, atau aku yang doyan y, ahh aku juga tak tahu).

Jreeng…sepanjang jalan kulihat deretan rumah makan dengan nama menu yang aneh-aneh. Tapi tak apalah, nama bagiku bukan masalah, yang penting makanannya enaaak hehe.. Sudah kumasukkan dalam rencanaku, selama 4 tahun ke depan kuliah di semarang, aku akan bersilaturahmi (ceilleee…) ke rumah makan-rumah makan yang ada disana, yaa kasarnya wisata kuliner lah. Kutatap setiap nama menu2 dengan alis bertaut, satu kata yang pertama kali muncul di pikiranku, ‘aneh’. Ada pula makanan yang namanya sambel gledek, aku menggeleng-gelengkan kepalaku, liat aza klo nanti aku pulang ke tasik aku akan bikin saingannya, ‘nasi goreng halilintar’ hehe…Ada satu pertanyaan yang terus-menerus mengganjal dipikiranku, kenapa banyak sekali tukang baso ‘ojo lali’ di Jawa Barat, tapi gak ada satupun gerobak baso yang tulisannya ‘tong hilap’ di Jawa Tengah. Apa berdagang baso emang hak ciptanya orang2 sana ya????

Hiyy..masuk daerah Kutoarjo banyak banget kuburan di pinggir jalan, kuburannya megah lagi, kayak zaman belanda dlu. Aku sempat berpikir apa gak bising ya penghuni kuburnya, abiiis pinggir jalan banget khan !! Uppss..ternyata kompleks pekuburannya bukan cuma satu dua pemirsa, tapi baaaanyak banget. Yah sabar aza lah, tdinya pengen liat pemandangan yang lebih adem gitu, tapi g apalah dengan melihat pekuburan kita justru jadi inget mati khan?
“Setiap yang berjiwa pasti merasakan mati”, tidak ada yang tahu -dengan seizin Allah- tentang kapan ajal akan datang menjemput.

Yapp..kita baru masuk daerah Ungaran, msuknya kabupaten Semarang. Kenapa seeh SEmarang luas banget, dah nympe semarangnya tapi belum nyampe daerah kampuz ternyata jauh lebih nelangsa dari perjalanan dari tasik tadi. “Sukun..sukun” teriakan kondektur bis membuyarkan lamunanku, alhamdulillah YA Rabb akhirnya sampai juga. Uupss, buakn berarti dah nyampe daerah kampus lho, dari sukun sampe ke kampus UNDIP Tembalang masih harus dua kali lagi naik angkot, eittss tapi tenang jaraknya deket koq. Setelah naek Johar-Banyumanik, aku naik angkot yang ke kampus, tapi karena hari dah menunjukkan pukul 04.00 sore, kuputuskan untuk langsung ke wisma anak teknik. Yaa nasib di negeri orang, nyari wisma sempet nyasar pula. Pyuuh..untungnya akhirnya nemu. Fren ternyata di wisma ntu ada mahasiswa baru yang orang sunda juga! yuhuuuu..ini memeang reward dari Allah, apalagi 2 dari 6 orang kakak2 seniorku di wisma juga ternyata orang sunda. Akhirnya kami mengobrol kesana-kemari dengan bahasa sunda. Tentunya ini hal yang membahagiakan buatku, karena itu artinya aku tak perlu membiasakn diriku untuk berbicara dengan aksen jawa. hehe..perbandingan orang Jawa dan Sunda di wisma ku jadi seimbang deh, aduh..alhamdulillah Ya Allah, terima kasih banyak, akhirnya nemu temen sekampung. Setelah sekilas bercakap-cakap dengan mbak2 nan anggun yang ada disana akhirnya aku memutuskan untuk sedikit beristirahat. Bayangin 9 jam di bis, hduuhhh rasanya tulangku patah semuaaaa..

Hari mulai menjelang sore, perutku mulai demo minta diisi. Akhirnya bersama-sama dengan akhwat yang ada di asrama ataya aku mencari tempat makan. Satu hal yang baru aku sadari, wisma kami dikelilingi rumah makan !!! hehehe..jadi gak akan ada istilah itik mati di lumbung padi kayaknya! hehe.. Tapi sengaja kakak2 senior milih tempat makan yang agak jauh, katanya sih yang lebih enak. Tp gak tahu juga bener ato enggaknya. Well, aku sampai di sebuah rumah mkan dengan tulisan “Citra Bahari”, hmm..hal yang pertama kali terbayang di pikiranku adalah semua makanannya adalah seafood, lha wong dari namanya juga ada bahari nya kok! Tapi ternyata semua makanan ada fren, kecuali satu yang bikin aku bener2 kangen rumah, Hik2..disini gak ada lalap ! Aku muter2 nyari tempat makan sunda, ternyata yang ada cuma warung tegal sama warung padang. Nasib..nasib… Akhirnya suap pertama masuk ke mulutku, bismillah…, nyam..nyam..satu kata yang keluar dari mulut ana, lezaaaaaaaat. Rindu kampung halaman sedikit terobati nih, ternyata makanannya gak kalah enak sama orang sunda. Ada satu lagi nilai tambahnya, murah lho !!!!!

Adzan isya sudah berkumandang, tapi mata ini tak hendak menutup barang sekejap. Padahal besok musti nyari tahu denah kampus plus ngapalin buat test penjajagan, takutnya dijegal matrikulasi fren ! Satu hal yang biasanya ditakuti sama mahasiswa pssb adalah matrikulasi. Tapi aktanya tahun ni gak ada matrikulasi, aku gak tahu pasti, tapi aku berdoa semoga saja itu benar. Yoo wis guys cerita untuk hari ini sampai disini dlu, eittss..tp nnti ksini lagi ya coz masih ada episode tanggal 30 juni sampe tanggal 2 juli yang tentunya lebih rame, dan lebih membuat nelangsa dari ini. So keep waiting !!!!

Comments (2) »