Dari Allah Untuk Aisyah

DARI ALLAH UNTUK AISYAH

OLEH :HUMAIRA

Aisyah memandang buket bunga yang ada di hadapannya, dengan tergesa-gesa dia mengambil pesan singkat yang digantung di ujung tangkainya. Pelan-pelan ia membuka dan membacanya,

Untuk bunga yang selalu bersemi dalam hidupku

Hatiku menjadi tandus semenjak kepergianmu.

Kembalilah bungaku, siram hati ini dengan ceriamu.

Agar aku bisa tertawa lagi, karena aku sangat mencintaimu.

Radith

Pikirannya berkelana, buket bunga itu seperti pusaran yang menariknya mundur ke masa lalu. Masa-masa SMP yang penuh kenangan, masa untuk pertama kalinya ia mengenal arti cinta, bersama anak laki-laki pemalu itu,Radith. Tiba-tiba ia merasa pening, Kenapa kamu harus datang lagi dalam hidupku Radith. desahnya.

Kenangan masa lalu itu semakin terlihat jelas di kepalanya. Dan semakin jelas kenangan itu muncul, keyakinan Aisyah akan prinsipnya sendiri mulai goyah. Mungkin ia akan dengan mudah mengatakan tidak pada laki-laki lain, tapi pada Radith? Ahh..Tuhan, apakah Radith adalah bagian dari ujianmu? Bergantian ia menatap buket bunga dan pesan itu, semakin lama, semakin bimbang hatinya. Haruskah aku menyimpannya, atau membuangnya ? gumamnya.

Lantunan asma’ul husna terdengar dari telpon genggamnya, menandakan ada pesan yang masuk. Aisyah mengambil telpon genggamnya, dilihatnya nama yang muncul di display hpnya, ia agak terkejut, Radith ! Dengan gemetar dibacanya sms itu,

Ass. Orchid, ingat? Aku selalu memanggilmu dengan nama itu, kmu sudah terima buket bunga itu? Aku tulus mencintaimu. Maukah kamu menjadi bidadari hatiku lagi?

Aisyah berdiri mematung, dibacanya pesan itu sekali lagi, ia berharap apa yang barusan dibacanya adalah halusinasinya saja. Ia berharap buket bunga dan pesan itu hanyalah mimpi semata, dan ketika ia bangun besok, semuanya akan normal kembali. Tapi semua ini kenyataan, bunga itu, dan pesan itu..ah..semakin ia memikirkannya, semakin rumit otaknya untuk menemukan jalan keluarnya. Takdir apa yang mempertemukan kami kembali? tanyanya dalam hati.

Sudah satu minggu ini Radith terus-menerus menelpon dan mengiriminya pesan-pesan singkat. Aisyah merasa risih dengan semua itu. Mungkin dulu Radith memang pernah singgah di hatinya, tapi sekarang semuanya telah berubah. Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan itu sudah hilang dan hampir tak berbekas. Dia benar-benar ingin menjadi seorang muslimah sejati, dia ingin menolak ajakan Radith untuk berpacaran dengannya.Dia juga punya alasan lain, alasan itu adalah karena sekarang di hatinya sudah ada Dafa, seorang laki-laki yang diharapkannya menjadi imam yang baik untuknya kelak.

Dengan sigap Aisyah mengambil ponselnya, mengetik beberapa kalimat yang akan dikirimkannya pada Radith :

Ass. Maaf, ana sama sekali belum punya bayangan kesana. lagipula ana masih mau konsen sekolah. Ana pikir untuk sekarang hubungan kita hanya sebatas urusan pertemanan. Urusan jodoh dengan siapa, dimana, dan kapan, hanya Allah yang tahu.

“Ukhti, Ukhti Aisyah …” gadis berjilbab lebar itu melambaikan tangannya kearah Aisyah. Aisyah terus berjalan, pikirannya yang sedang tertuju pada Dafa membuatnya tidak meyadari kalau gadis itu berteriak memanggilnya. Dengan setengah berlari gadis itu menghampirinya, “ Hei, kenapa sih dari tadi dipanggil gak nengok-nengok. Seneng ya liat aku lari-lari kayak tadi?” Tanya gadis itu dengan terengah-engah, setengah kehabisan nafas karena sudah setengah berlari menghampiri Aisyah, apalagi sekarang ia harus menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah kaki Aisyah, yang termasuk “tempo cepat” diantara akhwat lainnya. Aisyah terkejut, ia tidak menyadari ada orang yang menghampirinya, sampai suara Kania, sahabatnya itu mengagetkannya.

“A..Afwan banget ya..ukh, ana nggak nyadar klo anti manggil-manggil ana dari tadi. Afwan banget ya.” Aisyah menjawab agak terbata-bata.

“Emang ada apa sih, anti kelihatan lesu pagi ini, ada masalahya? Cerita dong” Tanya Kania dengan ekspresi mengharap seperti Sinchan yang berharap dapat biscuit Chocobi.

Ahh, Aisyah tak mau menceritakan hal yang mengganggu pikirannya itu pada orang lain, terlebih pada Kania. Akhwat satu ini memang terlalu polos. Saking polosnya, hal yang seharusnya rahasia pun bisa sampai ke seantero sekolah. Lalu kalau masalahnya ini sampai ke telinga Ketua keputrian, alamakk..mau ditaruh kemana muka Aisyah. Zahra pasti marah besar, Aisyah pasti akan diberi ‘penyegaran rohani’ berjam-jam lamanya. Masa seorang akhwat di rohis banyak ngelamun gara-gara seorang ikhwan ?

“Nggak ko, nggak apa-apa. Ana cuma lagi bingung, buat agenda bazaar buku yang jadi koordinatornya siapa ya?” setelah berpikir cukup lama, akhirnya Aisyah menemukan jawaban yang tepat untuk Kania.

“hmm,,denger-denger dari ukhti Zahra sih, katanya koordinator nya antara anti sama akhi Ardi.tapi kurang tahu juga sih”jawab Kania.

Aisyah terkejut, ia menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajah sahabatnya itu dengan tatapan meminta penjelasan. “itu bohong khan, yang tadi cuma becanda khan. Masa ana yang jadi koordinatornya?”Tanya Aisyah.

“Makanya ana bilang denger-denger, soalnya ana takut salah hehe,, yang ana denger sih kayak gitu. Uupss..ana jadi lupa niat ana manggil anti, ana cuma mau ngingetin, jangan lupa nanti pulang sekolah kita ada rapat pembentukan panitia, mungkin anti lho yang jadi koordinator nya. Yahh..gak terlalu sulit khan hehe..”jawab Kania diplomatis.

“Yah..kita liat aja nanti. Menurut ana sih, akhi Dudi pasti nyerahin tugas koordinator sama akh Ardi, ato kalo pun diserahin sama akhwat, pasti ke ukh Zahra, ya khan?”kata Aisyah

Kania hanya mengangkat bahunya, ia tersenyum.

Jam pelajaran terakhir dilalui Aisyah tanpa semangat. Rasanya dia ingin cepat pulang ke rumah, mandi dan tidur. Seluruh badannya pegal-pegal, ahh..pelajaran olahraga kali ini benar-benar melelahkan. Apalagi siang ini, ada rapat rohis, dia tidak boleh bolos dan pulang ke rumah.

Bel pulang berbunyi, setelah guru mata pelajaran fisika mengizinkan anak-anak untuk pulang, dengan tergesa-gesa Aisyah berjalan menuju mushala yang ada di samping laboratorium komputer. Susana di sekitar mushala belum terlalu ramai, hanya ada beberapa anak yang sedang melepas sepatu dan bersiap-siap mengambil air wudhu. Aisyah melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu akhwat. Ada dua orang anak kelas dua yang sedang berwudhu, dua-duanya anak rohis. Aisyah memilih tempat wudhu paling pojok. Sebelum berwudhu, ia memandang sekeliling, hmm,,tempat wudhu ini selalu kelihatan bersih dan terawat. Pak Umar, penjaga sekolah ini memang benar-benar orang yang cinta kebersihan.

Percikan air dingin pertama yang membasuh wajahnya, membuatnya mulai segar kembali.dan percikan-percikan selanjutnya sudah mengembalikan 100% semangatnya. Alhamdulillah..ya Allah aku masih bisa mendapat air dengan mudah seperti hari ini. Padahal di luar sana ada orang yang sampai harus bekerja sangat keras untuk mendapatkan air. Dibasuhnya kakinya dengan hati-hati, ada bekas luka yang belum sembuh disana, bekas luka karena jatuh dari tangga empat hari yang lalu.

Bismillah..Aisyah melangkahkan kakinya ke dalam mushala. Mushala itu terlihat mungil dari luar, namun dalamnya cukup luas untuk menampung 150an orang. Memang tidak cukup sih untuk SMA Harapan Bangsa yang mempunyai siswa sekitar 800-an lebih, tapi setidaknya ini lebih baik daripada sekolah lain yang bahkan ada yang tak punya mushala sama sekali. Di dekat pintu ada lemari berukuran sedang yang dipakai untuk menyimpan mukena dan Al-Qur’an. Di sebelahnya ada rak kecil yang berisi buku-buku sumbangan dari alumni, yahh..buku-buku yang diperuntukkan unmtuk jemaah yang datang ke mesjid ini, meskipun pada akhirnya, anak-anak rohis lagi yang membacanya. Siswa yang lain jarang yang menyempatkan waktunya untuk melihat-lihat apalagi membaca koleksi buku-buku. Kebanyakan dari mereka pergi meninggalkan mushala setelah berdoa, bahkan banyak pula yang langsung pergi setelah salam. Yahh.setidaknya mereka masih ingat untuk shalat tepat pada waktunya.

Aisyah mengeluarkan mukena biru yang dilipat dengan rapi dari tasnya. Mukena itu harum, dia sudah mencucinya kemarin. Ia jadi semakin semangat untuk menghadap Sang Khalik. Di tempat shalat akhwat itu hanya ada tiga orang, Aisyah sendiri, dan dua anak rohis yang tadi berpapasan dengannya di tempat wudhu. Kadang ia merasa kagum dengan kedua anak rohis itu, ghirah jihadnya tinggi sekali. Sesibuk apapun, ia pasti melihat keduanya menyempatkan diri untuk shalat disana.

“Ukh, hari ini rapat ya?” Tanya Afifah, salah satu dari dua anak itu.

“Ukh, mau datang khan?”pertanyaan selanjutnya datang dari anak yang lainnya, Anita. Akhwat bertubuh mungil itu berbicara sambil mengapit peniti dengan mulutnya, membuat meringis siapapun yang melihatnya.

Aisyah tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Iya…”

“klo gitu kita duluan ya ukh, sampe ketemu di meeting”kata Afifah dan Anita hampir berbarengan.

Aisyah jadi sendirian, tapi justru ini jadi keuntungan untuknya, kekhusu’annya bisa lebih terjaga. Setidaknya itulah yang dia rasakan. Empat rakaat telah selesai ditunaikannya, kewajibannya telah ia tunaikan. Ada rasa lega yang menyelinap di dalam hatinya. Lega karena walaupun ajal menjemputnya, ia telah menunaikan kewajibannya hari ini. Benar katamu Ya Allah..hanya dengan mengingatmu hati menjadi tenang. Gumam Aisyah. Usai shalat dia pun meminta ampun kepada Rabb-nya atas segala kesalahan yang telah ia lakukan. Dan meminta perlindungan dari segala marabahaya yang mungkin terjadi, dan doa-doa lainnya yang hanya diketahui oleh Rabb-nya dan dirinya. Ketika ia berdoa pada Allah untuk memberinya jodoh yang tepat, entah kenapa bayangan Dafa muncul di benaknya. Mukanya memerah, ia beristighfar berkali-kali. Apalagi ini ya Allah?

Rasanya Aisyah malas untuk menyimak seluruh isi rapat hari ini, sampai keputusan rapat yang mengejutkan itu memaksanya berkonsentrasi penuh pada rapat.

“Interupsi, barusan kalau ana tidak salah dengar, akh Dudi menunjuk ana sebagai koordinator, apa itu serius?”tanya Aisyah.

“Benar ukh, setelah kita pertimbangkan rasanya anti yang paling cocok dengan jabatan ini. Ukhti banyak link ke para penerbit buku khan? Trus untuk bintang tamu, kita bisa undang nasyidnya ustadz dafa khan? Akan lebih terorganisir kalau koordinatornya anti. Kita juga sudah mempertimbangkan ini semua matang-matang. Dan alhamdulillah semuanya setuju. Ukhti sendiri, bersedia atau tidak diberi amanah seperti ini?” Dudi balik bertanya.

Aisyah gelagapan, ia membayangkan tugas berat yang menantinya sebagai seorang coordinator acara,kemudian terlihat tumpukan makalah-makalah yang harus ia selesaikan, ibunya yang menyuruhnya untuk mengurangi aktifitasnya, jadwal kegiatan organisasi diluar sekolah yang semakin padat. Dengan semua aktifitas itu, bagaimana ia bisa menjadi seorang koordinator? Bukan berarti dia tidak ingin cape, tapi ia takut tidak bisa menyelesaikan amanah itu dengan baik. Aisyah merangkai kata-kata yang tepat untuk jawabannya, tapi sebelum otaknya berputar mencari solusinya, mulutnya sudah terlebih dahulu merespon,

“Ba..baiklah, kalau ini sudah menjadi keputusan semuanya. Ana akan melaksanakan amanah ini sebaik-baiknya.”jawab Aisyah terbata-bata.

Aisyah tertegun, ia sendiri terkejut dengan yang dikatakannya. Tapi dia tidak bisa mencabut kembali omongannya. Dan keputusan itu sudah disahkan oleh sang ketua. Ia hanya bisa berdoa. Ya Allah berilah hamba kekuatan dan kemampuan untuk meyelesaikan amanah ini.

“Sekarang saya persilahkan koordinator acara ini untuk duduk di depan bersana saya, da mulai merancang konsep untuk bazaar buku tahun ini.”lanjutnya.

Aisyah hanya mengangguk, pasrah dengan penunjukannya ini. Apalagi setelah melihat senyum kemenangan Kania, ah rasanya makin berat saja langkahnya menuju kursi yang disediakan Akhi Dudi.

Menit-menit pertama Aisyah merasa gelisah duduk disana, ia merasa tak berkompeten untuk menjadi seorang koordinator. Tapi menit-menit berikutnya bicaranya mulai panjang dan berapi-api. Di kursi pojok Kania tersenyum, sahabatnya itu harus dipaksa dulu agar bisa mengeluarkan kemampuannya.

Rapat berjalan cukup alot, terutama tentang tim nasyid mana yang akan menjadi bintang tamu di acara itu. Suara terpecah menjadi dua, ada yang merekomendasikan tim nasyid “Peace voice” yang digawangi oleh akhi Reza, ada juga yang lebih setuju menjadikan tim nasyid “Shoutul Haq” yang digawangi Dafa sebagai bintang tamu. Sebelum polling selesai, adzan asar telah lebih dahulu berkumandang. Sebagai umat yang taat, mereka semua menghentikan aktifitasnya untuk sementara, mendengarkan ajakan beribadah yang diucapkan orang di seberang speaker.

“Teman-teman semua, adzan asar sudah berkumandang. Ada baiknya rapat kita tunda dulu. Kita shalat berjamaah dulu, setelah itu rapat kita lanjutkan terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum.”ujar Akhi Dudi sembari meninggalkan ruangan, tindakannya itu diikuti oleh peserta rapat lainnya.

Para peserta rapat berduyun-duyun menuju mushala. Sedangkan akhwat yang sedang halangan bertugas untuk menjaga barang-barang milik peserta rapa lain yang sedang shalat.

Aisyah merenung sembari memainkan ujung jilbabnya. Setelah penunjukkan drirnya itu, ia harus menunjukkan usaha maksimal yang ia bisa. Dalam benaknya, ia mencoba membayangkan acara bazaar buku itu berlangsung sesuai dengan konsep mereka, mencari setiap kelemahan dan menggantinya dengan ide baru yang akan diajukannya pada rapat selanjutnya.

Lamunannya terhenti saat seseorang menepuk punggungnya,

“Aisyah, kamu ngelamun ya?” Tanya Zahra

“Ya? Ehh.,.apa? ng..nggak kok.Cuma lagi mikirin rapat hari ini.”jawab Aisyah

Zahra menghela nafas, “Hhmm..ternyata benar yang dikatakan ukh Kania, anti akhir-akhir ini banyak ngelamun ya. Klo anti punya masalah, anti bisa cerita pada ana kok.”

Zahra adalah sahabat dekatnya, sahabat seperjuangannya. Mereka berdua telah berbagi tangis dan kegembiraan bersama-sama. Mereka juga saling mengingatkan bila ada salah satu sahabatnya yang berbuat salah.

Aisyah berpikir, andai saja ia bisa menceritakan semuanya pada Zahra. Tapi sayangnya, dirinya terlalu segan untuk menceritakan masalah itu pada Zahra. Ia takut Zahra akan memberikan jawaban yang pahit walaupun itu benar. Ya Rabb..kenapa manusia kadang tidak mau mendengarkan kebenaran yang baik untuknya? Aisyah tidak tahu, ada satu sisi dalam dirinya yang ingin menerima kebenaran itu walaupun pahit, tapi sisi lainnya menolak untuk mendengarkan kebenaran itu.

Aisyah menggenggam tangan Zahra, ditatapnya wajah tirus itu lekat-lekat.

“Nanti kalau aku siap, aku pasti bicara.”ujarnya.

“Oke, aku percaya sama kamu. Tapi masalah itu enggak ngeganggu tugas kamu khan?”Tanya Aisyah.

Aisyah menggelengkan kepalanya. Semoga saja, semoga.ujarnya dalam hati.

Zahra membetulkan kerudungnya, sekali lagi ditatapnya sahabatnya itu,

“Ukh, menurut anti, tim nasyid mana yang cocok buat jadi bintang tamu di acara kita?”Tanyanya

Dahi Aisyah berkerut, tim nasyid untuk bintang tamu? Saking sibuknya membayangkan konsep acara, ia sampai lupa dengan hal itu. Dibanding-bandingkannya kembali dua tim nasyid itu. Ah..tetap saja ia tidak bisa membuat penilaian yang objektif. Ustadz Dafa, ustadz muda itu tergabung dalam shoutul haq, dan itu tentu saja mempengaruhi pemilihannya. Hatinya berontak, mengingat Dafa seperti membawa luka lama yang mengiris-iris hatinya. Setelah kabar mengenai desas-desus perjodohan Dafa didengarnya minggu lalu, ia jadi tidak ingin bertemu muka dengan laki-laki itu. Ia takut ia tidak bisa menahan airmata, apalagi untuk mengontak shoutul haq mereka perlu konfirmasi dengan Dafa. Dan sebagai koordinator tentunya itu sudah merupakan tugas Aisyah. Kalau ia boleh egois, mungkin ia akan merekomendasikan ‘peace voice’, walaupun dalam masalah kualitas ‘shoutul haq’ ada di atasnya. Tapi ini soal keprofesionalan kerja, ia tidak mau hanya karena perasaan bodohnya pada Dafa, acaranya kali ini terhambat. Ia akan membuktikan pada semuanya, bahwa masalah pribadi tidak akan dibawanya dalam lingkaran organisasi.

“yang mana ya? Ehm..gimana nanti aja ya.”goda Aisyah.

“Oke, privasi setiap orang ya hehe… tapi yang objektif ya!”todong Zahra seolah bisa membaca pikiran Aisyah.

Selesai shalat asar rapat dilanjutkan kembali. Pemungutan suara pun dimulai, ketua mulai menghitung jumlah siswa yang mendukung kedua tim. Jumlah peserta rapat tu ada 41 orang, dan setiap tim nasyid sudah mengantongi 20 suara. Hasil polling sangat seimbang, hanya satu orang yang belum memberikan suaranya, Aisyah. Semua mata tertuju padanya, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulutnya. Karena jawabannya adalah penentuan tim nasyid mana yang akan tampil di bazaar nanti. Aisyah bingung, ia harus memihak yang mana. Mungkin setelah semua yang terjadi Dafa akan bersikap biasa-biasa saja, tapi dirinya? Aisyah tahu bahwa hatinya sudah terluka oleh Dafa. Terluka karena terlalu mencintainya.

Aisyah menghela nafas, dengan mantap ia berkata

“Ana kira lebih baik kita mengundang tim nasyid Shoutul Haq, karena kita punya link kesana, dan biasanya mereka selalu bisa menyesuaikan jadwal dengan acara kita.”

Akhirnya sudah diputuskan bahwa Shoutul Haq lah yang akan menjadi bintang tamu di acara bazaar nanti. Dan keputusan itu merupakan keputusan terakhir yang diambil hari itu. Hari sudah sore, sudah banyak peserta rapat yang meminta izin untuk pulang. Karena hanya sebagian panitia yang tersisa, rapat akan dilanjutkan minggu yang akan datang.

Aisyah meraih telpon genggamnya, pukul 04.30. cukup lama juga rapat berjalan, seluruh tulangnya pegal karena terlalu banyak duduk. Ia pun sedikit melakukan peregangan untuk menghilangkan penatnya. Setelah sampai dirumah nanti ia akan langsung mandi dan istirahat. Rasanya hari ini sangat melelahkan untuknya.

Aisyah memandangi rumah bercat biru yang ada di hadapannya. Rasanya dia jadi tenang setiap menginjakkan kakinya ke rumah ini. Ahh..rumah memang tempat yang paling nyaman untuknya. Ada ayahnya yang selalu mengajaknya berdiskusi, ibunya yang selalu membuatkan makanan yang enak untuknya, kakaknya yang selalu menasihatinya, dan adik kecil yang selalu ia jahili. Kalau mengingat semuanya, rasanya semangatnya untuk menatap kehidupan bangkit lagi. Keluarga adalah motivator terbesar untuknya. Dukungan dari mereka adalah hal yang luar biasa indah yang diberikan Allah padanya. Tapi rumah ini sekarang sepi. Kedua orangtuanya sedang dinas ke Semarang, dan tentunya mereka juga mengajak si kecil Kautsar kesana. Sedangkan kakaknya, Arham, 3 bulan yang lalu baru saja menikah. Mungkin sekarang dia sedang merasakan masa-masa indah berumah tangga bersama istrinya. Di rumah itu sekarang hanya ada Mbok Min, pengurus rumah tangga yang membantu menyiapkan segala keperluan Aisyah.

Aisyah mengenakan piyamanya, kesibukannya hari ini menjadi alasan yang lebih dari cukup untuk tidur lebih awal. Kepalanya terasa berat, setelah shalat isya dan meminum sebutir obat pereda sakit kepala, Aisyah merebahkan badannya di tempat tidur. Keadaan itu tidak lantas langsung membuatnya tertidur lelap, ia justru teringat rapat tadi siang. Pikirannya menerawang, teringat olehnya saat sebagian peserta bersorak karena sudah diputuskan bahwa Shoutul Haq yang akan tampil sebagai bintang tamu, kebanyakan adalah peserta akhwat. Tentu saja semuanya merasa gembira. Apalagi disana ada Dafa. Akhwat mana yang tidak kagum pada Dafa. Dia memiliki hampir semua yang diinginkan oleh perempuan. Menjadi ustadz di usia muda,wajah yang diatas standar, ramah, mahasiswa yang mapan, aktivis, ditambah dengan posisinya sebagai vocal di Shoutul Haq. Lengkaplah semua yang diinginkan para akhwat, termasuk Aisyah sendiri. Dan mungkin para akhwat itu akan cemburu pada Aisyah jika mereka tahu kalau 8 bulan yang lalu ustadz muda itu memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya. Ahh..semuanya seperti mimpi. Mimpi yang terus hadir walaupun Aisyah telah membuka kedua matanya. Setelah semua itu, seharusnya tak ada lagi yang harus dikhawatirkan Aisyah. Tapi keadaannya justru sebaliknya, terlalu banyak kekhawatiran yang dirasakannya setelah pengakuan Dafa tempo hari. Sampai saat ini, Dafa tidak pernah menyinggung-nyinggung hal itu lagi. Dia kelihatan acuh dan tidak peduli. Sekali bertemu muka dia pasti sesegera mungkin pergi menjauh. Apa yang salah denganku? Pikir Aisyah. Apa dia merasa telah salah memilih perempuan seperti aku? Perasaan takut dibenci oleh Dafa itu selalu membayangi langkah Aisyah. Dalam kekalutannya Aisyah bahkan pernah berharap kalau saja waktu bisa berputar kembali, dan Dafa tidak pernah mengucapkan pengakuan itu padanya, mungkin dia tidak akan terluka seperti ini. Tapi di sisi lain, ada semburat kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan, setidaknya ia tahu bahwa laki-laki yang dicintainya juga pernah mencintainya.

Sudah 8 bulan, dan selama itu pula Dafa hanya pernah mengirim beberapa pesan singkat. Hanya itulah yang menjadi penghibur hati Aisyah, meskipun pesan-pesan itu hanya seperti pesan biasa yang disampaikan oleh seorang teman. Mungkinkah ketika dia bilang padaku bahwa dia mencintaiku itu hanya menggodaku? Atau mungkin dia sudah menemukan perempuan yang lebih baik dariku? Tanyanya dalam hati.

“Ya Allah..apa rencanamu? Hatiku telah dibawa pergi olehnya?”desah Aisyah. Disekanya airmata yang mulai berjatuhan di pipinya. Airmata ini selalu keluar setiap kali dia mengingat hal ini. Apa cinta begitu menyedihkan sampai harus dibayar dengan airmata?

Yaa..Allah,yaa..Rahman..ya rahiim..telpon genggamnya berbunyi. Setengah terbangun Aisyah mengambilnya dan melihat ada sebuah pesan masuk disana.

Aisyah, Aku sudah menyangka pasti itu jawaban yang akan kamu berikan. Aku sudah mencintai kamu sejak SMP dulu. Setiap kali melihatmu aku selalu ingin mejagamu. Aku berjanji, andai kamu mau menerimaku, aku akan menjagamu sekuat yang kubisa. Tapi sepertinya itu tidak membuatmu tertarik. Aisyah, apalagi yang harus kulakukan? Kalau kamu mau aku menunggumu sampai kau siap, aku pasti akan melakukannya. Kalau aku baru bisa melindungimu dengan menikahimu, maka itu akan kulakukan.

Aisyah menahan nafas, itu sms dari Radith, sebesar apa cinta radith padanya sampai ia masih mencintai Aisyah. Padahal sudah 5 tahun berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Ia jadi ingat dulu waktu masih anak ingusan, mereka pernah berjanji, suatu hari nanti mereka akan menikah. Radith kecil juga berjanji padanya, bahwa ia akan melindungi Aisyah sampai kapan pun. Apa benar sampai sekarang Radith masih tetap ingin menjaga dan melindunginya? Ya Allah..andai Dafa yang mengucapkannya, mungkin Aisyah tidak akan sebingung itu. Aisyah tidak pernah mencintai Radith. Ia hanya menginginkan sifat Radith yang seharusnya ada pada Dafa. Tapi entah kenapa ada yang menyelusup ke dalam hatinya setelah mendengar janji Radith, ada kebahagiaan sekaligus rasa nyeri yang dirasakannya saat Radith bilang bahwa dia akan melindungi Aisyah. Ia jadi teringat Dafa, apa reaksinya kalau tahu hal ini? Mungkinkah ia akan diam atau berusaha memperjuangkan Aisyah? Ahh..rasanya pilihan kedua kedengaran jauh lebih menenangkan.Beberapa menit kemudian Aisyah terlelap, membawa kekalutan yang menyesakkan ke dalam tidurnya.

Malam beranjak menuju pagi, semakin dingin, dan pekat. Membawa ketakutan pada jiwa-jiwa kerdil yang percaya takhayul, dan membawa kegembiraan untuk hamba yang diam-diam menunggu kesempatan untuk bertemu dengan Tuhan mereka. Bermesraan, berdialog panjang dan memanjatkan ampunan dan pujian pada Rabb semesta alam. Aisyah menggeliat di tempat tidurnya, alarmnya menunjukkan pukul 03.00 pagi. Dengan setengah enggan diseretnya kakinya ke kamar mandi, ia membasuh wajahnya. Dan dengan seketika kantuk di wajahnya hilang, yang tinggal hanya keinginan menggebu-gebu untuk bertemu dengan Tuhannya.

Aisyah mengakhiri shalat malamnya dengan tangis, teringat akan eksistensinya sebagai manusia kerdil yang bersimbah dosa. Pengakuan demi pengakuan meluncur dari bibirnya, diiringi tangis yang tak henti mengalir di pipinya. Doa demi doa dipanjatkan untuk dirinya, orang-orang terkasihnya dan semua saudara muslimnya. Ketika sampai pada “Rabbana hablanaa min ajzwaazina”, tangannya bergetar, sekelebat bayangan Dafa muncul di pikirannya. Beberapa kali ia mencoba mengenyahkan bayangan itu, namun tak pernah berhasil.

“Ya Allah, maafkan hamba karena telah mengingat selain-Mu. Maafkan hamba karena telah memunculkan bayangannya di tengah pertemuan denganMu. Ya Rabb Kau Yang Maha Mengetahui segala kegundahan yang tersimpan di hati setiap makhluk, Engkau juga Yang Maha Mengetahui penyelesaian untuk setiap kegundahan itu. Maka berilah hamba petunjuk bagaimana hamba bisa menyelesaikan semua ini. Yaa Rahman, jangan Kau biarkan kecintaan hamba pada makhluk mengalahkan kecintaan hamba padaMu. Jika dia memang jodoh hamba, persatukanlah hati kami dalam naunganMu. Jagalah dia untuk hamba, dan jagalah hamba untuknya. Dan jika dia bukanlah jodoh hamba…” suaranya tertahan, nafasnya sesak untuk melanjutkan kalimat itu.

“Dan jika dia bukanlah jodoh hamba, maka berilah hamba keikhlasan untuk menyerahkannya pada orang lain. Ingatkan hamba bahwa hamba tak pantas lagi mengharapkannya karena dia sudah menjadi milik orang lain”lanjutnya.

Aisyah mengakhiri doanya dengan tangis, meresapi ketidakberdayaannya sebagai makhluk kerdil yang penuh kekurangan. Sajadahnya basah, menjadi bukti airmata-airmata cinta yang dipersembahkan untuk Sang Khalik. Mulutnya tak henti berdzikir mengagungkan Tuhannya. Dalam kelelahannya ia tertidur, ia bermimpi, melihat seorang mujahid berkuda putih. Wajahnya samar, tapi Aisyah yakin, itulah jodohnya. Jodoh yang disiapkan Allah untuknya.

Dua minggu sebelum acara diadakan, kesibukan sudah mulai terlihat. Setiap pulang sekolah anak-anak yang tergabung dalam kepanitiaan berpencar ke segala arah untuk mencari dana dan persiapan lainnya yang berhubungan dengan acara mereka. Tidak terkecuali dengan Aisyah, hari ini dia bermaksud menghubungi Dafa untuk menanyakan kesiapan mereka. Lama Aisyah memandangi ponsel di tangannya, ada sedikit keraguan di hatinya. Dia memejamkan matanya, menghembuskan satu hembusan nafas panjang yang membuatnya cukup merasa tenang, setelah itu dia menekan tombol memanggil. Dan tinggal menunggu waktu sampai orang di ujung telpon menjawab panggilannya. Jantung Aisyah berdetak sangat kencang, pikirannya tak dapat fokus pada apa yang dilakukannya. Dalam kekalutannya itu ia sempat berharap orang yang dituju tidak menjawab panggilannya. Tapi kenyataan berkata lain,

“Assalamu’alaikum”suara seorang laki-laki terdengar di ujung telpon. Menyadarkan Aisyah yang hampir terseret dalam lamunannya. Aisyah kenal betul suara itu.

“Wa..wa’alaikum salam”jawab Aisyah terbata-bata.

“Aisyah ya?”Tanya Dafa

Aisyah setengah terkejut dan bahagia, Dafa masih mengenali suaranya.

“Iya, ana Aisyah. Apa ana mengganggu? Ada yang mau ana bicarakan pada ustadz” Aisyah memberanikan dirinya.

Di ujung telpon Dafa tersenyum “Soal undangan jadi bintang tamu di acara bazaar buku rohis SMA Harapan Bangsa ya?”

Aisyah mengerenyitkan keningnya”Ustadz sudah tahu? Tahu dari siapa?”

“Kebetulan kemarin ana ketemu sama Yudha, dia bilang sekolah kalian rencananya mu ngundang tim nasyid kami untuk jadi bintang tamu disana. Tapi kata Yudha untuk pastinya kamu sendiri yang akan ngontak kita” jelas Dafa.

Tuh khan, sama orang lain juga bisa khan, kenapa mesti ana yang dikasih tugas ini? Protes Aisyah dalam hati.

“Tapi belum terlalu jelas sih. Untuk acaranya sendiri formatnya seperti apa?lanjut Dafa.

Aisyah pun mulai menjelaskan susunan dan konsep acaranya pada Dafa. Acara ini tidak boleh terganggu oleh urusan pribadi mereka berdua. Aisyah memberikan penjelasan yang cukup panjang, Dia melirik jam di tangannya, sudah 4 menit berlalu lebih lama dari waku yang diperkirakannya. Tap ia lega, dia sudah mendapat kepastian dari Dafa bahwa Shoutul haq akan tampil di acara mereka.

“Kalau begitu semuanya sudah selesai. Kita sudah sepakat, dan ana harap Shoutul Haq benar-benar bisa tampil di waktunya nanti” kata Aisyah, bermaksud menghentikan pembicaraan mereka.

Timbul kebisuan sesaat, sampai suara di ujung telpon memecah keheningan.

“Aisyah, kamu sehat? Mas dengar akhir-akhir ini kamu sering sakit-sakitan”tanya Dafa.

Apa ini? kenapa jadi kesana? Aisyah terkejut, kenapa Dafa merubah topik pembicaraan mereka. Dan yang lebih mengejutkannya adalah kenapa Dafa tahu kondisi kesehatannya akhir-akhir ini. Apa diam-diam dia memperhatikannya?

“Al,alhamdulillah ana sehat kok. Cuma sedikit kecapean mungkin, tapi nggak papa kok.”dijawabnya pertanyaan itu dengan setengah terbata-bata.

Dafa menghela nafas lega, “Syukur klo gitu. Badan itu juga amanah Aisyah,,harus dijaga. Jangan mengerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Jadinya kecapean khan.”papar Dafa.

Aisyah tidak dapat berkata-kata, ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Entah kenapa perhatian Dafa sangat menenangkan hatinya, dia merasa perhatian itulah yang selama ini dicarinya, yang selama ini diharapkannya.

“Aisyah, kamu masih di situ?”karena tak ada jawaban, Dafa mengira ada yang terjadi pada Aisyah.

“Oh..ya ustadz. Terima kasih untuk sarannya.”ujar Aisyah

“Jangan panggil ustadz, sekarang urusan kita bukan sebagai partner khan !? panggil Mas aja”pinta Dafa

“Mas…Dafa” Lidah Aisyah kesulitan menyebutnya. Selama ini dia belum pernah memanggil Dafa dengan sebutan “Mas”.

“Nah,,lebih bagus khan.”ujar Dafa.

Aisyah tersenyum, rasanya keakraban nereka saat ini akan memunculkan luka baru di hatinya. Dafa akan melupakannya secepat debu yang ditiup angin, dan Aisyah, dia akan terus mengingat percakapan ini. Dan ingatan itu akan memperbesar harapannya untuk memiliki Dafa, sedangkan setahunya harapan itu sudah lama terbang entah kemana.

“Aisyah, kenapa kamu nggak ngomong apa-apa? Kamu marah?maaf ya klo Mas selama ini jarang menghubungi kamu. Ada urusan yang harus Mas selesaikan.”ujar Dafa.

“Enggak kok, enggak papa”jawab Aisyah

“Aisyah..”Dafa menarik nafas panjang, “Sekali lagi Mas Tanya, apa kamu benar-benar mau menunggu Mas?”

Aisyah terkejut, dia tidak menyangka Dafa akan mengajukan pertanyaan seperti itu. Seharusnya Dafa sudah tahu jawabannya, seharusnya Dafa tahu bahwa sampai sekarang Aisyah masih menunggunya. Masih menaruh harapan padanya.

“Tentu Mas, InsyaAllah.”jawabnya sembari menahan luapan kegembiran yang muncul karena pertanyaan yang diajukan Dafa. Walaupun dia tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan Dafa.

“Kalau gitu Mas lega, Mas tidak akan setengah-setengah lagi memperjuangkan harapan kita. Kamu juga akan berbuat hal yang sama khan?”Dafa bertanya lagi

Aisyah belum sepenuhnya mengerti maksud pernyataan Dafa. Apa maksudnya setengah-setengah? Apa baru sekarang Dafa yakin dengan perasaannya, dan sebelum ini dia ragu pada kesetiaan Aisyah? Harga diri Aisyah tersentuh, dia merasa sedikit tersinggung. Dafa sudah meragukannya, itu kesimpulan yang bisa dibuatnya.

“Jadi selama ini Mas meragukan ana?”Tanya Aisyah

“Bukan begitu Aisyah, Mas cuma butuh penguat. Mas tidak inin memperjuangkan sesuatu yang sia-sia. Kesiapan kamu sangat Mas butuhkan. Itu akan menjadi dorongan untuk Mas, untuk mewujudkan harapan kita.”

“Apa ini ada kaitannya dengan kabar perjodohan itu?”Tanya Aisyah dengan hati was-was.

Dafa menelan ludah, tak menyangka Aisyah sudah tahu tentang hal itu. “Iya..”jawabnya lirih.

“Jadi itu benar ya, harusnya ana tahu. Lalu kenapa Mas baru memberitahu ana sekarang?”Tanya Aisyah terbata-bata, dadanya sesak menahan tangis.

“Mas mesti berpikir Aisyah, Mas tidak ingin menyakiti orangtua mas. Mas juga tidak ingin menyakitimu. Mas ingin mewujudkan harapan kita. Ya..tapi sekarang, setelah Mas memastikan jawaban kamu, Mas jadi tahu apa yang mesti Mas lakukan.”jawab Dafa dengan mantap.

Aisyah merasa kacau, ada rasa haru yang menyusup di kalbunya. Tapi juga ada sedikit penyesalan tentang rintangan dalam mewujudkan harapan mereka, kenapa harus datang dari orangtua Dafa?

“Jadi sekarang apa yang akan Mas lakukan?”tanya Aisyah

“Mas akan memperjuangkan kamu sebisa Mas. Tapi Mas butuh dorongan dari kamu Aisyah. Mas tidak bisa melakukannya sendirian. Kamu mau khan?”tanya Dafa

“InsyaAllah Mas, insyaAllah…”jawab Aisyah di sela-sela tangisnya.

“Alhamdulillah, terima kasih…. Itu yang sekarang Mas butuhkan.”

Aisyah menyeka airmatanya “Terima kasih kembali karena sudah memilih ana”ujarnya bahagia.

Aisyah menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Dengan mantap dan tanpa keraguan diketiknya barisan kata-kata yang akan dikirimkannya pada Radith,

Assalam. Aku sangat menghargai perasaanmu. Tapi, maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu, karena Allah sudah mengirimkan seorang pelindung untukku. Seorang imam yang akan menuntunku menuju-Nya. Percayalah, diluar sana Allah sudah menyiapkan jodoh yang tepat untukmu.

Aisyah menghela nafas panjang. Satu masalah telah selesai. Aisyah menyalahkan dirinya atas kebodohannya itu. Kebodohannya dalam usaha menggantikan Dafa dengan orang lain. Bagaimana orang lain bisa masuk ke dalam hatinya, sedangkan seluruh hatinya sudah menjadi milik Dafa. Sekarang baginya tidak ada tempat untuk laki-laki lain.

Terngiang kembali percakapan mereka di telpon, ahh..baru sekarang Aisyah tahu bagaimana perasaan Dafa yang sebenarnya padanya. Kekhawatirannya tentang Dafa yang mungkin saja mempermainkan perasaannya lenyap. Aisyah merasa malu karena pernah meragukan Dafa, harusnya dia tahu bahwa ikhwan itu bisa memegang janjinya.

Matanya setengah terpejam, ia bergumam “Ya Rabb, maafkan aku karena telah berprasangka buruk padanya. Berilah kami kekuatan untuk menghadapi semua rintangan ini. Lunakkan hati orangtuanya, Ya Allah. agar mereka mau mempertimbangkan kembali perjodohannya. Kau yang paling tahu betapa aku sangat mencintainya. Perpanjanglah jodoh kami Ya Rabb”.

Acara bazaar buku itu berlangsung selama 5 hari. Dan selama itu pula SMA Harapan Bangsa banyak dikunjungi pengunjung dari siswa SMA Harapan Bangsa sendiri dan juga siswa-siswa sekolah lain. Acara itu tergolong sukses. Panitia meraup untung yang cukup banyak, yang nantinya akan mereka sisihkan sebagian untuk panti asuhan. Pengunjung juga kelihatan menikmati semua acara dan fasilitas yang disediakan oleh panitia. Apalagi hiburan dari tim-tim nasyid yang menjadi pengisi acara juga cukup menyihir penonton, terutama penampilan dari Shoutul haq. Semua orang dibuat kagum dengan penampilan mereka, tidak terkecuali dengan Aisyah.

Saat di ruang kelas X-7 semua panitia sedang bergembira karena keberhasilan acara itu, Aisyah mengelilingi sekolah untuk mencari Dafa. Karena kesibukannya membereskan barang-barang bazaar, dia jadi tidak ingat untuk menemui Dafa. Aisyah berpikir Dafa masih ada di sekolah. Tapi meskipun sudah memeriksa setiap sudut SMA Harapan Bangsa, Aisyah masih belum menemukannya. Dengan langkah gontai, dia menyeret kakinya menuju kelas. Di tengah jalan dia melihat Zahra sedang dikelilingi adik-adik senior mereka. Aisyah baru sadar ternyata Zahra sangat manis, selain fisiknya, akhwat itu juga punya kepribadian yang luar biasa menurut Aisyah. Zahra orang yang sabar, selalu menjadi orang yang bisa dimintai tolong, dan juga lemah lembut. Kalau menikah nanti, dia pasti akan menjadi istri yang shalihah. Aisyah jadi penasaran siapa laki-laki yang sangat beruntung itu.

Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan, Zahra menoleh ke arah Aisyah. Dia melambaikan tangannya. Aisyah membalas lambaian tangannya, setelah itu dia cepat-cepat bergegas menuju kelasnya. Kelas itu sepi, orang-orang sudah meninggalkannya sejak tadi. Aisyah mengambil ransel hitamnya, resletingnya sedikit terbuka. Aisyah heran seingatnya waktu dia meletakkannya disana, ransel itu masih tertutup rapat. Pikirannya menerawang, mungkin saja ada orang yang mengambil sesuatu dari tasnya. Dengan tergesa-gesa dia membuka ranselnya, Aisyah terkejut, bukannya berkurang, isi ranselnya malah bertambah. Ada sekuntum bunga mawar dan secarik catatan disana. Pelan-pelan Aisyah mengambil bunga dan catatan itu. Didesak rasa penasaran, dia membaca tulisan yang ada di kertas kecil itu dengan tergesa-gesa.

Bunga adalah anugrah terindah di mata-mata kehidupan. Dengan berseminya bunga, hati jiwa-jiwa mulai tenang. Raga yang lelah seakan hilang dengan senyuman bunga yang menyapamu. Engkau mulai bersemi di kehidupan ini, belajarlah akan kehidupan yang engkau lalui, yang pada akhirnya engkau indah dan cemerlang di jiwa yang memetiknya. Kau harus seperti bunga, yang mampu menunjukkan pada kehidupan akan arti keindahan. Mampu membuktikan arti warna pada mata-mata yang melihatnya

Aisyah……………

Atas namamu, engkau berhak seperti Siti Aisyah…yang selalu dipuja Rasul. Engkau berhak seperti Aisyah, yang mendampingi Rasul ketika susah maupun senang.

Dafa

Dada Aisyah bergetar hebat, luapan kegembiraan dan keharuan memuncak di hatinya. Tangan kanannya gemetar memegang bunga yang diberikan oleh Dafa. Diciumnya bunga itu dengan sepenuh hati, dengan lelehan airmata bahagia yang terus mengalir di pipinya. Kegembiraan itu membuatnya lemas, Aisyah menghempaskan dirinya ke sebuah kursi. Dia terus memandangi bunga itu, mengusapnya, dan menciumnya lagi. Setelah puas memandangi bunga itu, dia membaca catatan itu lagi. Kali ini airmatanya tumpah, Aisyah menangis tersedu-sedu, setiap kata dari tulisan itu mengacaukan hatinya dengan kegembiraan abstrak yang tidak bisa dia terjemahkan. Kegembiraan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.

Beberapa menit berlalu, Aisyah sudah dapat menenangkan hatinya. Dipandanginya bunga itu dengan senyum penuh makna, “Akhi,,,,,,aku benar-benar mencintaimu”ucapnya lirih diantara isak tangis yang masih tersisa.

Aisyah bangkit dari kursi, mengambil ranselnya, dan memasukkan kertas kecil dan bunga itu ke dalam tasnya dengan hati-hati. Hari sudah senja, Mbok Min pasti khawatir kalau dia belum pulang. Diayunkannya langkahnya dengan ringan menyusuri koridor sekolah. Hatinya penuh dengan kebahagiaan yang tidak bisa ia terjemahkan. Semua sudut sekolah terlihat sangat indah dan berwarna-warni. Mungkin benar kata orang, bahwa orang yang sedang jatuh cinta hanya melihat warna pelangi pada dunia, tidak ada warna yang suram, semuanya cerah. Secerah hati Aisyah senja ini. Warna-warni kebahagiaan seakan tak mau pergi dari tiap ayunan langkahnya. Memayunginya dengan sensasi yang dirasakan oleh orang-orang yang sedang jatuh cinta. Rona merah juga tak mau enyah dari pipinya, seperti penanda bagi orang-orang bahwa cinta telah berpihak padanya. Aisyah menengadahkan kepalanya ke langit, entah kenapa awan seperti berbentuk inisial namanya dan Dafa, dia tersenyum sendiri. Apa itu yang akan terlihat di mata orang-orang yang sedang jatuh cinta? Ucapnya dalam hati.

Aisyah membuka pintu pagar rumahnya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman, berharap mobil orangtuanya terparkir disana. Tapi Aisyah harus menelan kekecewaan, halaman itu kososng, dan itu artinya orangtuanya belum pulang dari perjalanan dinas mereka.

Sesudah shalat isya dan membersihkan tubuhnya, Aisyah naik ke tempat tidur. Dia baru akan memejamkan matanya ketika telpon genggamnya berbunyi, dengan sigap diraihnya benda mungil itu. Sekilas terlihat olehnya nama yang tertera di display Hpnya, Zahra.

“Hallo,Assalamu’alaikum”suara di ujung telpon terdengar nyaring.

“Wa’alaikumsalam”jawab Aisyah.

“Ukh, ana ganggu enggak?”tanya Zahra

“InsyaAllah enggak kok”jawab Aisyah

“Ana enggak tau mesti nelpon siapa buat berbagi kegembiraan ini”seru Zahra

Aisyah mencoba membayangkan bagaimana raut muka Zahra sekarang, dari suaranya, Aisyah tahu sahabatnya itu sekarang tengah diliputi kegembiraan, sama sepertinya.

“Emangnya ada apa sih kok kayaknya gembira banget. Eh, tapi hari ini ana juga lagi gembira lho. Tau gak apa yang bikin ana gembira, ana…”

“Eh? Curang ah. Khan ana duluan yang mau cerita. Kok jadi anti duluan sih hehehe….”sambar Zahra

“Oh iya, ana lupa. Klo gitu kamu duluan deh”ujar Aisyah. Dalam percakapan sehari-hari kadang-kadang mereka mencampuradukkan penggunaan bahasa arab dan Indonesia.

“Kabar gembiranya adalah…..”Zahra diam sejenak untuk membuat Aisyah penasaran.

“Aduuh, kabar gembiranya apa sih. Jangan bikin penasaran kayak gini dong.”seru Aisyah tak sabar. Ia bukan hanya tak sabar mendengarkan hal yang menggembirakan sahabatnya Zahra, tapi dia juga ingin cepat-cepat menceritakan perihal hal yang membahagiakan hatinya pada Zahra, hubungannya dengan Dafa.

“Iya..iya sabar dong,Innallaha ma’ashaabiriin lho!”jawab Zahra sembari tersenyum kecil.

“Dalilnya disimpen dulu ya bu ustadzah, trus sekarang kabar baiknya apa?tanya Aisyah.

Zahra menghela nafas,”Ana dijodohkan, katanya setelah lulus nanti ana akan dinikahkan”

Kening Aisyah mengerut,setahunya Zahra tipe gadis yang menentang perjodohan oleh orangtua, tapi sekarang Zahra malah bahagia ketika dia dijodohkan. Secepat itukah pemikiran orang bisa berubah? Tanyanya dalam hati.

“Wah selamat ya, tapi,Lho, katanya kamu kurang setuju kebiasaan masyarakat kita yang suka ngejoo-jodoin anaknya. Kok sekarang kebalik sih?”tanya Aisyah penasaran.

“Aduh jadi malu nih, mungkin ana ngambil keputusan tanpa mikir panjang kali ya, hehe.. setelah ana pikir-pikir, kebiasaan itu gak buruk kok. Bukannya orangtua juga selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita. Yah, mungkin jodoh yang terbaik untuk ana adalah jodoh yang dipilihkan oleh orangtua ana.”jawab Zahra diplomatis.

Aisyah mengangguk-angguk. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Zahra. Tapi kalau saat ini orangtuanya ingin menjodohkan Aisyah dengan seorang laki-laki, Aisyah akan menolak. Dia sudah berjanji untuk menunggu Dafa. Mengingat Dafa walaupun sepintas membuat pipi Aisyah memerah, cepat-cepat diusirnya bayangan itu dari pikirannya.

“Bagus dong, btw udah tau ikhwannya belum? Jangan kayak beli kucing di dalam karung dong. Dia agamanya bagus gak? Akhlaknya bagus nggak? Dan yang gak boleh ketinggalan ehem..ehem..ganteng gak?”tanya Aisyah

Di ujung telpon pipi Zahra bersemu merah, “Subhanallah, kamu nanya borongan ya. Hehe… klo menurut ana sih insyaAllah dia udah masuk kriteria calon suami shalih”

“Wahh..alhamdulillah dong. Ana jadi pengen juga nih hehe…, oh ya ikhwannya siapa? Ana kenal gak?”tanya Aisyah penasaran.

“Anti kenal kok, ikhwan itu adalah…..ustadz Dafa.”jawab Zahra

Aisyah terhenyak, dadanya berguncang hebat. Telpon genggam di tangannya hampir jatuh ke lantai. Dia mencubit tangannya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini semua hanyalah mimpi,mimpi yang ketika ia membuka matanya, maka semua kabar yang menyesakkan itu akan berakhir. Tapi semua itu tak terjadi. Sakit di tangannya terasa nyata, demikian juga dengan berita perjodohan Zahra dan Dafa.

“Kenapa?kenapa harus ustadz Dafa, apa kamu enggak tahu kalau…”Aisyah menghentikan kalimatnya. Dia baru ingat bahwa Zahra tidak tahu tentang hubungannya dan Dafa.

“Tau apa ukh? Kenapa suara anti seperti suara orang yang mau menangis, ada apa?”tanya Zahra cemas.

Aisyah tertegun, dia tak tahu apa yang harus dikatakannya pada Zahra. Dia tak mungkin merusak kegembiraan Zahra hari ini. Aisyah menguatkan dirinya, mencoba menyisipkan kegembiraan yang dibuat-buat diantara kesedihan yang menggelayut di hatinya.

“Anti gak tahu kalau ustadz Dafa itu banyak penggemarnya ya hehe..”Aisyah menyisipkan tawa diantara kalimatnya, mencoba meyakinkan Zahra bahwa tak ada yang perlu dicemaskannya.

“Oh..kirain apa. Kamu bikin ana kaget tau enggak. Ana tau, dengan semua kelebihan yang ada pada ustadz Dafa, pasti banyak akhwat yang ingin jadi pendampingnya. Ana bersyukur Allah memilih ana sebagai calon pendampingnya. Pasti banyak akhwat yang patah hati ya, hehe… becanda kok”tutur Zahra lega

Termasuk aku.ucap batin Aisyah.

Dengan sisa-sisa ketegaran yang dimilikinya Aisyah memberanikan dirinya untuk bertanya. “Ukh, apa anti sudah yakin dengan semua ini?”

“InsyaAllah ana yakin. Orang tua ana pasti memilihkan yang terbaik untuk ana. Disamping itu, ana yakin ustadz Dafa dapat membimbing ana untuk lebih dekat pada Sang Pencipta. Dia bisa menjadi imam yang baik untuk ana”jawab Zahra mantap.

“Lalu ustadz Dafa sendiri, apa dia setuju?”tanya Aisyah. Diam-diam Aisyah mengharapkan jawaban yang akan keluar dari bibir Zahra adalah “tidak”.

Zahra diam sejenak,”Ana belum tahu, tapi kedua orangtua kita bilang,,ustadz Dafa pasti menuruti kemauan orangtuanya. Ana juga sempat deg-degan, yahh..ana sedikit takut ustadz Dafa akan menolak perjodohan ini. Tapi orangtua ustadz Dafa meyakinkan ana bahwa ustadz Dafa juga setuju dengan perjodohan ini”

“tapi..tapi gimana kalau….”Aisyah tak melanjutkan ucapannya, tadinya dia ingin bilang bagaimana kalau Dafa sudah punya akhwat yang dicintainya, tapi Aisyah pikir itu bukan pertanyaan yang bagus, dia takut pertanyaan itu akan mengganggu pikiran Zahra. Tapi sebenarnya alasan utamanya bukan itu, justru dia takut mendengar jawaban yang akan diberikan Zahra, takut dengan keoptimisan Zahra, takut dengan dirinya sendiri yang mungkin belum bisa menerima semua kenyataan ini.

“Ahh..gak jadi, bukan hal yang penting kok”ralat Aisyah.

“eh iya, berita baik dari anti apa?”tanya Zahra.

Aisyah gelagapan, tadinya dia ingin mengatakan tentang hubungannya dengan Dafa. Tapi sekarang dia tak mungkin melakukannya. Itu sama saja dengan menyiram racun pada tunas cinta yang sedang tumbuh di hati Zahra. Dan sebagai sahabat yang baik dia tidak mungkin tega melakukannya.

“Eh, engga kok, cuma berita biasa, ana seneng banget acara hari ini sukses”karang Aisyah.

“Oh iya, ana juga seneeeng banget. Tapi kabar perjodohan ini jauh lebih membuat ana bahagia. Eh ukh, udah dulu ya, ana dipanggil ummi nih. Nanti kita sambung lagi ya”ujar Zahra

“Ya…jika hati ana masih kuat”ujar Aisyah lirih, hampir tak terdengar.

“Eh ukh barusan ngomong apa? Nggak kedengaran.”tanya Zahra

“Semoga kalian bahagia…”Aisyah terpaksa berbohong.

“Oh,,ya Amiin, Anti juga ana doain supaya jodohnya cepet dateng ya. Eh dah dulu ya Assalamu’alaikum”kata Zahra

“Wa’alaikum salam”jawab Aisyah

Percakapan di telepon itu sudah berakhir, tapi badai di hati Aisyah baru saja dimulai. Dalam sehari dia sudah mendengar dua hal yang sangat bertolak belakang, disaat dia sedang bahagia dengan perhatian yang diberikan Dafa, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kabar perjodohan yang dibawa oleh Zahra. Hati Aisyah belum siap menerima semuanya, kebahagiaan besar yang menyelubunginya tadi sore, sekarang dipaksa menguap. Kabar yang membahagiakan bagi Zahra itu adalah pukulan yang sangat menyakitkan bagi Aisyah. Dia tak pernah menyangka kalau perempuan yang akan dijodohkan dengan Dafa itu adalah Zahra. Menara harapan yang dibangunnya hancur sudah, berubah menjadi keping-keping kekecewaan akan ketidakberdayaan dirinya. Aisyah tahu bahwa Dafa tak menginginkan Aisyah untuk menyerah, tapi jika harus menghadapi Zahra, itu masalah lain. Dari nada suara Zahra, Aisyah tahu bahwa gadis itu amat mengharapkan Dafa, mungkin sama besarnya seperti harapan Aisyah, atau bahkan lebih. Zahra adalah gadis yang sempurna, gadis baik yang tak boleh dia sakiti. Zahra terlalu lembut untuk Aisyah khianati. Dia menyayangi Zahra seperti dia menyayangi saudaranya sendiri. Aisyah tak sanggup membayangkan bagaimana reaksi Zahra jika tahu bahwa Aisyah diam-diam mengharapkan Dafa, bahkan lebih dari itu Aisyah tak tahu bagaimana reaksi Zahra jika dia tahu bahwa Aisyah sudah memenangkan hati Dafa. Aisyah tahu Zahra adalah orang yang sabar, mungkin dia bisa memaafkan Aisyah, tapi setelah Aisyah tahu perasaan Zahra pada Dafa, Aisyah tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika perasaan sahabatnya itu terluka karena dirinya. Aisyah tahu bagaimana rasanya terluka karena cinta, dan dia tidak ingin Zahra merasakannya juga. Aisyah tahu kalau Zahra mempunyai hati yang rapuh. Dibalik keanggunan dan ketegarannya dia tetaplah seorang perempuan yang berhati lembut.

Aisyah mengambil bunga yang diberikan oleh Dafa. Bunga itu terlihat samar, genangan airmata telah mengaburkan pandangannya. Dia meremas bunga itu kuat-kuat, seakan melampiaskan semua penyesalannya pada eksistensi lemah yang tak berdosa itu. Untuk sejenak tangisnya terhenti, pikirannya menerawang entah kemana. Seolah tak menyisakan tempat agar akal sehat bisa bekerja. Dalam kekalutan pikirannya Aisyah menyalahkan Dafa, kenapa laki-laki itu memberinya harapan yang terlalu besar, kenapa laki-laki itu tidak menerima saja perjodohannya dengan Zahra tanpa mengingat-ingat Aisyah lagi, mungkin itu tidak akan lebih menyakitkan dari kenyataan yang dia hadapi sekarang. Tapi yang paling membuatnya kecewa adalah Dafa tidak mengatakan bahwa perempuan yang akan dijodohkan dengannya adalah Zahra. Tapi hati kecil Aisyah berontak, jauh di lubuk hatinya, Aisyah menyalahkan dirinya sendiri. Aisyah menyalahkan dirinya sendiri karena menaruh harapan terlalu besar pada Dafa. Aisyah menyalahkan dirinya sendiri yang tidak dewasa dalam menyikapi sebuah persoalan. Aisyah menyalahkan dirinya atas kemunafikannya, bukankah dia yang berkata pada Radith, bahwa urusan jodoh dengan siapa, kapan, dan dimana adalah urusan Allah Swt. Jika Allah sudah memutuskan sesuatu, maka tidak ada orang yang bisa mengubahnya. Dan sudah terang di mata Aisyah bahwa Allah sudah menyiapkan Zahra sebagai jodoh Dafa. Aisyah memeluk guling kesayangannya yang telah basah oleh cucuran airmatanya. Dia merasa sendirian, dia merasa tak punya orang lain untuk berbagi kesedihannya itu. tapi Aisyah lupa, dia masih punya Allah, Zat yang Maha Mendengar segala kegundahan yang terselip di hati setiap makhluk-Nya.

Pukuk 03.00 pagi telpon genggam Aisyah berdering,ada satu pesan singkat yang masuk dari Arham, dengan mata yang masih sembab karena tangis semalam Aisyah membaca kata per kata yang dikirimkan kakaknya :

Mujahidah kakak, ayo cepet bangun…..

Ni udah waktunya shalat tahajud lho.

Ayo cepet ambil wudhu, lalu shalat, trus jangan lupa

berdoa tiap abis shalat y

Dari akhimu yang paling ganteng hehe… ^-^

Aisyah tersenyum kecil, “Mas Arham,,,aku kangen”ucapnya lirih. Semenjak Arham menikah, Aisyah benar-benar merasa kehilangan kakak satu-satunya itu. tidak ada lagi yang mengusap kepalanya setiap dia shalat tahajud. Tidak ada lagi yang menghiburnya jika kedua orangtuanya memarahi Aisyah. Arham adalah sosok kakak terbaik menurut Aisyah, rasanya Aisyah belum siap kehilangan Arham, dia masih ingin bermanja pada kakaknya itu. Dan sekarang disaat pikirannya tengah kalut dengan masalah perjodohan ini, Aisyah ingin Arham ada disampingnya, mendengarkan ceritanya dan menghiburnya. Tiba-tiba Aisyah menepis semua keinginan itu, Aisyah sudah dewasa, dia tahu dia bisa menyelesaikan masalah itu sendirian.

Aisyah menengadahkan tangannya keatas dalam balutan mukena birunya. Untuk kesekian kalinya, pipinya kembali bersimbah airmata.

Aisyah berucap lirih,“Ya Allah…apa yang harus kulakukan? Kau sudah memberikan pilihan yang berat untukku. Aku tahu bahwa Kau tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan hamba-hambaMu, dan aku tahu untuk permasalahan ini pasti ada jalan yang terbaik yang bisa kuambil. Tunjukkanlah aku jalan itu Ya Allah…., jalan yang terbaik bagi kami semua. Bila Zahra memang jodoh yang terbaik untuk Mas Dafa, berilah aku kemampuan untuk mengikhlaskannya. Berilah aku kesabaran untuk melihat Mas Dafa bersanding dengan Zahra. Dan tunjukkanlah jodohku Ya Rabb, agar aku tak mengkhianati Zahra dengan memenuhi pikiranku dengan bayangan Mas Dafa. Yaa Rahmaan wahai Engkau zat Yang Maha Mendengar doa hamba-hambaMu, aku menyerahkan sepenuhnya urusan ini pada-Mu. Kaulah yang tahu apa yang terbaik untukku”.

Aisyah memejamkan matanya, menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Pertemuannya dengan Rabb-nya membuat Aisyah merasa tenang. Dia tahu, Rabb-nya selalu ada di hatinya, sesuatu yang tak akan meninggalkannya meskipun seisi dunia mencemoohnya.

Aisyah mengambil telpon genggamnya, dia mengirim sebuah sms pada Dafa.

Asslmkm. Akhi, hari ini punya waktu?

Ada yang mau ana bicarakan, penting !!

Syukran sebelumnya.

Kafetaria itu masih sepi pengunjung, padahal biasanya di hari minggu seperti ini tempat itu sudah ramai dikunjungi orang. Aisyah melihat arloji di tangannya, jam 09.00 kurang lima belas, dia berharap Dafa akan datang tepat waktu. Mereka berjanji bertemu disana. Lantunan lagu-lagu nasyid menggema di dalam ruangan. Pemilik kafetaria itu adalah Bu Dewi, dia adalah salah satu penggerak pengajian ibu-ibu di daerah Aisyah. Beliau termasuk orang yang sangat taat beribadah, tak heran kalau dia membawa nuansa religi di bisnisnya. Seperti suasana beraroma timur tengah di kafetaria itu. Aisyah mencari tempat duduk di pojok, supaya terhindar dari tatapan orang-orang yang sedang lalu lalang. Sambil menunggu, dia mengeluarkan mushaf kecil yang sengaja dibawanya. Dengan tartil dan penuh penghayatan Aisyah membaca lembaran-lembaran suci itu. Sepuluh menit kemudian Aisyah mulai gelisah, dimasukkannya mushaf itu ke dalam tas kecilnya. Dia mengedarkan pandangannya, berharap menemukan sosok yang sedang dicarinya disana.

Sesosok laki-laki setengah tergesa-gesa berjalan ke arahnya. Pakaiannya rapi, pembawaannya tegap, janggutnya menempel serasi dengan wajah teduhnya yang bersahaja. Senyumnya menambah kesan maskulin yang sudah ada dalam dirinya. Aisyah menundukkan pandangannya, berharap debaran-debaran di dadanya akan berhenti. Laki-laki itu memang sempurna, secara fisik maupun kepribadiannya. Dan Aisyah sadar laki-laki sempurna itu bukanlah untuknya. Dia harus menelan kenyataan pahit itu dengan legowo, mungkin saja Allah sudah menyiapkan laki-laki yang lebih baik untuknya.

“Assalamu’alaikum. Maaf Mas telat, tadi ada sedikit gangguan di jalan. Gak papa khan?”tanya laki-laki itu.

“Wa’alaikum salam. Gak papa kok. Mas datang tepat waktu kok”jawab Aisyah

Aisyah memperhatikan mata laki-laki itu, mata Dafa. Jika sudah saatnya nanti, Aisyah tahu mata itu akan menjadi milik Zahra, senyum itu akan menjadi milik Zahra, dan tentunya cinta Dafa juga akan menjadi milik Zahra, hanya milik Zahra. Tubuh Aisyah bergetar, membayangkan hal itu menyesakkan dadanya. Dengan sisa-sisa ketegaran yang dimilikinya, Aisyah mencoba terlihat tegar di hadapan Dafa.

“Ada apa Aisyah, kenapa kamu keliatan sedih? Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan pada Mas?”tanya Dafa cemas.

“Mas, kenapa Mas tidak memberitahu ana kalau akhwat yang akan dijodohkan dengan Mas adalah Zahra?”tanya Aisyah setengah menahan tangis.

“Mas kira kamu sudah tahu, Mas kira kamu tahu dengan siapa Mas dijodohkan. Lagipula apa bedanya Aisyah, siapapun akhwatnya, Mas sudah berjanji kalau Mas akan menikahi kamu. Allah tahu betapa besar keinginan Mas untuk mewujudkan harapan itu.”jawab Dafa sungguh-sungguh.

Lidah Aisyah kelu, kata-kata perpisahan yang sudah disiapkannya menguap entah kemana. Kesungguhan Dafa menggoyahkan pendirian Aisyah. Dia kembali terombang-ambing dalam kekalutannya. Tekadnya yang bulat untuk mengucapkan salam perpisahan pada Dafa terusik, ingin rasanya dia bergembira dengan kesungguhan Dafa. Tapi itu tidak boleh dilakukannya, Aisyah tahu apa yang harus dilakukannya, dia harus mengakhiri semuanya.

“Mas, ana mohon..jangan egois. Ana tahu seberapa besar kesungguhan Mas, tapi Mas juga perlu tahu, Zahra adalah sahabat ana. Ana tidak mungkin menyakitinya, disamping itu…disamping itu, dia juga menaruh harapan yang besar pada Mas. Ana tidak mau merusaknya Mas, ana tidak mau mengorbankan kebahagiaan orangtua Mas dan Zahra demi keegoisan kita”papar Aisyah sembari menegarkan dirinya, agar Dafa tak melihat airmata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Aisyah, apa maksud kamu? Mas sudah berjuang sejauh ini. Dan kamu mau Mas menyerah?”tanya Dafa, nada suaranya mulai berubah.

“Tolong Aisyah,,Mas butuh dorongan dari kamu. Mas yakin seiring dengan berjalannya waktu, hati orangtua Mas akan luluh. Mereka tidak akan lagi memaksakan perjodohan ini pada Mas. Mas hanya ingin kamu bersabar. Dan soal Zahra, Mas tahu dia akan bisa menerima semuanya”lanjut Dafa.

Aisyah menggelengkan kepalanya, “Bukan hanya itu masalahnya Mas, setiap laki-laki pasti menginginkan wanita yang shalihah untuk menjadi pendamping hidupnya, dan ana yakin kriteria wanita shalihah itu ada pada diri Zahra. Mas, ana hanya menginginkan kebahagiaan untuk semuanya, kebahagiaan untuk Zahra, dan kebahagiaan untuk Mas. Zahra adalah calon istri yang shalihah,dia akan menjadi istri yang baik untuk Mas, dan akan menjadi ibu yang luar biasa untuk anak-anak Mas. Ana tidak mau egois mas, Zahra lebih baik dari ana. Dia mampu membahagiakan Mas, lebih dari yang ana bisa”ungkap Aisyah pahit.

“Jadi kamu pikir kalau Mas menikah dengan Zahra Mas akan bahagia? Mas hanya ingin menikah sama kamu Aisyah, Mas ingin kamu yang menjadi ibu untuk anak-anak Mas kelak. Mas tahu ini berat buat kamu, Zahra adalah sahabat kamu. Tapi itu adalah sebuah resiko, dalam hal ini pasti ada satu pihak yang akan terluka”bujuk Dafa.

“Ana tahu Mas, pasti ada yang terluka. Dan ana sudah memutuskan biar saja ana yang terluka. Ana ikhlas kalau Mas menikah dengan Zahra. Ana ikhlas, karena ana yakin Zahra mampu membahagiakan Mas, sesuatu yang mungkin tidak bisa ana lakukan. Jangan khawatir Ma, seiring dengan berjalannya waktu luka itu pasti akan sembuh”jawab Aisyah.

Dafa terdiam, dimainkannya ujung cangkir yang ada di hadapannya. Suara Dafa memecah keheningan, “kalau kamu mengambil pilihan seperti itu, yang terluka bukan cuma kamu Aisyah, tapi juga Mas. Kamu tega melihat Mas terluka?”

Sekarang Aisyah yang terdiam, pertanyaan Dafa semakin menambah lebar luka yang ada di hatinya.

“Ana tidak mau Mas terluka, tapi inilah jalan yang terbaik untuk kita. Ana harap Mas maklum. Rasa sakit itu hanya akan bertahan sebentar, ana yakin kebaikan Zahra akan mengobati semuanya.”tutur Aisyah.

Untuk terakhir kalinya dipandangnya mata teduh Dafa, Dafa membalas pandangannya. Sekarang mereka saling menatap, melalui mata ada banyak rahasia yang tersibak, yang tak bisa mereka ungkapkan dengan kata-kata. Ada keharuan yang sangat besar, rasa haru karena belum siap merasakan sakitnya kehilangan. Mata mereka saling berbicara, mempertanyakan cinta yang telah mempermainkan mereka, menyalahkan keadaan yang membuat mereka harus membuang tunas-tunas cinta yang bersemi di hati mereka. Aisyah mengalihkan pandangannya, menatap mata itu semakin menambah perasaan enggan untuk merelakan Dafa ke tangan orang lain, dia beristighfar. Aisyah memutuskan untuk segera pergi, berlama-lama di tempat itu akan menambah luka di hatinya.

“Maaf Mas, ana harus pergi, ana ada janji lain, Assalamu’alaikum”ujar Aisyah sembari beranjak dari tempat duduknya.

Dafa bangkit dan memegang sandaran kursi Aisyah, “Aisyah, apa kamu tidak bisa mengubah keputusan itu? coba pertimbangkan lagi, Mas tahu kita bisa melewati semuanya.”bujuk Dafa lagi.

Aisyah tersenyum,”InsyaAllah Mas, keputusan ana sudah bulat. Mungkin kita memang tidak berjodoh. Ana harus menerima semuanya. Oia tolong jangan beritahu Zahra, biarkan dia tidak tahu tentang semua ini. Selamat tinggal, semoga kalian bahagia…”ucapnya getir.

Setengah berlari Aisyah meninggalkan tempat duduk mereka. Airmata yang sedari tadi ditahannya kini berhamburan keluar membasahi jilbab birunya. Ada kelegaan yang terpancar di wajahnya, kelegaan yang tertutup oleh kekalutan yang mendalam. “Yaa..Rabb..mungkin inilah yang terbaik”ucapnya lirih. Sayup-sayup dari jauh didengarnya alunan nasyid dari Brother;

Mengapa kita ditemukan dan akhirnya kita dipisahkan

Mungkinkah menguji kesetiaan, kejujuran, dan kemanisan iman

Tuhan berikan aku kekuatan….

“Bandung !?!?”Zahra ternganga, “Kenapa tiba-tiba kamu mutusin kuliah disana? Khan janjinya mu kuliah disini, di Surabaya”lanjutnya.

Aisyah tersenyum, reaksi Zahra sama seperti reaksi kedua orangtuanya ketika mereka tahu Aisyah ingin melanjutkan sekolahnya di Bandung.

“Ana pengen nyari suasana baru ukh, kayaknya di Bandung boleh juga”jawab Aisyah.

“Tapi kenapa mesti Bandung? Bandung khan jauh dari Surabaya, kenapa engga kuliah di tempat yang deket sih. Khan masih banyak PTN yang bagus disini” Zahra merajuk.

Aisyah tetap kukuh pada pendiriannya, “Denger ya Ummi, Bandung tu masih di wilayah Indonesia. Lagian klo kangen khan ada email, nelpon juga bisa khan!?”ujar Aisyah. Sebenarnya Aisyah mendadak membuat keputusan itu. dia memang ingin mencari suasana baru, tapi alasan sebenarnya adalah dia ingin menyembuhkan hatinya. Dengan berada jauh dari Zahra dan Dafa, dia berharap luka di hatinya akan segera sembuh.

“Ya..semua keputusan kembali ke ukhti. Ana nyerah deh. Ngomong-ngomong kapan berangkat?”tanya Zahra

“ehm..klo gak da halangan sih mungkin 1 bulan lagi”jawab Aisyah.

“1 bulan lagi!? Berarti pas ana dikhitbah sama ustadz Dafa, anti udah di Bandung dong. Berarti anti gak nemenin ana dong, padahal ana harap di hari bahagia ana itu anti ada disamping ana. Tapi mau gimana lagi, emang jadwalnya gak bisa mundur ya?”tanya Zahra

Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum. Melihat kebahagiaan sahabatnya itu Aisyah jadi malu, di hatinya sempat berkelebat bayangan Dafa mengkhitbah dirinya. Diusirnya bayangan itu cepat-cepat, keputusan itu dia yang ambil. Dan sekarang dia tidak boleh menyesalinya. Senyum di wajah Zahra, membuatnya sedikit lega. Setidaknya pengorbanannya itu sudah menahan senyum seseorang di tempatnya.

Waktu sebulan itu cepat berlalu,

“Kamu yakin, kamu mau kuliah di Bandung?”tanya Bu Anita, Ibu Aisyah sewaktu melepas kepergian anaknya.

Aisyah menganggukkan kepalanya,”InsyaAllah Bu, Aisyah yakin. Aisyah harap disana Aisyah akan mendapat pengalaman baru yang tidak bisa Aisyah dapatkan disini”jawab Aisyah.

“Hati-hati ya Nduk. Jaga kesehatan disana. Jangan lupa kabari ibu sesering mungkin. Jangan telat makan, ntar kamu sakit. Ahh..rasanya ibu belum siap ditinggalin sama kamu, rumah pasti jadi sepi…”ujar ibunya sembari membelai kepala anak tersayangnya.

Aisyah tersenyum,”Pasti bu…”

Sekarang giliran Pak Rahman yang memberikan wejangan. Dia memeluk anak gadis kesayangannya itu, pelukan sayang seorang ayah yang belum siap melepas kepergian anak gadisnya ke tempat yang jauh. Kautsar menarik-narik jilbab Aisyah, meminta Aisyah untuk menggendongnya. Aisyah menggendong adik kecilnya itu, dengan gemas diciumnya pipi si kecil, dan dengan segenap kasih sayang yang dimilikinya, dibelainya rambut si kecil itu.

“Mbak..klo mbak pulang nanti, Utsar minta oleh-oleh yang buaaaaaanyak Ya?”seru si kecil. Dia merentangkan tangannya, mengisyaratkan jumlah banyak yang dimaksudnya. Aisyah menganggukkan kepalanya, rasanya dia tak bisa lagi menahan airmatanya. Dengan hati-hati diturunkannya si kecil dari gendongannya.

“Pasti sayang, klo mbak pulang nanti, mbak akan beli hadiah yang baaaaanyak banget buat Kautsar. Tapi kamu jangan nakal ya, jaga ibu dan bapa selama mbak gak ada”jawab Aisyah

Si kecil tersenyum dan menganggukkan kepalanya

Dan terakhir, giliran Arham yang memberikan nasihat pada adik perempuan kesayangannya. “Aisyah, ati-ati disana jaga shalat yang lima waktu. Trus jangan sampe karena kesibukan, kamu jadi lupa sama kebiasaan shalat tahajud. Mas yakin kamu bisa jaga diri disana. Ati-ati di jalan ya, kabari mas klo kamu dah nyampe disana”

“Eh..satu lagi. Klo kamu dapet jodo disana, Mas harus jadi panitia penyeleksinya ya. Mas gak mau, adik mas ini jatuh ke tangan orang yang salah.”lanjut Arham sembari menjawil hidung Aisyah.

Aisyah tertawa, dicubitnya tangan Kakak tersayangnya itu.

Fitri, istri Arham ikut menimpali “Mas mu ni khawatir sama kamu lho Aisyah. Klo menyangkut urusan jodoh kamu, dia ketat banget lho”

“hehe… tapi jangan terlalu ketat dong. Ntar laki-laki yang deket sama Aisyah pada kabur semua dong”canda Aisyah. Dia memeluk tubuh kakak iparnya itu sembari berbisik,”Mbak, kapan mu bikin jundi kecil? Ana dah gak sabar pengen jadi tante nih”

Muka Fitri memerah,”Ah..kamu ini, mbak khan baru nikah”

“Hayoo..ngomongin apa nih, maen bisik-bisikkan segala”seru Arham.

“Wee..ni khan rahasia perempuan, laki-laki gak boleh tau”ujar Aisyah

“Eh..bandel ya, sini kamu biar mas jitak”seru Arham sembari mengejar adiknya, bermaksud melayangkan jitakan sayang pada adiknya itu.

Bu Anita menggeleng-gelengkan kepalanya,”sudah..sudah, kalian ini klo sudah seperti ini kayak anak kecil. Sudah Nduk ayo berangkat, pesawatnya sudah mu berangkat.”

Aisyah mencium tangan kedua orangtuanya, setelah itu dia mendapatkan pelukan hangat dari Arham. Dengan langkah yang terasa agak berat, Aisyah melangkahkan kakinya ke gerbang keberangkatan pesawat, diiringi dengan tatap haru keluarganya.

Aisyah melambaikan tangannya,”Selamat tinggal Surabaya….selamat tinggal Mas Dafa”ucapnya lirih. Aisyah menaiki pesawat yang akan membawanya ke Paris van Java, membawa sekeping hati yang terluka ke kota kembang itu.

Setahun sudah berlalu, kota Bandung membawa warna tersendiri dalam hidup Aisyah. Semuanya terasa lebih dinamis, semangatnya, kehidupannya dan hatinya. Luka yang dibawanya dari Surabaya mulai sembuh seiring dengan berjalannya waktu. Bandung telah menyeretnya dalam kedamaian magis, ketenangan yang tak didapatnya di tempat asalnya.

Semenjak pindah ke Bandung Aisyah sudah mengganti nomor ponselnya, dan hanya keluarganya yang tahu. Hal itu dia lakukan sebagai salah satu langkah untuk mengubur masa lalunya. Dia ingin membuka lembaran baru di kota kembang ini. Lembaran yang tidak terwarnai oleh warna-warna kelabu yang didapatnya di masa lalu. Satu-satunya sarana yang menghubungkan Aisyah dengan kenalan-kenalannya di Surabaya hanya email, itu pun jarang dibukanya.

Kabar terakhir yang diterimanya, Zahra telah bertunangan Dafa. Tinggal menunggu waktu sampai mereka meresmikan hubungannya dalam ikatan pernikahan. Sebagai seorang teman rasanya tak etis kalau Aisyah tak memberikan apa-apa di hari bahagia sahabatnya itu. oleh karena itu dia berencana membeli satu set hadiah pernikahan dan mengirimkannya pada mereka. Atau mungkin kalau lukanya sudah cukup sembuh, Aisyah akan datang sendiri kesana menyerahkan hadiah itu.

Hari ini Aisyah bermaksud mencari bahan untuk tugas-tugasnya, menjadi mahasiswa tak seperti bayangannya. Dulu dia mengira menjadi mahasiswa memungkinkannya untuk meluangkan banyak waktu untuk dirinya sendiri. Ternyata pada kenyataannya, kehidupan harian seorang mahasiswa dipenuhi tugas-tugas membingungkan yang diberikan oleh dosen. Apalagi diantara dosen-dosen itu, ada saja yang tidak bisa mentolerir kesalahan sekecil apapun.

Aisyah memilih room yang ada di pojok, sambil menunggu bahan-bahan yang dicarinya, Aisyah membuka email-email yang sudah masuk. Dia sempat kaget, setelah 3 bulan tidak melihat-lihat emailnya, ada begitu banyak pesan yang masuk kesana. mata Aisyah menelusuri nama-nama yang tertera di layar computer, Aisyah kaget melihat nama yang tertera di baris kedua dari bawah. Dengan terburu-buru dibukanya pesan yang dikirimkan 2 bulan yang lalu itu, sebuah pesan dari Zahra!

Assalamu’alaikum.

Ukh, anti kemana saja? Kenapa nomor ponsel anti berubah? Untung ana tahu kalau alamat email anti masih tetep yang dulu. Maaf ana baru menghubungi anti, ana baru tahu kalau alamat email ini masih dipakai. Ukh, sekarang ana tahu apa alasan anti kuliah di Bandung. Anti ingin menghindar dari ana dan ustadz Dafa khan? Jangan khawatir, ana sudah tahu semuanya. Bukan ustadz Dafa yang menceritakannya, ana tahu dari buku harian ukhti. Maaf, mungkin itu gak sopan. Tapi 5 bulan yang lalu ketika ana berkunjung ke rumah ukhti, tanpa sengaja ana melihat buku diary itu terbuka. Dan setelah membacanya, ana jadi tahu apa yang ukhti sembunyikan selama ini. Kenapa ukhti harus berbohong? Bukankah kita sahabat? Ana yakin, cinta ukhti pada ustadz Dafa jauh lebih besar dari cinta ana. Ana sangat menghargai pengorbanan ukhti, tapi ana juga tidak mau berbahagia diatas penderitaan ukhti. Ukhti tahu? Ana tidak jadi menikah dengan ustadz Dafa. Ini semua bukan karena ukhti. Inilah jalan yang sudah ditetapkan Allah untuk ana. Ana dapat beasiswa kuliah ke Malaysia seperti keinginan ana. Ana tidak mungkin menikah dan meninggalkan suami ana disini, ana sempat bingung harus berbuat apa. Untuk menolak beasiswa itu rasanya sayang. Tapi setelah ana tahu yang sebenarnya, ana jadi mantap dengan langkah yang ana ambil. Ana berpikir mungkin inilah jalan yang disiapkan Allah untuk ana. Beasiswa ini adalah pertanda dari Allah bahwa ustadz Dafa memang bukan jodoh ana. Dan alasan lain adalah, karena sampai sekarang, ustadz Dafa masih mengharapkan ukhti. Ukhtiku yang shalihah, terima kasih karena sudah menjaga perasaan ana. Tapi anti perlu tahu, kebahagiaan ustadz Dafa ada pada ukhti, ana tidak bisa memaksanya. Lagipula, apa yang ana rasakan pada ustadz Dafa mungkin hanya sebuah kekaguman. Sedangkan apa yang anti rasakan pada ustadz Dafa jauh lebih dalam dari itu.oh ya, empat bulan lagi ana akan menikah dengan seorang ikhwan yang berasal dari Malaysia. insyaAllah agamanya baik, dan alhamdulillah dia bersedia untuk berdakwah bersama ana di Indonesia. Dia ikhwan yang baik ukh, dia memahami segala kekurangan yang ada di diri ana. Mungkin inilah jodoh yang tepat bagi ana yang sudah disiapkan oleh Allah. Maafkan ana yang sudah menyakiti hati anti. Ana yakin, Allah menyiapkan hikmah dibalik peristiwa ini. Ukhuwah kita harus tetap terjaga walaupun cobaan sebesar apapun menghadang. Ana yakin ukhti adalah seorang akhwat yang bijak.

Salam sayang

Ukhtimu,

Zahra

Aisyah menitikkan airmatanya, dia tidak menyangka skenario Allah akan berjalan seperti ini. Mungkin Dafa memang bukan jodoh mereka berdua, mungkin dia hanya manusia yang dikirim Allah untuk menguji ukhuwah persahabatan mereka berdua. Aisyah menekan tuts keyboardnya, bermaksud membalas pesan yang dikirim oleh Zahra. Disana dia menuliskan kerinduannya akan kebersamaan mereka, menuliskan betapa inginnya dia terbang ke Malaysia sekarang juga untuk memeluk tubuh sahabatnya, dan mengatakan padanya bahwa dia masih menjadi sahabat terbaik yang pernah Aisyah miliki.

“Ya Allah, terima kasih karena Kau sudah mengembalikan sahabat terbaikku…”ucapnya lirih

Sore ini, seminggu setelah Aisyah membaca email Zahra, Aisyah berdiri mematung di halaman Masjid Raya Bandung, mengamati anak-anak kecil yang berlarian menangkap gelembung sabun yang ditiup abang penjualnya. Sekali waktu seseorang diantaranya terjatuh, kotor, namun tak menangis, malah kembali tertawa riang dan bergabung dengan teman-temannya. Aisyah menatap bangunan masjid yang ada di hadapannya, melihat rumah Allah membuatnya sejenak melupakan semua penatnya hari ini, semua kekesalan, dan kekecewaan yang ditimbulkan dunia padanya. Ya.. Allah…aku rindu padaMu.ucap Aisyah lirih.

“Teh..teh, ieu aya nu masihan kembang”suara seorang bocah mungil membuat Aisyah menoleh. Setahun sudah cukup untuknya mengenal bahasa daerah Jawa barat, bahasa sunda.

Aisyah tersenyum pada bocah itu, bergantian ditatapnya bocah kecil dan bunga yang dibawanya itu.

“Kanggo saha kembang teh?”tanya Aisyah lembut

“Kanggo teteh cenah”jawab bocah itu dengan aksen sunda yang kental.

Aisyah mengerenyitkan keningnya,”teu lepat? kembang ti saha bageur ?”tanya Aisyah.

Tangan mungil bocah itu menunjuk ke satu arah, Aisyah mengarahkan pandangannya pada arah yang ditunjuk bocah itu.

‘Tuh, ti si aa itu”ujar bocah itu lantang.

Dada Aisyah berdegup kencang. Seakan tidak percaya dengan penglihatannya, dia menggosok-gosok matanya. Tapi sosok itu terlihat semakin nyata dan semakin mendekat.

“teh, tos nya abina bade ameng deui”suara bocah itu memecah kekalutan Aisyah.

Aisyah mengeluarkan selembar uang lima ribuan dari tasnya, “Kanggo jajan.”kata Aisyah.

Bocah itu berjingkrak-jingkrak kegirangan. Diacungkannya uang lima ribuan itu ke langit dengan senyum kemenangan, seperti panglima yang baru saja menang berperang. Aisyah tersenyum melihatnya.

“Nuhun nya teh..”teriak bocah kecil itu kegirangan.

Aisyah hanya menganggukkan kepalanya, matanya kembali fokus pada sosok yang sekarang ada di hadapannya.

“Apa kabar Aisyah?”sosok laki-laki di hadapannya mencoba membuka percakapan diantara mereka.

“Ba..baik, alhamdulillah baik. Mas sendiri gimana? Sedang apa di Bandung?”sahut Aisyah gelagapan, dia belum sepenuhnya mampu menguasai dirinya. Sosok laki-laki yang ada di hadapannya membawa ingatan masa lalu yang samar ke masa sekarang.

“Mas sengaja datang ke Bandung, mencari belahan jiwa Mas yang lari kesini”jawab Dafa, laki-laki yang ada di hadapannya.

Dahi Aisyah mengerut, dia belum mengerti maksud perkataan Dafa.

“Maksudnya apa Mas?”tanya Aisyah penasaran

Dafa menghela nafas, ditatapnya mata Aisyah lekat-lekat seolah mencari titk dimana dia yakin bahwa kata-kata yang akan diucapkannya nanti akan dipercaya ole Aisyah.

“Mas mencari kamu Aisyah”jawabnya lembut.

Tubuh Aisyah bergetar, mungkin karena kata-kata Dafa itu belum siap didengarnya, atau mungkin juga karena tatapan Dafa telah membawa sesuatu dari masa lalu yang kembali hadir diantara mereka berdua.

“Untuk apalagi Mas? Bukankah semuanya sudah selesai?”tanya Aisyah, nada suaranya meninggi.

“Aisyah, Zahra sudah memberitahukan semuanya khan? Zahra tahu tentang hubungan kita, mas tidak pernah memberitahunya. Mas juga tidak tahu, entah darimana Zahra tahu tentang itu semua. Satu hal yang Mas tahu, seiring dengan berjalannya waktu, perasaan Mas padamu malah bertambah kuat. Enam bulan yang lalu Zahra mendapat beasiswa ke Malaysia, dan terpaksa orangtua kami membatalkan perjodohan ini. sebelum pergi Zahra meminta Mas untuk menyusulmu, Zahra bilang mas harus mengejar kamu, karena kamu adalah satu-satunya perempuan yang bisa membahagiakan Mas”ungkap Dafa

Aisyah menelan ludah, “Kalau itu terjadi 6 bulan yang lalu, kenapa Mas baru datang sekarang?”tanya Aisyah.

“Waktu itu juga Mas ingin segera menyusulmu, tapi Mas perlu waktu yang cukup lama untuk meyakinkan Mas Arham bahwa Mas tidak akan menyakiti adik kesayangannya ini”jawab Dafa.

Pipi Aisyah bersemu merah. Dia tahu, kakaknya itu pasti sangat mengkhawatirkannya,sampai-sampai Dafa memerlukan waktu 6 bulan untuk meyakinkannya.

“Ana bisa membayangkannya.. Mas Arham melakukan itu karena ingin menjaga ana, dia tidak ingin melihat ana bersedih”tutur Aisyah.

“Itu sebuah kewajaran. Mengingat adiknya adalah mutiara indah yang tak bisa dimiliki oleh sembarangan orang”ujar Dafa.

Untuk kesekian kalinya pipi Aisyah merona.

“Darimana Mas tahu ana ada disini?”tanya Aisyah

“Feeling, itu yang membawa Mas kemari. Mas merasa di rumah Allah inilah mas akan menemukan sepenggal hati Mas yang hilang”jawab Dafa mantap.

Aisyah memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tak mau Dafa melihat rona merah di pipinya.

“Ukhtiku, tolong tatap mata ana..”entah kenapa tiba-tiba Dafa berubah menjadi sangat serius, “Untuk kedua kalinya ana bertanya, maukah ukhti menjadi calon pendamping hidup ana?”tanya Dafa sungguh-sungguh.

Tubuh Aisyah bergetar, bunga yang ada di tangannya jatuh ke tanah. Dengan sisa-sisa tenaganya, Aisyah memungut bunga itu dan membersihkan debu yang menempel diantara kelopaknya. Tiba-tiba tubuhnya lemas, Aisyah jatuh terduduk. Dia masih belum percaya yang baru saja didengarnya itu adalah kenyataan.

“Aisyah..kamu gak papa?”tanya Dafa panik.

Aisyah menggelengkan kepalanya, tangannya berusaha menggapai ujung kursi taman. Setelah ada dalam posisi duduk, Aisyah mengisyaratkan Dafa untuk duduk di sampingnya.

“Mas kaget, kamu benar-benar gak papa Aisyah?”tanya Dafa lagi. Ekspresi wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa.

Aisyah hanya tersenyum, sedikit udara segar sudah membuat pikirannya tenang kembali.

“Ana tidak apa-apa, hanya saja pertanyaan itu cukup mengagetkan ana”jawab Aisyah.

“Maaf..Mas tidak bermaksud seperti itu.”Dafa tertunduk, meyesali ketergesa-gesaannya.

“”Enggak kok, Mas gak salah. Ana cuma sedikit kaget. Ana gak nyangka omongan-omongan orang yang biasanya kita pake buat ngehibur orang ternyata sekarang ana alami sendiri”jawab Aisyah. Senyum kecil terukir di wajahnya.

“Perkataan yang mana?”tanya Dafa penasaran.

“Ya..omongan orang tentang biarkan jodoh itu bermuara pada orang yang tepat, di waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Mungkin itu yang ana alami sekarang, Allah sudah menyiapkan orang yang tepat untuk ana, yaitu Mas. Di tempat yang tepat, di kota Bandung yang romantis, terlebih di hadapan rumah Allah, dan diwaktu yang tepat, di hari ulang tahun ana. Mungkin dulu bukannya kita tidak berjodoh, tapi kita belum sampai pada waktu dan tempat yang tepat. Bukan begitu?”papar Aisyah. Airmata bahagia berlinangan di pipinya yang kemerahan. Satu tahun lalu dia mengalirkan airmata yang sama untuk Dafa, tapi kali ini airmata yang keluar bukanlah airmata kesedihan, namun airmata kebahagiaan.

Air muka Dafa berubah, seketika seulas senyuman terukir di wajahnya,”Jadi kamu mau?”tanya Dafa berusaha meyakinkan lagi apa yang sudah didengarnya dari mulut Aisyah.

Aisyah mengangguk,”Iya…ana bersedia”

“Allahu Akbar,,,,,,, Alhamdulillah”teriak Dafa, diacungkannya tinjunya ke langit. Sesudah itu dia bersujud, bersyukur atas kebahagiaan yang diberikan Allah hari ini.

“Oke, kalau begitu Mas telpon Mas Arham dulu ya”ujar Dafa seraya mengeluarkan telpon genggam dari saku celananya.

“Mau apa?”tanya Aisyah penasaran.

Dafa tersenyum ke arahnya, “Mas tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Mas tidak akan membiarkan kesempatan itu pergi lagi”

“”Maksudnya apa?”Aisyah dibuat bingung dengan tingkah lakunya.

Dafa mengangkat bahunya, sembari mengisyaratkan Aisyah untuk melihat saja apa yang akan dilakukannya.

“Assalamu’alaikum mas Arham, ini Dafa.”ujar Dafa.

“Wa’alaikassalam, ada apa Fa, udah nemu Aisyahnya?”tanya suara di ujung telpon.

“Alhamdulillah udah mas, sekarang Aisyah ada disini bersama ana”jawab Dafa.

“Bagus kalau gitu, kalian sudah ngobrol? Apa kata Aisyah?”tanya Arham kembali.

“Aisyah bersedia Mas, oh ya Mas tentang rencana ana mengkhitbah Aisyah 3 bulan lagi itu, ana batalkan”jawab Dafa mantap.

Aisyah, dan juga Arham yang ada di ujung telpon terkejut. Aisyah belum tahu rencana Dafa untuk mengkhitbahnya, apalagi sekarang Dafa bermaksud membatalkannya. Ada banyak hal yang dia tidak tahu, yang hanya diketahui Dafa dan Arham kakaknya.

“Kenapa?”tanya Arham. Nada suaranya penuh dengan keterkejutan.

“Jangan marah dulu Mas, ana akan memajukannya. Ana akan mengkhitbah Aisyah,…dua minggu dari sekarang”jawab Dafa tanpa keraguan

“Oh..kamu bikin Mas jantungan saja, ya..itu terserah kamu. Hanya yang mas minta, kamu mau menggantikan mas untuk menjaga Aisyah. Wahh..Fa udah dulu ya, ada tamu nih. Nanti kita sambung lain kali, salam untuk Aisyah. Assalamu’alaikum”ujar Arham mengakhiri percakapan nereka.

“Wa’alaikumsalam”jawab Dafa.

Aisyah memandang Dafa tak berkedip. Terlalu banyak kejutan yang disiapkan oleh Allah untuknya hari ini. Aisyah menepuk-nepuk pipinya, mungkin percakapan dua laki-laki itu hanya sepenggal episode yang terbawa dari impiannya. Dafa tertawa kecil, gemas melihat kelakuan Aisyah yang belum mengerti dengan apa yang terjadi.

“Mas sudah bilang khan, mas tidak akan melepas kesempatan itu untuk kedua kalinya. Sebelum ada penghalang lagi, mas akan segera mengikatmu”kata Dafa.

Ditatapnya mata teduh Dafa, “Terima kasih…..Mas, ana sekarang yakin, Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk setiap orang. Hanya soal tempat, dan waktu sampai menunggu cinta itu bermuara pada orang yang tepat”tutur Aisyah, matanya berkaca-kaca. Perasaannya mengharu-biru, sesak oleh selubung kebahagiaan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Bahkan mungkin penyair paling hebat di bumi pun tidak akan bisa menyelami kebahagiaannya ini. hanya dirinya dan Sang Maha Pemberi Kebahagiaan yang tahu kebahagiaan macam apa yang bersemayam di hatinya sekarang.

“Aisyah,,,,selamat ulang tahun, maaf Mas tidak membawa apa-apa. Mas gak sempet kemana-mana selama di Bandung. Hanya bunga itu yang bisa mas berikan”ujar Dafa sembari menunjuk bunga yang digenggam Aisyah.

Aisyah tersenyum, “Ana tidak butuh hadiah apa-apa lagi. Allah sudah mengirimkan hadiah terindahnya untuk ana, Mas adalah hadiah terindah yang pernah ana dapatkan.”

“Begitu juga denganmu, Kamu adalah warna yang paling cerah yang pernah mas lihat, bunga paling indah yang pernah mas lihat, dan calon bidadari surga tercantik yang pernah mas lihat.”ungkap Dafa.

Berdua mereka melihat langit senja kota kembang yang merah. Warna merahnya seperti bunga-bunga cinta yang tumbuh diantara dua insan yang sedang dilanda asmara itu. Bersama senja mereka menjalin harapan demi harapan, impian demi impian, sesuatu yang mereka harapkan akan terwujud. Romantisme kota Bandung membawa kedamaian yang hangat di hati keduanya. Dan sekarang hati mereka telah penuh dengan kebahagiaan-kebahagiaan yang dijanjikan Tuhannya untuk orang-orang yang jatuh cinta di jalan-Nya. Keyakinan itu semakin mengakar kuat di hati mereka, keyakinan yang harusnya juga dipahami oleh semua orang yang mengaku percaya pada janjiNya, bahwa jodoh akan bermuara pada orang yang tepat, di waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Bahwa Allah sudah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk semua orang di luar sana. There is someone for everyone out there…..

Teruntuk mujahid yang disiapkan Allah untukku,

Entah kau siapa dan dimana, tapi anganku menunggumu selalu, untuk bersama-sama mengarahkan cinta itu bermuara di keridhaanNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.